Yang datang akan pergi

Beberapa minggu terakhir ini, kehidupan gue di Mesir terasa hampa. Tepatnya, sejak ditinggalkan anak-anak rumah yang pulang ke Indonesia. Bukan sekadar liburan, tapi memang untuk pulang dan membuka lembaran kehidupan mereka selanjutnya.
‘Kok lo belum pulang, Ji?’
Percaya lah, anak kuda. Sesungguhnya gue telah berusaha, meskipun enggak maksimal. Tapi, memang kehidupan kampus seperti itu. Ada yang lancar, dan ada yang seperti gue.
Kepergian teman-teman rumah sangat terasa, karena sekarang gue jadi tidak mempunyai pelarian saat ingin ber-ghibah. Bukan hanya itu saja, temen-temen gila saat bermain game bersama pun telah pulang. Pulang, lalu tiba-tiba menikah.

Tapi, gue mulai mencoba mengerti kenapa ada orang-orang yang seperti teman gue itu, pulang-dua minggu setelahnya mengadakan resepsi pernikahan. Mungkin saja memang takdirnya seperti itu. Tapi, gue merasa sepertinya mereka melakukan hal seperti itu, karena mumpun pasangannya belum sadar, maka nikahi saja lah. Kalau sudah sadar, repot lagi kan harus mencari perempuan yang mau sama teman-teman gue yang berakhlak setan.
Setelah kepergian mereka, mulai lah berdatangan anak baru. Yang tentu saja, umurnya di bawah gue. Dan untuk pertama kalinya, setelah tinggal di Mesir, ada orang yang memanggil gue dengan sebutan ‘ustad’.
Malu? Tentu saja. Ilmu masih kosong seperti ini, untuk mendapatkan panggilan seperti itu rasanya malu dan aneh saja.
Muka mereka terlihat seperti anak-anak polos, meskipun beberapa ada yang terlihat lebih tua dari gue. Enggak juga sih, gue menuliskan hal itu supaya menyenangkan diri gue sendiri aja.
**
“Ustad, boleh nge-cas hape enggak?”
“Ustad, pintunya ana tutup ya?
“Ustad, ana mau tidur, boleh?”
Untuk satu minggu awal kedatangan mereka, gue harus membiasakan diri dengan hal seperti itu.
Hal ini mulai menimbulkan pertanyaan dalam diri gue ‘Apa emang muka gue seseram itu? Sampai segalanya harus minta izin? Bedebah’.
Tapi sejatinya. Kehidupan perkuliahan di luar negri, tidak ada yang namanya senioritas. Mau melakukan apa saja, ya silahkan. Kalau ada yang lebih tua, ya harus bisa bersikap semestinya. Itu saja.
Yang gue salut dari anak baru ini, mereka lebih terampil memasak dibandingkan diri gue saat masih anak baru. Kalau dulu gue hanya bisa memasak telur lagi, dan telur lagi, masakan mereka lebih bervariatif lagi. Dan tentu saja, sejauh ini belum ada yang keracunan saat mencicipi makanannya.
Awalnya rumit bagi gue untuk membiasakan lagi berkenalan dengan orang-orang baru. Tapi, toh sejatinya manusia memang mau ataupun tidak, ya harus bersosialisasi dengan orang-orang baru lagi, bukan? Mungkin saja, dalam kasus gue membutuhkan waktu yang lama jika dibandingkan orang-orang lain.
Yang datang akan pergi.


