Perbedaan kuliah di Al-Azhar Mesir dan Jordan


Beberapa hari yang lalu, telah keluar hasil pengumaman tes ujian masuk kuliah/SBM. Ada yang bahagia karena diterima oleh kampus yang diinginkannya, ada juga yang bersedih karena belum diterima, dan ada juga orang yang bangga akan kelulusannya lalu mengejek orang-orang yang belum berhasil lulus.

Manusia dengan kelakuan nomer tiga itu, emang kelakuannya ngehe aja sih.

Untuk bisa naik ke tempat tingi, enggak perlu merendahkan orang lain juga kan?

Gue sendiri, enggak pernah tau rasanya mengikuti ujian seperti itu. toh, dulu pergi ke mesir melalui depag. Yang ujiannya terdiri dari hafalan Al-quran, serta pemahaman akan dasa-dasar pelajaran bahasa arab. Berupa Nahwu, Sharaf dan juga Balaghoh.

Untuk cara kuliah di Jordan, mungkin akan gue tulis di minggu selanjutnya ya!

Jordan

Mesir


**

Sudah masuk bulan ketiga, gue berada di Jordan. Dan sepertinya, gue mulai tau beberapa perbedaan yang ada antara kampus di sini dan juga perkuliahan di Mesir.

Saat pertama kali gue menginjakkan kampus di sini, perbedaan yang paling jelas adalah dari jumlah bangunan kampusnya. Ekspresi muka gue saat berkeliling kampus pertama kali menunjukkan ekspresi kagum luar biasa.

Em... lebih ke norak sih sejujurnya.

Karena buanyak banget gedung nya coy!

Sebenernya enggak jauh berbeda dengan kampus yang berada di Indonesia. Tapi, karena gue pernah merasakan perkuliahan di Mesir, hal ini jauh berbeda.

Kebanyakan para mahasiswa di Al-Azhar Mesir mengambil jurusan Syariah Islamiyah dan Ushuludin. Dan beberapa orang ada yang mengambil jurusan Bahasa serta Dirasat Islamiyah. Sedikit sekali ada yang mengambil jurusan umum seperti kedokteran di kampus Al-Azhar Mesir.

Para mahasiswa Indonesia di Mesir yang mengambil jurusan umum itu lebih banyak berkuliah di kampus Cairo University atau pun Ainu syams. Jadi, memang orang-orang yang berkuliah di Al-Azhar Mesir mereka itu mengambil jurusan agama.

Gedung fakultas Syariah, Ushuludin dan Bahasa berada di satu kawasan yang bernama Darassa. Apakah luas tempatnya? Tentu tidak, anak kuda!

Berbeda dengan mahasiswa jurusan Dirasat, yang gedungnya berada di kawasan Hayu Sadis. Tempatnya luas. Karena digabung dengan para calon mahasiswa yang masih mengambil kelas bahasa.

Mesir


Padahal mahasiswa baru dari Fakultas Syariah dan Ushuludin saja mencapai ribuan. Mungkin ini juga alasan kenapa di Al-Azhar itu para mahasiswanya enggak ada peraturan absensi.  Karena kalau semua mahasiswanya masuk semua, ruangannya tidak cukup.

Biasanya hal ini ditemui saat sebulan menjelang ujian.

Tapi, hakikat seutuhnya menjadi mahasiswa Al-Azhar itu bukan hanya berkuliah di kampus.
Yang diajarkan oleh senior gue seperti itu.


Ada sebutan Jami dan Jamiah bagi mahasiswa Al-Azhar Mesir.

Jami, maksudnya adalah Masjid.

Jadi para mahasiswa di Mesir, harus belajar langsung dengan para masayikh yang biasanya mengajar di masjid. Mulai dari pelajaran afsir, ahsin, Hadits, dan masih banyak lagi yang lain.

Kemudian, Jamiah yang berarti kampus.

Sepengetahuan gue sih seperti itu loh ya.

Rasanya kurang afdhol gitu, kalau hanya kuliah di kampus saja. Sedangkan enggak mengaji langsung kepada masayikh Azhar.

Dan tingkatannya pun juga ada. Jadi, kalau memang masih baru, senior-senior nantinya akan menyarankan untuk mendatangi majlis yang diajarkan oleh syekh A, misalnya. Kalau ingin belajar Hadits, akan diarahkan ke syekh B.

