Pengalaman umroh backpacker selama 28 hari

Mencoba Umroh dengan cara ala-ala backpacker, ternyata ada serunya. Yang paling terasa adalah nominal budget yang dikeluarkan. Tentunya, biaya yang dikeluarkan jauh dibawah rata-rata kebanyakan jamaah umroh Indonesia. Bisa dibilang, pengalaman gue kali ini adalah umroh backpacker murah.



Yang sangat penting untuk para orang-orang yang ingin mencoba umroh ala backpacker adalah tiket pesawat, visa, serta hotel yang akan di tempati nantinya. Baik di Madinah, maupun di Mekkah.
Beberapa saat lalu, sempat ngobrol dengan orang yang backpacker dari Jakarta kesini. Biaya tiketnya kisaran 4 juta, pulang-pergi. Serta biaya visa, sebesar 100$. Kurang lebih seperti itu.

Pesawat berangkat dari Jakarta menuju Malaysia, untuk transit. Lalu diteruskan sampai ke Madinah. Katanya, biaya yang lumayan banyak dikeluarkan, adalah saat memilih hotel yang akan di tempati.

Kurang lebih, Umroh backpacker yang disebutkan oleh teman gue itu, yang dari Jakarta menuju ke Saudi, sama seperti biaya yang gue keluarkan dari Mesir. Biaya tersebut, berupa tiket pesawat pulang-pergi, serta visa. Sisanya, tentu saja berbeda.



Gue serta 12 orang lainnya, pergi menggunakan pesawat Egypt air, yang memakan waktu kisaran 4-5 jam. Dari Mesir menuju Madinah. Sebenernya, rombongan travel gue, mengirimkan beberapa rombongan. Dan terbagi menjadi ke 4 kloter.

Baca juga: Serunya berlibur di kota Hurgada Mesir

Kloter pertama, keberangkatan akhir bulan September. Lalu dilanjutkan, kloter kedua yang berangkat tanggal 6 Oktober. Kemudian rombongan gue yang berangkat 9 Oktober sore hari. Dan yang terakhir keberangkatan tanggal 14 Oktober.

Oh iya, sebagai catatan. Cerita temen yang gue sebutkan diatas, yang berangkat dari Jakarta kesini, menghabiskan waktu selama kurang lebih 12 hari. Di Mekkah serta di Madinah. Sedangkan gue, para rombongan Umroh Backpacker dari Mesir, kami berada di Saudi selama 28 hari.

Hal yang paling krusial saat mendarat di Madinah, ataupun di Jeddah, adalah menunjukkan tempat tinggal ke polisi yang bertugas di bandara. Mereka ini lebih cocok disebut intel sebenarnya, karena pakaiannya tidak menunjukkan bahwa mereka adalah polisi.

Kalau tidak bisa menunjukkan hotel yang akan di tempati, siap-siap saja akan mendapatkan denda yang lumayan banyak.

Baca juga: Kebahagiaan di kota Siwa Mesir

Saat kaki gue melangkahkan kaki di Madinah, rombongan gue menunjukkan bukti hotel yang akan kita tempati. Hotel bintang tiga, yang terletak tidak jauh dari pintu 15 masjid Nabawi. Rombongan gue hanya memesan dua kamar. Satu kamar di isi oleh 6 orang perempuan, serta 7 orang laki-laki, di masing-masing kamar. Jadi lebih irit kan? Terlebih lagi, biaya yang kami keluarkan, murni hanya untuk kamar, dan tidak termasuk biaya makan di hotel.

Satu kamar permalam biayanya kisaran 150 riyal. Kami hanya dua hari di Madinah. Ya, kalian bisa menghitung berapa total biaya kami selama di Madinah. Itu hanya untuk biaya hotel saja loh ya.

Hari kedua, kami berkeliling kota Madinah dengan menggunakan coaster, yang sebelumnya menjemput kami di bandara. Destinasinya berupa Masjid Quba, Kebun Kurma, serta Jabal Rumad. Tapi, kami sempat melewati masjid dua kiblat juga.





Sebenarnya, city tour ini, bisa kalian rasakan dengan menggunakan bis tingkat yang terminalnya berada di depan masjid Nabawi loh. Jadi, biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih murah.