Dan untuk diri gue yang masih baru akan hal ini, rasanya sudah harus berdiri lalu mengatasi hal ini. Mungkin saja yang dulunya akrab, bisa jadi sekarang sudah sulit untuk bercerita. Bahkan, ketika bertemu malah bingung untuk mengutarakan kisah yang selama ini dihadapinya. Jika dulu dengan sebatang rokok serta kopi, segala cerita bisa diutarakan dan terasa melegakan dada, sekarang semuanya sudah berbeda.
Rasanya, itu semua hal wajar dan dialami oleh semua orang, bukan?
Kehidupan teman-teman gue pun mungkin akan semakin jauh lebih seru. Entah itu melanjutkan perkuliahan ke jenjang selanjutnya, atau sibuk mencari pekerjaan, dan yang lagi ramai sekarang adalah mereka menikahi seorang gadis.
Memang harusnya seperti itu sih. Mumpung, si gadis ini masih belum sadar jadi nikahi saja lah. Kalau sudah sadar, ribet lagi mencari gadis yang lain.
Enggak deng, itu becanda.
Gue pun nantinya akan membuka lembaran baru, serta bertemu dengan orang-orang baru. Seru atau enggaknya nanti, itu semua kembali ke diri kita masing-masing kan? Selagi bisa melihat ini semua sebagai bentuk pengalaman dan adaptasi dengan hal yang baru, nantinya pasti akan seru. Dan tentu saja, dengan mengurangi rasa membandingkan kehidupan yang dimiliki dengan kehidupan orang lain, juga akan menambah rasa bahagia dan menyingkirkan fikiran yang terbebani.
Yang datang akan pergi. Tapi kehidupan, jangan sampai lupa untuk dinikmati.
Kalau menurut kamu sendiri, bagaimana?
Udah ah, gue mau lanjutan selimutan lagi.

11 komentar :

  1. Duh beban banget tuh harus adaptasi lagi sama orang2 baru. Versi saya yang introver, kejadian begini tuh melelahkan sekali. Makanya saya jarang banget berurusan sama orang baru. Dibiarkan saja. Tapi hal demikian kayaknya nggak bisa dipraktikkan sama keadaan kau itu. Beda kondisi hehe.

    Biar semangat, anggap saja setiap pagi adalah momen buka lembaran baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin kalo gue yang dulu, menganggap ini beban berat sih
      tapi makin kesini, jadi sadar memang seharusnya terbuka dengan orang lain. dan bergaul dengan orang lain, termasuk soft skill dasar juga kan ya. hahah
      wish me luck!

      Hapus
  2. Yang datang akan pergi. Yang hidup akan mati. Kayaknya yang begini emang udah mutlak sih. Hahaha.

    Bebtar deh, gue bingung. Apakah kalo kuliah di mesir senior itu pasti dipanggil ustad? Ustad itu artinya guru kan ya kalo nggak salah ingat? Apakah lo dianggap guru sama mereka yang lebih muda, Ji?

    Btw, semangat! Semoga lekas menyusul teman-teman yang sudah menjalani fase baru di hidupnya. Yang penting akhlak setannya jangan diikutin meskipun setan ada dimana-mana. Apasih. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo di gontor panggilan ustad itu disematkan kepada para guru-guru yang mengajar di kelas.
      berhubung mereka ini baru lulus, dan memang wajar aja sih. karena diajarkannya seperti itu

      Hapus
  3. Izin komen ya ustad.

    Enggak usah ikutin temen-temen lo yang buru-buru nikah, Ji. Nikmatin aja dulu di sana. Kapan lagi kan bisa selimutan di Mesir. Kalau nanti lo balik ke Indonesia, susah buat selimutan lagi di Mesir.

    Semoga joke-nya nyampe ya.

    BalasHapus
  4. e tapi kenapa manggilnya ustadz si? kan cuman kakak tingkat. kok nggak AKHI? o_O

    BalasHapus
  5. Ketika ada adik-adik mahasiswa baru menemukan tulisan ini : woi, kita dijadiin bahan tulisan sama mas ustad, woi! *Nggak usah pakai mas juga, Bwambank!

    Beneran tinggal seorang doang? Temen-temen seangkatan per-asrama-an udah balik Indonesia semua? Saya doakan semoga lekas menyusul. Aamiin.

    BalasHapus
  6. Tentang muka menyeramkan itu beneran gan? Wkwkwk

    Btw aku juga ngerasain gimana gak enaknya ditinggal kawan-kawan yang udah menjejal kehidupan baru, sementara aku masih di seputar kampus aja. Masuk kelas, bikin makalah, presentasi, wkwkwk.

    BalasHapus

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates