Kisah kehidupan di luar negri yang ternyata enggak enak

Pertama kali gue menginjakkan kaki di Bumi Syam, gue pernah berfikir bahwa kehidupan di sini, Yordania, seharusnya jauh lebih enak ketimbang di Mesir. Karena biaya hidup di sini mahal, jadi gue rasa enggak akan ada lagi pengalaman menghadapi air mati, listrik padam, atau pun kehabisan gas saat masak. 

Eh, ternyata sama aja.



Posisi tempat tinggal gue cukup berada di posisi strategis. Mau ke kampus, dekat. Mau ke masjid, dekat. Dari tempat makan Thailand, juga dekat. Begitu pun dengan tetangga, alias teman-teman sesama mahasiswa Indonesia. Rumahnya enggak berjauhan. Bahkan masih dalam satu gedung yang sama, hanya beda lantai saja.


Rumah gue berada di lantai 4, serta rumah tetangga kami berada di lantai berapa hayo, kamu penasaran kan?


Ga jelas, bgst


Pengalaman enggak mengenakan yang pertama.


Jadi, di saat itu sedang memasuki musim dingin. Beberapa kondisi alami yang biasanya dirasakan saat musim dingin adalah perut yang lebih sering terasa lapar. Baru makan dua jam, tiba-tiba muncul perasaan ingin mengunyah sesuatu. Tapi, harus berupa makanan. Karena kalau sarung bantal, enggak ada faedah nya juga, khan?


Kenapa enggak makanan anjing aja?

Gue gampar ya lo


Nugget sudah gue keluarkan dari mesin pendingin. Beberapa butir telur sedang gue pecahkan, dan gue taruh di satu wadah. Kompor pun sudah menyala, memanaskan minyak yang telah gue letakkan di wajan. 


Satu persatu nugget telah gue masukan ke dalam wajan. Sekarang tinggal menunggu nugget gue matang, baru gue akan memasak telur.


Ketika mata gue mengarah ke kompor, ternyata api nya perlahan mulai mengecil, dan… PUFF. Hilang.


Apakah nugget yang dimasak matang? Oh, tentu saja gue tidak tau.


Fikiran gue mulai kacau. Merasa bodoh, kenapa enggak mengecek kondisi gas rumah. Kenapa kejadian tolol seperti ini terulang lagi. Dulu saat di Mesir, gue pernah merasakan hal ini. Tapi di Jordan? Di negara mahal ini, kenapa harus merasakan hal seperti ini.


SEMPAK!


Tangan gue mulai meraih mangkok yang berisikan telur mentah. Gue tau bahwa diri gue suka olahraga angkat beban. Dan banyak orang-orang yang rutin olahraga di pusat kebugaran mengkonsumsi telur mentah. Tapi, diri gue sama sekali enggak tertarik untuk minum telur mentah secara langsung seperti ini.


Gue mulai melirik alat pemanggang roti.


Malam itu gue memakan nugget setengah matang, serta 4 telur yang gue masak di alat pemanggang roti. Merasa bodoh, tapi untung nya perut gue kenyang.


Alhamdulillah.


**



Beberapa bulan kebelakangan ini, gue mulai mempunyai suatu kebiasaan baru. Gue bisa memakan ayam goreng sebanyak 8 potong sekali makan. Tentu saja menggunakan nasi sebagai sumber karbohidrat nya. Dan hal ini mempengaruhi ke sektor lain.


Gue mulai terbiasa memakan mie instan dua bungkus dan juga telur sebanyak 8 butir. Alasannya sangat sederhana sekali, ‘Untuk memenuhi kebutuhan protein harian’. Tapi sepertinya semua itu berlebihan deh.


Untuk kasus gue, dengan porsi makan seperti itu tentu saja membuat berat badan gue naik. Tapi, perbedaan yang sangat terlihat adalah perut gue enggak sama seperti 4 tahun lalu. Di mana, saat berat badan gue menyentuh angka 100kg saat 4 tahun lalu, perut gue akan terlihat buncit. Sedangkan saat ini, perut gue terlihat rata.


Itulah salah satu nikmat olahraga angkat beban, bujang.


Sebelum gue memutuskan untuk menghentikan kebiasaan tersebut, gue merayakan dengan memakan mie instan sebanyak dua bungkus serta telur sebanyak 10 butir. Buat hari terakhir, besok-besok enggak akan lagi seperti ini.


Air yang dimasak sudah mulai mendidih. Segala bahan-bahan telah gue masukkan semua, mie instan dua bungkus, serta 10 butir telur. Dan hal yang gue lakukan selanjutnya adalah menggunting bumbu dan memasukkannya ke mangkung yang telah dipersiapkan.


Semua berjalan lancar, sampai api mulai menghilang dari kompor yang sedang gue gunakan.


Dasar Goblok, ucap teman gue yang tertembak dalam permainan PUBG.


Jaka sembung makan golok!

Kaga nyambung, Jaka!


Jemari gue mulai mematikan kompor, kemudian meraih kain dan meletakkan panci yang gue gunakan di atasnya, lalu bergegas ke rumah tetangga.


Jam 4 pagi, gue membawa panci berisikan mie instan yang belum matang, dan mengetuk pintu ke rumah orang lain. MANTAP!


Tok tok tok


Eh, ternyata salah rumah


Kaga lucu anjing


Setelah pulang dari rumah teman untuk melanjutkan memasak mie instan, setibanya di rumah, gue sama sekali enggak nafsu untuk makan. Tetapi bersih juga sih mangkok nya.


Alhamdulillah.


**


Mandi di musim dingin lumayan menyebalkan. Bahkan, yang biasa gue lakukan adalah dengan menjaga wudhu, supaya enggak perlu wudhu lagi. Karena tentu saja air nya yang dingin sekali.


Beruntungnya, penjaga rumah ini mau memasangkan alat pemanas di kamar mandi, jadi enggak perlu mikir dua kali untuk mandi di saat cuaca 4 derajat.


Pengalaman mandi menggunakan alat pemanas di rumah cukup aneh. Di saat menyelesaikan ritual buang air besar, gue akan mulai menyalakan keran shower. Menunggu beberapa saat sampai air nya berubah menjadi panas. Setelah mengukur tekanan panas, gue mulai bergegas untuk mandi.


Ritual memakai sabun serta membasuh rambut menggunakan shampoo telah selesai. Tentu saja, karena gue merupakan contoh orang yang hemat, saat melakukan hal tersebut, keran air gue matikan.


Ketika tiba saat nya untuk membilas, hal janggal mulai terjadi.


Welcome to the janggal


“Bentar deh” kata gue.


Masih membersihkan sisa sabun yang ada di badan.


“KOK AIR NYA JADI DINGIN SIH BANGKE”


Dan, yah sekarang gue mulai mikir berkali-kali untuk mandi di rumah sendiri.


**



Ternyata hidup di luar negri, enggak seindah apa yang biasa gue saksikan di video Youtube. Ternyata ada aja hal yang enggak enak. Belum lagi, tiba-tiba cinta datang kepadaku.


Kurang-kurangin deh ngelucu nya ya.


Jadi, poin penting apa yang bisa dipetik dari cerita ini?


Tentu enggak ada.


Terima kasih sudah membaca.


Mwah

5 Comments

  1. Finally! Selamat ya mas, kamu berhasil melawan rasa mager km untuk nulis lagi! Yeay!!!!

    ReplyDelete
  2. ayam delapan potong + telur delapan butir. anda siluman anakonda?

    ReplyDelete
  3. aku tunggu tulisan pengalaman musim panasnya di rumah lantai 4 ya hahaha. kamu lucunya ga ilang ilang, ditunggu ya tulisan baru nyaa besok pokoknya harus ada gamau tau ������

    ReplyDelete
  4. Lagi! Lagi! Lagi!!!!!

    ReplyDelete
  5. Tapi itu serunya mas 😄. Kalo diceritain gini, setidaknya jadi ada bayangan kalo hidup di LN ga berarti enak2 aja. Kalo buat liburan mungkin asyik... Tapi coba rasain beneran tinggal di sana, apalagi yg budaya dan musimnya jauh beda 🤣.

    ReplyDelete

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!