Sore harinya, kita sudah harus berangkat menuju Mekkah. Dan tentunya, kita harus memakai pakaian ihram, karena nantinya akan melaksanakan umroh. Di perjalanan, kami berhenti di Bir Ali untuk berniat umroh, serta melaksanakan shalat sunnah.

Gue mulai sadar, kalau orang Indonesia, untuk urusan ibadah, orang Indonesia jadi juaranya. Buanyaaak banget cuy, orang Indonesia yang gue temui. Entah itu, saat pertama kali ke masjid Nabawi, ataupun di tempat miqat, di Bir Ali ini. Tapi, mungkin pandangan orang-orang Indonesia ke gue salah kaprah. Mengira, kalau gue adalah orang-orang India. Karena postur badan gue yang besar, dan muka gue yang mirip polisi India, plus memiliki kumis yang tebal.

Perjalanan Madinah ke Mekkah ditempuh selama 5-6 jam. Rombongan kami sampai di malam hari, lalu diarahkan menuju hotel yang ditempati oleh rombongan kloter sebelumnya.



Tipe hotel melati, yang biaya sewanya 65 riyal per-hari. Memilih hotel yang murah, merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan oleh para orang yang sedang melaksanakan umroh backpacker agar murah. Semakin jauh, semakin murah. Pilihannya ada di tangan kalian.

Saat selesai umroh, kami selalu mendengar teriakan ‘Sabiill!! Sabiill!!’. Lalu setelah itu, orang-orang berbaris rapi (baca:sikut-sikutan) didepan orang yang teriak tersebut. Karena melihat tontonan yang seru tersebut, perlahan kami menuju ke kerumunan tersebut. Lalu setelahnya, para orang-orang yang antri ini mendapatkan makanan gratis.




Tapi, kalau dilihat lagi, orang-orang yang mengantri ini hanya kami, para mahasiswa Mesir yang sedang umroh. Para Jamaah Indonesia lainnya, tidak ada yang mengantri seperti ini. Apakah kami heran? Tentu saja tidak. Kami lebih mementingkan perut yang kelaparan ini. Mungkin, kami ini lah contoh dari orang-orang dengan ekonomi lemah.

DASAR MISKIN!

Ada makanan gratis, sikat! Ada yang teriak ‘Sabil’, langsung disamperin. Ada yang lempar-lempar duit, ya engga ada lah gila.

Baca juga: Asiknya minum teh di tengah padang pasir

Tadi gue sempat menyinggung, kalau rombongan kami tidak mendapatkan jatah makanan di hotel. Ya wajar saja, karena biaya yang kami keluarkan sedikit. Tapi ternyata, untuk urusan perut kami tidak perlu merasa khawatir.

Berbekal nasehat dari sang pemilik travel, kita menyerahkan diri ke hotel-hotel bagus, jika merasa lapar. Saat pertama kali mencoba, tiga orang datang menuju restoran hotel. Melihat sekitar, apakah ada jamaah Indonesia yang sedang makan. Kalau ada, kita pergi dulu. Nah, saat sudah tidak ada, barulah kami beraksi.

Kami menghampiri mas-mas yang berjaga. Lalu dengan petunjuk sang pemilik travel, ucapkan kata sakti berikut ini.

“Maaf, mas. Masih ada sisa makanan? Kalau ada, boleh diambil?”

Lalu perut kami terisi banyak makanan, dan mendadak bego.

Tapi ya, emang sisa makanan dari restoran ini tuh pasti selalu banyak. Pasti! Dan kami, para mahasantri yang mengetahui hukum kalau mubadzir adalah saudara nya setan, tentu saja tidak menginginkan hal itu terjadi. Di situlah peran penting kami.

Sangat masuk akal sekali kalau kami merupakan grup umroh backpacker murah.

Bahkan beberapa saat, gue pernah ditawari untuk membawa soto yang belum dibuka sama sekali. Dan tentu saja gue mengiyakan. Mengingat rombongan gue yang kelaparan.

