Renungan di malam hari
Sekarang ini, gue sedang duduk tepat di tempat hits para mahasiswa Indonesia yang, beruntung, kuliah di Mesir. Tempatnya sederhana kok. Hanya toko yang menjualkan beraneka ragam jus dari buah-buahan. Tapi entah kenapa, tempat ini menjadi salah satu tempat ternyaman untuk ketawa bareng teman-teman, kumpul-kumpul kepanitiaan, sampai tempat untuk menyendiri memikirkan hal-hal yang telah terjadi maupun yang belum. Ditemani satu gelas jus alpukat plus eskrim coklat yang belum dicicipi sama sekali, gue sedang duduk sambil sesekali menggosokkan kedua telapak tangan. Pandangan gue tertuju ke langit, tanpa bintang, hanya bulan yang dilewati oleh awan-awan. Apa hidup gue sama halnya seperti bulan itu ya? Sendiri, tanpa ditemani oleh bintang-bintang. Sendiri, dan hanya dilewati oleh awan-awan yang se-enaknya saja jalan. ‘ Haaaah… kenapa hidup gue gini amat sih? ’ Terkadang gue benci dengan salah satu kebiasaan yang gue miliki. Membuat orang lain untuk tersenyum kembali, membuat orang lain me...