Pernah denger game Assassin Creed?
Beberapa bulan kemarin ane sempat bermain game Assassin Creed Origin yang berceritakan tentang seorang penduduk Mesir , tepatnya di kota Siwa, bernama Bayek yang ingin membalas dendam karena anaknya telah dibunuh oleh sekelompok penjahat. Karena latar belakangnya yang bercerita tentang Mesir, rasanya hal-hal yang ada di game tersebut terasa dekat dengan diri ane yang sekarang sedang berada di Mesir juga.
Kecuali bagian naik unta.


Bakalan lama lah kalo kemana-mana harus naik unta.
Pergi ke kota Siwa menurut ane enggak akan pernah membosankan. Karena disini banyak orang yang berjualan kurma dengan harga murah, serta penduduknya yang ramah-ramah, dan tentu saja banyaknya tempat wisata yang bisa dikunjungi di kota ini. Tapi, paketan perjalanan off-road ditengah padang pasir di Siwa jadi pilihan favorit setiap kali mengunjungi kota ini.


Selain itu sebenarnya masih ada beberapa tempat lain yang asik dikunjungi seperti,



- Danau garam yang bisa dijadikan sebagai kolam renang, kalo kamu mau



- Berenang di mata air Cleopatra



- Menjelajahi bukit Dakrur yang menjadi tempat berkumpulnya para penduduk siwa



- Fathnas, kebun kurma yang bisa dijadikan tempat buat nge-teh bareng temen-temen.

Chill

Minggu kemarin, ane serta enam orang lainnya sepakat untuk mengunjungi kota Siwa dan Matruh. Berhubung ada temen pondok, Rawi, yang sedang berlibur di Mesir dan ingin mengunjungi tempat wisata di Mesir, di pilihlah Siwa sebagai destinasi liburan bareng. Rasanya perjalanan ke Siwa serta Matruh sudah cukup untuk menggambarkan negara Mesir. Padang pasir yang luas di Siwa, serta pantai yang indah di Matruh.Sepertinya sudah menggambarkan Mesir yang indah. Oh tentu saja, jangan lupa keliling Kairo serta Alexandria.



Kalau biasanya pergi kesini selalu menggunakan bis dengan rombongan yang tentunya banyak yang ane enggak kenal, karena banyak dari mereka yang lebih muda, liburan kemarin kami menyewa mobil untuk berpergian ke kota Siwa.
Jaraknya mirip seperti Jakarta-Semarang.


Setelah diperhatikan dengan lebih teliti, rasanya jalan tol di Mesir sangat berbeda dengan yang biasa ane saksikan di Jakarta. Terlebih ketika pas momen mudik lebaran. Jalanan disini jarang dilalui oleh para pengendara. Harga tiket masuk tol yang murah, jalanannya yang berukuran lebih lebar, hal-hal itu sepertinya yang membedakan jalan tol disini dengan yang ada di Indonesia.
Karena rombongan kami terdiri dan para lelaki yang tangguh, bukan seperti perjalanan ke Dimyat kemarin, segala hal harus berbau mudah serta murah. Mulai dari hotel, sampai makanan. Enggak ada lagi panitia rombongan yang mengatur jadwal kegiatan selama berada di Siwa, yang ada hanyalah kesadaran diri sendiri.

Baca juga: Pengalaman umroh backpacker
Kami sampai di hotel tepat jam 9 pagi, dan diteruskan dengan makan bersama. Oh tentunya makanan kami rasanya lumayan enak. Oke. Ralat. Sebenernya biasa aja sih, karena perut-perut kami yang kosong sama seperti otak kami jadi makanan apa saja terasa enak. Selama enggak mengeluarkan uang banyak, dan bisa mengisi perut, sudah cukup.


Untungnya si Rawi ini adalah mahasiswa Sudan, masih tetanggaan sama Mesir. Jadi kalo pun harus makan makanan khas sini sampai tiga hari perjalanan ini, masih bisa masuk ke perut. Kalo pun mulutnya enggak cocok dengan makanan sini, kami enggak peduli juga sih. Bagaimana pun juga, kami males untuk mengeluarkan uang banyak hanya untuk membeli makanan. Bayar sewa mobil juga kurang. Sedih lah pokoknya.
Di grup Whatsapp telah dikabarkan bahwa jam satu siang kami akan bersuka ria dengan menjelajahi padang pasir. Tapi karena tingkat kesadaran diri dari kami yang rendah, para rombongan baru bangun tidur ketika jam menunjukan angka setengah tiga. Kami bangga!




Diantara foto selfie lainnya ini pose paling bagus. Foto lainnya banyak yang blur. Kepala gue kesedot ketek ceritanya.

**
Di malam hari, mulai terasa efek dari murahnya hotel yang telah kami sewa. Nyamuk-nyamuk Siwa yang ukurannya enggak masuk akal mulai masuk setiap kamar. Meskipun badan ane telah tertutup rapat dengan selimut tetep aja suara bising mereka terdengar. Dan karena nyamuk ini, kayaknya ane sadar kalo diri ane masih jauh dari golongan orang-orang sabar yang mampu menahan dirinya untuk enggak mengeluarkan kata sumpah serapah.
BANGASAT KAU NYAMUK SIWA
Selain nyamuk sialan ini, sebenernya banyak kejadian mengesalkan yang terjadi hari ini. Kartu telpon tiba-tiba enggak bisa tersambung ke internet karena visa yang akan berakhir bulan depan. Kamera yang juga enggak bisa digunakan. Tapi bagaimana pun juga, harus berfikir positif. Kejadian ini enggak seburuk yang ane bayangkan.


Yah, semoga saja perjalanan ini menyenangkan buat si Rawi. Jika dilihat dari raut wajahnya ketika off road mukanya sih biasa aja, enggak menunjukan tanda-tanda kalo dia bahagia dengan perjalanannya. Tapi kalo diperhatikan lagi, memang ekspresi wajahnya seperti ini sih.