Sisa nasi, bungkus! Ada bakso, bungkus! Ada ayam goreng, bungkus! Ada kerupuk, bungkus! Pokoknya kami seperti enggak tau diri begitu deh. Apa aja di bungkus. Tapi memang, kalau sisa seperti ini, nantinya akan dibuang juga. Karena tentu saja di jam makan berikutnya, lauk yang sebelumnya, tidak akan digunakan lagi.

Yah, meskipun beberapa kali sempat dilihat oleh jamaah karena membawa kantong plastik besar, tapi yaudahlah ya. Mereka berhak menilai sesuatu. Dan kami berhak mengambil makanan ini. Tentu saja dengan seizin penjaganya. Bahkan, beberapa kali saat kami mengambil makanan, kami dikira pekerja disini. Mantap!




Beberapa hari tinggal di Mekkah, kami sudah mulai menikmati kehidupan disini. Meskipun badan gue sempat sakit karena perubahan iklim.

Lalu terbesit fikiran untuk mengelilingi kota Mekkah. Hal itu bisa terlaksana, karena kami mulai mendekatkan diri kepada para Tour Leader yang membawa jamaah dari Indonesia. Biasanya para jamaah ini, berjumlah 20-an orang. Hal ini membuat bis yang mereka tumpangi untuk mengelilingi kota Mekkah, menyisakan bangku-bangku kosong didalam bis. Kami? Yang mengisi bangku-bangku kosong tersebut. Umroh murah.

Jabal Rahmah


Tapi, untuk perjalanan menunu Goa Hira, yang terletak di Jabal Nur, kita menggunakan taksi untuk pergi menuju tempatnya. Hal itu dilakukan, karena kami pergi kesana saat pukul tiga shubuh. Saat udara masih sejuk, dan matahari masih belum muncul.




Goa Hira




Perjalanannya lumayan jauh, terlebih tempat trackingnya merupakan tangga yang mempunyai ukuran tinggi yang lumayan. Pas naiknya kecapean, pas turunnya gemeteran, bos!

Setelah dua minggu lebih berada di Mekkah, kami memutuskan untuk kembali ke Madinah menumpang jamaah Indonesia yang pergi ke Madinah juga. Beruntungnya menumpang bis jamaah, kita tidak harus menggunakan bis umum yang perjalanannya bisa menempuh waktu 11 jam. Padahal kalau menaiki taksi ataupun menggunakan bis jamaah seperti ini, hanya memakan waktu kisaran 5-6 jam saja.

Tempat tinggal kami berupa Dar, atau losmen. Sebenarnya Dar seperti ini merupakan pilihan bagi para orang-orang yang melaksanakan umroh backpacker dari Mesir. Karena biaya nya yang jauh lebih murah.

Satu kamar bisa di isi 6-8 orang, dengan biaya sewa seharinya sekitar 50 riyal. Jauh lebih murah, kan?
Di paragraf awal, gue menuliskan betapa pentingnya memiliki hotel. Karena Dar ini, sejatinya tidak boleh di inapi. Tidak boleh ketahuan, lebih tepatnya. Karena yang tinggal di Dar, dicurigai sebagai pekerja.

Jadi, sebagai catatan penting untuk para orang-orang yang ingin melakukan umroh backpacker adalah tiket, visa, serta tempat tinggal. Kalau di total semuanya, selama 28 hari disini, uang yang gue habiskan kurang lebih kisaran 800 dollar. Mulai dari tiket, visa, serta biaya hidup disini.

26 komentar :

  1. Baru tau gue ada yang namanya backpacker umroh. Jangan jangan backpacker haji juga ada?

    800 dolar, ternyata murah ya. Itu gak termasuk biaya makan kan? Kan elu makannya dapat dari hasil "sabil" itu ya. Hahahha ngomong ngomong sabil artinya apaan? Gratis? Astaga ditanyakan.

    Sebenarnya gue tuh cuma mau komen satu kata: SULTAN!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan backpacker. Mereka yg terjun bebas tanpa antri, lalu datang kesini. Apakah ada? Ada. Dan biasanya bakalan ketahuan, lalu dipulangkan.

      Gue msih beli makanan kok, yg mahal malah. Kan gue SULTAN!!

      Hapus
    2. Hahaha surem banget anjir kalau udah jauh-jauh terus ketahuan.

      Iya iya, pengen salim gue sama sultan.