Yang diajarkan pun,bukan hanya satu madzhab saja. Semuanya dipelajari. Jadi, meskipun beberapa hukum furui nya berbeda, pedomannya selalu dari Al-Qur’an dan Hadits.

Enggak akan ada tuh, yang antara golongan saling mencaci-maki.

Karena yang diajarkan oleh para masayikh tidak seperti itu.

**

Selain gedungnya, sistem pelajarannya pun berbeda. Di Jordan, semuanya sudah secara online. Di Al-Azhar Mesir semuanya masih serba manual.

Saking manualnya, kalau ingin membuat kartu pelajar harus antri dari pagi.

Beberapa saat lalu, bahkan ada yang datang setelah shalat shubuh, sebelum gerbang kampus dibuka. Lalu harus menunggu sampai jam 9 pagi, untuk mengurusi segala administrasi kampus. Mantap, kan?


**

Sampai sekarang, gue merasa bahwa ujianAl-Azhar itu paling mantap. Soal-soal yang diujikan, biasanya enggak tertebak.

Ada yang masuk ruang ujian dan mengerjakan soal, tapi ketika tiba waktunya nilai keluar dia dinyatakan ghoib. Atau enggak datang saat ujian.

Dan ada yang sengaja enggak datang saat ujian, tapi malah nilai nya keluar.

Memang hal ini enggak setiap saat terjadi sih, tapi pernah kejadian seperti itu.

Saat temen gue yang dinyatakan ghoib tersebut mengadukan hal ini ke bagian kampus, yang jaga pun angkat tangan.

“Maalesy dawah”

Katanya seperti itu.

Setiap mahasiswa enggak boleh ada yang nilainya jelek dari dua pelajaran. Jika lebih, maka dia harus mengulang selama setahun.

Jadi, misalnya tahun ini ada tiga pelajaran yang nilainya jelek, maka tahun berikutnya dia harus mengulang tiga pelajaran tersebut, dan tidak boleh meneruskan ke tingkat selanjutnya.

Tapi, dalam satu tahun setiap mahasiswa hanya mengikuti dua ujian saja. Saat musim dingin dan musim panas. Yang biasanya, ujian ini sering disebut sebagai ujian termin satu dan termin dua.

Berbeda dengan kampus gue yang sekarang. Yang di satu semesternya mempunyai ujian sebanyak tiga kali.

Jadi, karena kebiasaan di Mesir dulu yang lebih sering rebahan dan mulai belajar sebulan sebelum ujian berlangsung, di sini gue harus setiap saat menggunakan dan memaksimalkan fungsi otak gue. Lumayan kena kejutan kecil gitu deh. 

Tapi,untunya hanya di Al-Azhar Mesir saja yang mempunya ujian lisan di tiap termin dua nya, sedangkan di sini enggak ada.

Dari segala perbedaan yang gue tulis di atas, satu hal yang sama adalah di sini enggak ada skripsinya.

Ehe

**

Berhubung segala aktifitas dilakukan dari rumah saja, hal ini pun berpengaruh terhadap perkuliahan gue. Entah ini hanya menurut gue saja, atau banyak orang yang merasakannya, rasa kuliah secara online itu berbeda dengan secara bertemu bertatap muka langsung dengan para dosen dan juga teman satu kelas.

Semoga saja semuanya segera kembali seperti semula lagi.

Amin.

Jangan lupa untuk jaga kesehatan ya!!

https://giphy.com/


**

Semoga saja tulisan gue membantu kalian yang ingin berkuliah di Mesir atau pun di Jordan ya!!

Jadi, apakah minat untuk lanjut di sini?


8 comments :

  1. bentar... itu gimana ceritanya yang datang ujian nilainya ghoib, tapi yg gak datang malah keluar nilainya?

    saya mau kuliah di Konoha saja.

    ReplyDelete
  2. Nggak ada aturan absensi, soalnya kalo masuk semua ruangannya nggak cukup. Sungguh aturan yang wow sekali. :))

    ReplyDelete
  3. Kalau gak ada skripsi, jadi penentu kelulusannya gimana Ji? Ujian gitu aja ya?

    ReplyDelete
  4. Kasihan sekali itu yang dianggap ghoib. Tau gitu mending nggak usah ujian sekalian huehehe kali aja tetap dapat nilai~

    ReplyDelete

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates