Pengalaman aneh memotong rambut di Yordania

Saat gue di Mesir, gue merasa bahwa tempat cukur di sana terbilang aneh. Karena ada beberapa hal yang enggak pernah gue temukan sebelumnya di Jakarta, tapi di Mesir merupakan hal yang sangat lumrah terjadi. 

Contohnya adalah setelah rambutnya telah dicukur, mereka akan diolesi menggunakan masker berwarna putih di seluruh wajah nya. Persis seperti anak kecil yang dipakai kan bedak oleh orang tua nya seusai mandi.


Eits


Tapi, bukan hanya itu saja.


Setelah mereka, orang Mesir, menggunakan masker berwarna putih tersebut, mereka akan memberikan sejumlah uang kepada tukang cukur, lalu bergegas menuju motor milik nya dan mengendarai nya. Sambil masih mengenakan masker berwarna putih di muka nya. Goks!


Apakah gue tertarik untuk mencoba hal tersebut? Ga!


Baca juga: Krim wajah pria Mesir


**


Hal aneh lainnya pun gue temukan di tempat cukur di Yordania.


Di tahun 2020 lalu, gue sempat merasakan rambut panjang. Meskipun banyak rintangan, terutama orang tua yang selalu menyuruh gue untuk mencukur rambut saat video call, gue lumayan hepi dengan rambut yang gue miliki di saat itu.


Baca juga: Perjalanan menuju rambut gondrong






Pengalaman pertama memotong rambut di sini, sangat buruk. Mungkin saat itu, tempat cukur yang gue datangi mempunyai alat yang kurang memadai. Hasil potongan nya pun juga sangat cewe sekali. Sesaat gue sampai rumah, setelah memotong rambut, gue merasa diri gue seperti Yuni Sara. Dan berujung, gue meminta teman gue untuk memotong rambut gue untuk kedua kali nya di hari yang sama.


Berbekal dengan pengalaman tersebut, seharusnya gue mempercayai teman gue untuk memotong rambut lagi. Tapi karena gue masih penasaran dengan tempat cukur lainnya, gue memutuskan untuk memotong rambut di tempat cukur.


Tempat cukur yang gue datangi kali ini mempunyai ruangan yang lumayan luas. Enggak seperti tempat cukur yang pertama, di tempat ini lumayan banyak orang yang mengantri untuk memotong rambut.


Mata gue tertuju ke pria yang sudah lumayan berumur. Entah kenapa, gue merasa mencukur rambut ke orang yang umur nya jauh lebih tua dari diri gue, memiliki peluang besar mendapatkan potongan rambut yang bagus. Ketimbang yang umur nya masih sepantaran dengan gue.


Bisa jadi orang yang seumuran gue ini baru belajar, masih banyak potongan rambut yang dia ingin coba, dan gue sebagai pelanggan merasa sebagai korban. Meskipun gue tahu, hal tersebut salah besar. Karena tukang cukur hits yang ada di Jakarta, usia nya masih muda-muda.


Tapi kenyataannya, yang mencukur rambut gue adalah orang yang sepertinya masih seumuran dengan gue. Lumayan panik, tapi tetap terlihat kalem.


Setelah memberikan refrensi potongan rambut yang gue inginkan, mas-mas tukang cukur ini memulai memotong rambut gue.


Di pertengahan gue sudah merasa pasrah. Gue sudah memikirkan kemungkinan buruk. Yaitu hasilnya jelek, dan gue memotong rambut lagi di tempat teman.


Saat gue melihat kesamping, pelanggan lainnya, yang memotong rambut nya berbarengan sama diri gue sudah selesai. Makin panik dong ya.


Kalian pernah ngerasain gitu enggak sih?


Ketika melakukan sesuatu secara bersamaan dengan orang lain, tapi ternyata orang lain selesai terlebih dahulu dibandingkan diri kalian?


Beberapa pertanyaan mulai timbul di kepala, seperti ‘Harusnya rambut gue dipotong sama bapak-bapak itu. Kenapa sama mas-mas ini sih?!’ ‘Duh temen gue sibuk ga ya, kayaknya gue bakalan motong lagi sama dia deh’ ‘Lah kok muka gue jadi Yuni Sara sih?’.


**

Secara mengejutkan ternyata hasil potongan rambut nya bagus.


Kurang lebih seperti di foto ini,





Tapi hal aneh mulai terjadi setelah nya.


“Apakah sudah puas dengan hasil potongan nya?”

“Iya nih, Mas. Bagus juga”

“Nah, bagus kan. Sekarang kamu cuci rambut dulu di sana”

“Gimana, Mas?”

“Iya kamu cuci rambut di wastafel ini. Air nya bisa diatur panas dan dingin nya ya”

“Ah… gimana?”


Fikiran gue terbang saat diri gue di Jakarta. Kayaknya ada kursi khusus gitu buat mencuci rambut. Ini gue lagi dimana sih? Ini gue siapa sebenernya weii???


Seusai mencuci rambut menggunakan shampoo yang telah disediakan, mas-mas tukang cukur ini menyuruh gue untuk duduk lagi. Dia mengambil hair drayer dan mulai menata rambut gue agar terlihat rapi.


Tapi enggak rapi. Bgst.


“Bagus kan?”

“Ah iya”

“Mau foto-foto dulu?”

“Gue mau pulang”




Hasil styaling nya, berdiri seperti itu. Kenapa gue jadi tokoh hero di street fighter sih elah.

Sepanjang perjalanan gue memegangi rambut, menyisir menggunakan jari, berharap rambut yang telah si mas-mas ini stayling kembali ke bentuk sewajarnya.


**


Sepertinya pencarian tempat cukur rambut masih belum selesai. Kira-kira rambut gue diapain lagi ya sama tukang cukur di sini?


Kamu pernah mengalami hal seperti ini?

2 Comments

  1. Gapapa, biar multitalent kalo palanya di bawah bisa sekalian jadi sapu..

    ReplyDelete
  2. 不不不不不 aku ga bisa ngebayangin hasilnya kayak Yuni Shara mas ..

    Setelah baca kebiasaan di Mesir potong rambut pake acara ngebedakin muka, aku jadi ngerti kenapa anak asuhku yg aku sekolahin ke Mesir ga pernah potong rambut 不. Bisa jadi Krn alasan ga mau dibelain itu kali yaaa . Dia pernah cerita sih kalo potong rambut palingan Ama temen2nya aja.

    Akupun nemuin tempat potong rambut itu udah kayak nyari jodoh. Susaaaaah bangetttt. Kdg udah cocok Ama hairdresser yg A di salon Tertentu, suka tuh. Tapi bbrp bulan kmudian diserve Ama hairdresser berbeda masih salon yg sama, hasilnya LGS bikin emosi .

    Dulu pas kuliah di Malaysia aja aku ga pernah mau ke salon. Motong rambut hanya kalo balik ke Indonesia. Selain mahal, males aja kalo hasilnya bikin sedih.

    ReplyDelete

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!