      Hapus
    3. tapi emang ada yang kejadian kayak gitu, brey

      *sodorin tangan

      Hapus
  2. wah sabi dicoba ide bekpeker ke mekkah, 50 riyal itu berapa rupiah ya, klo di itung2 sih lumayan terjangkau juga , ah enak ga sih kulineran disana? tapi selama ada yg free kenapa tyda diambil yak :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. lumayan emang
      tapi kan dibagi sama 6 orang. jatohnya, jadi jauh lebih murah

      Hapus
  3. Biayanya benar-benar separoh harga dari berangkat umroh pakai travel biasanya dan ini berangkatnya juga lama hampir sebulan yaa

    BalasHapus
  4. Itulah ya seru dan nikmatnya backpackeran. Tapi memang harus kreatif dan berani deketin orang-orang. Skill mencari akomodasi juga diperlukan haha

    BalasHapus
  5. Tapi bg, tentunya alur jalan Umrah dari mesir ke Madinah itu beda banget dengan aku misalnya dari Riau.

    Abg bisa lebih irit ketika di sana cuman 4-5 jam udah nyampe. Lah aku? gimana? hehehehe.

    Cuman, aku seneng bisa ikut merasakan perjalanan abg, meskipun tak benar-benar merasakan. Doakan bisan nyusul, ya bg. Aminn

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa kok, kalau nyari tiket dari jauh-jauh hari. emang lumayan lama perjalanannya, tapi kalo murah, sikat aja!!

      amiiin
      semoga bisa kesana yaa!!

      Hapus
  6. Perjalanannya penuh lapar dan tantangan. Hehehe. Saya jadi ingat perjalanan tiga hari ke tempat wisata. Cuma tiga hari. Ngga kebayang sampai 28 hari. Bdw, foto-fotonya keren-keren.

    BalasHapus
  7. Ngebayangin perjalanannya keknya seru banget penuh dengan tantangan.
    Semoga bisa ngerasain juga menginjakkan kaki di tanah suci dalam waktu dekat. Aamiin...

    BalasHapus
  8. Seru banget nih umrah backpakernya, apalagi perginya rombongan dan hampir sebulan pula. Trus biaya yang dikeluarkan juga nggak terlalu mahal ya. Bisa jadi altenatif pilihan nih kalau mau umrah dengan ngeluarin biaya yang nggak terlalu mahal. Intinya kalau pengen umrah murah juga kudu penghematan ya selama di sana, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu dia
      jiwa anak kost sudah mendarah daging, dan terbawa sampai sana

      Hapus
  9. Umroh backpacker dengan harga murah kayaknya seru ya. Apalagi kalo emang ramean. Ga celingukan sendirian dan bisa diajak patungan. Hahaha.

    Jadi tertarik gue mau umroh backpacker aja rasanya. Wkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu dia
      lebih seru ramean cuuy

      sikat langsung, tiw!!

      Hapus
  10. Orang tuaku mau berangkat umroh backpacker tanggal 12 Nov ini. Semoga diberi kelancaran...

    BalasHapus
  11. Terimakasih banyaak sharingnya, ini sama sekali ngga terpiirkan sama sekali oleh saya kalau ada umroh backpacker, ternyata keliatan lebih seru, lebih menantang, dan tentunya lebih murah.

    BalasHapus
  12. Umroh backpacker :'

    Pen nangis, baru denger istilah ini. Sembari jalan-jalan, beribadah, pengiritan, ekonomis.

    Nga ngerti lagi. Backpacker yang berkelas.

    BalasHapus
  13. MasyaAllah Tabarakallah, udah Umroh aja Fauzi mana bacpackeran lagi. Seru abisss... Seru lagi kalo nanti ke sana bacpackeran sama pasangan iya kaaaan... Hehehe.

    Sukses selalu ya!

    BalasHapus
  14. Bisa lama banget gitu ya... Mantap banget nih pahalanya :D

    Itu beneran gapapa Zi satu kamar ditempatin sampe 7 orang? Di indo biasanya kan kena denda..

    Umroh backpacker kayaknya emang seru banget ya. apalagi kalo bareng temen rame2, pasti penuh kesan banget. Seru2an dapet, pahala juga dapet. Mantaap

    BalasHapus

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates