Selain faktor bahasa, perbedaan yang paling jelas antara mahasiswa yang kuliah dalam negri dan luar negri adalah mengurusi perpanjangan visa. Beruntung gue tinggal di zaman sekarang, dari cerita-cerita yang gue dengar dari orang-orang yang kuliah disini terdahulu, mereka rela untuk tidur di depan kantor imigrasi sehari sebelumnya, agar bisa menyelesaikan urusannya dengan cepat. Bagi orang-orang yang datang setelah sholat shubuh, kemungkinan besar tidak akan bisa mengurusi perpanjangan visa di hari itu. Sadis ya?
Tapi yang lebih nyesek sih, ketika seseorang yang sudah rela tidur di depan kantor imigrasi, kemudian ketika tiba gilirannya, kemudian dengan santainya sang petugas mengatakan,
Bukroh yaa walad”
Artinya,
“Besok aja ya, nak. Sekarang  udah azan nih. Pucing pala belbie. Mau bobo cantik dulu”
Padahal antriannya melebihi antrian pembagian sembako. Dan ketika sudah berhadapan dengan petugasnya, disuruh dateng besok. Kambing banget kan? Minta di lemparin tombak kan?
Alhamdulilllah, kayaknya zaman gue saat ini nggak perlu sampai bikin kemah juga sih, untuk memperpanjang visa. Tapi tetep sih harus dateng pagi-pagi, kalo nggak mau di gituin sama petugasnya.
**
Jadi, senin pagi kemarin, gue berencana untuk memperpanjang masa visa. Walaupun sebelumnya gue nggak bisa tidur, tapi gue udah bertekad agar bisa menyelesaikannya di hari itu juga. Kalo udah selesai, gue yakin akan bisa tidur lebih pulas dan lebih damai. Tapi terkadang sebelum mau tidur, gue jadi ke-inget dengan si ‘dia’. “Kamu disana baik-baik aja kan? Udah nggak sering ngupil lagi kan? Kalo ada yang godain kamu, kamu pukul aja. Pake meja belajar ya”.
Oke, FOKUS!!

Berhubung kantor imigrasi letaknya cukup jauh dari rumah, sehingga gue berangkat lumayan pagi. Jam setengah tujuh, gue sudah selesai mandi. Ini rekor baru. Iya, rekor baru. Karena biasanya di jam-jam ini, gue akan ditemukan tergeletak diatas kasur dengan kondisi mata tertutup, tapi tetep unyu kok.
Hari itu gue ditemani oleh salah satu teman gue yang cukup senior, Hamdi. Entah niat dia kesini untuk belajar ilmu agama atau ilmu tata boga, yang jelas dia lebih memilih masak-memasak. Tapi gue bersyukur sih, karena ada yang suka buat teh di pagi hari. Dapur rumah terlihat lebih rapi, dan terkadang banyak makanan enak yang tersedia diatas meja. Meskipun makanan itu belum terjamin kebersihannya sih ya. Tapi setidaknya bisa mengenyangkan perut lah. Kemungkinan buruknya, yaah paling hanya kejang-kejang sebentar. Alhamdulillah, belum sampai ada yang kejang-kejang, ketika memakan masakannya Hamdi.
Mungkin kalo ada yang bertanya,
“Hamdi, sebenernya tujuan lu kesini buat apa sih?”
“MAU JADI BAJAK LAUT!!”
“Seriusan gue?”
“Gue serius, njiir”
“Gue gampar nih. Tujuan elu kesini sebenernya mau jadi apa?”
“Jadi bajak laut. Kayak Sanji gitu, jago masak”
“SEMERDEKA ELU AJA BODO AMAT”
**
Sesampainya di kantor imigrasi, sudah banyak orang-orang mengantri di dalam ruangan. Hari itu memang jadwalnya untuk orang Indonesia, Malaysia dan Rusia. Beruntung gue mendapatkan antrian yang nggak panjang-panjang, nggak pendek-pendek juga. Sedang lah. Rejeki anak sholeh banget emang dah ah.
“Ini yang di foto copy, apaan aja dah?”
“Paspor aja udah. Foto bawa kan?”
“Foto keluarga? Foto bareng pasangan? Gue nggak ada tuh yang sama pasangan”
“Pas foto, kambing. Elu jadi jomlo, jangan ngenes-ngenes gitu juga, cuk”
“yee maap”
Pembagian tugas pun dimulai. Gue yang antri, si Hamdi tiduran di pojok ruangan. Agak sedih juga sih, karena harus antri sendiri, sedangkan temen gue yang lainnya, asik tidur di dalam kantor. Tapi, yah karena memang ini paspor gue, ya harus antri sendiri.
“Eh, ini beneran Tasdiqnya? Kok beda?” kata senior gue lainnya.
“Gue kemarin dikasihnya kayak gitu kok”
“Oh, yaudah”
Petugas yang berjaga hari itu hanya ada satu orang, perempuan pula. Dan dia harus melayani antrian cowok dan cewe. Yang lebih bikin kesel, dia lebih memilih antrian cewe ketimbang mengurusi antrian cowo. Dua orang cewe, setelah itu baru cowo. Jadinya nggak heran, antrian cewe yang sebelumnya lebih panjang, malah lebih cepet selesainya dibandingkan barisan cowo.
Mau ngatain tapi ntar dosa. Huffft.
Kesabaran gue pun akhirnya berakhir. Hanya dua orang lagi yang berdiri didepan gue, dan setelah itu tibalah giliran gue. Tapi walaupun seperti itu, gue tetep harus bersabar karena si ibu-ibu petugasnya terlihat kecapean. Sesekali dia jalan menuju meja temannya, ngobrol sebentar, kemudian mengambil gelas yang telah berisikan teh hangat, diminumnya. Tangannya cepat, mencomot makanan ringan di meja temannya yang lain.
Agak penjahat sih, tapi sepertinya dia lapar.
Giliran gue pun tiba.
“Bukan ini kertas tasdiqnya. Salah” Teriak petugasnya.
“Lah, kemaren gue dikasihnya yang kayak gini, bibi”
“Bukan. Kertas tasdiq itu bayar lagi. Kamu bayar nggak?”
“Kemarin saya nggak disuruh bayar”
“Salah kamu. Sana minta dulu”
“Ta... ta... tapi, bibi”
“Yak, selanjutnya”

Perjuangan gue mulai berangkat pagi-pagi, kemudian antri panjang-panjang, dan berakhir dengan penolakan oleh ibu-ibu petugas, nyesek. Asli nyesek. Tapi nggak apa-apa, ini sebagai pelajaran. Supaya besok-besok gue memang harus bawa tombak ataupun meja belajar. Kalo si ibu-ibu ini nolak lagi, bisa gue ancem nantinya. 
Semoga derita seperti ini, cepat terselesaikan oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya. Terutama gue. Amin.