Minggu depan, aktivitas perkuliahan kembali dimulai. Menakutkan? Nggak sih sebenernya. Kuliah disini terserah setiap individunya masing-masing. Ingin masuk setiap hari, silahkan. Nggak masuk kuliah sama sekali dan hanya mengikuti ujian saja, boleh-boleh aja. Enak ya? tapi jujur deh, gue lumayan takut juga sih ke depannya nanti, kalo sudah kebiasaan diberi kebebasan seperti ini. Takut nantinya, gue jadi terlalu santai. Ketika sudah diterima kerja, bukannya masuk dan sibuk dengan tugas yang diberikan atasan, gue malah santai di rumah kemudian makan ketoprak dua bungkus sambil main PES. Ngomongin ketoprak, gue jadi kangen pacar orang makanan-makanan rumah deh.
Tapi semoga nggak begitu-begitu amat lah ya.
Kedatangan anak-anak baru kemarin, membawa keberkahan tersendiri untuk senior seperti gue. Ketika malam hari dan di rumah tidak ada makanan, dengan langkah semangat gue akan berjalan ke arah rumah anak baru. Nikmat rasanya, ketika mengetahui arah perut gue. Maksud gue, sungguh amat nikmat rasanya ketika gue tau harus dibawa kemana perut ini. Nggak ada lagi ceritanya tuh, gue sedih karena perut protes minta diisi tiap dua jam sekali. Walaupun belum tentu ada makanan disana juga sih, tapi setidaknya gue berfikiran positif. InsyaAllah dapet. Kalo seandainya anak-anak baru kemarin mahram gue, bakalan gue cium tuh.
Tapi, yah... namanya juga seandainya.
Melihat anak-anak baru yang semangat belajar, membuat gue bercermin kepada diri sendiri. Seraya akan mengatakan,
“Gila, masa iya gue kalah sama junior”
“Harus semangat lah. Kalo gue nggak belajar, terus mereka nanya-nanya gue, mau jawab apa?”
“Tapi kalo mereka nanya, dimana jodoh gue, gue mau jawab apa?”
“Kayak mereka punya pacar aja, hih”
“Tapi kayaknya sih banyak yang punya”
“Kalo ada yang berani ngatain gue jomblo, gue tombak orangnya”
“Eh, tapi kalo mereka beneran ngatain gue jomlo, gue kan sensitif. Nanti gue yang sedih dong”
“KYAAAA..... KYAAA.. KYAAA”
Bentar.
KAMBING. KENAPA TULISANNYA JADI ALAY AMAT DAH ELAAAAH.
Kedatangan anak baru kesini, membuat fikirin gue lebih manusiawi sih. Alhamdulillah, berkat kedatangan mereka gue nggak berniat lagi membahas tentang orang-orang terdekat gue mulai pergi lah, atau tentang mereka lebih asyik dengan teman-teman baru mereka lah. Yah, mungkin benar juga sih dari apa yang gue baca,
‘Kalo bukan kamu yang meninggalkan, berarti kamu yang akan ditinggalkan’.
Gue nggak tau sih, itu tulisan siapa. Tapi sepertinya gue mulai percaya dengan kata-kata itu. Yasudahlah, cukup buat gue terlalu peduli dan sibuk memikirkan orang lain. Niatnya ingin membantu, malah berakhir seperti dimanfaatkan kemudian ditinggalkan. Sebelumnya gue nggak ingin mempercayai kata-kata tersebut, tapi bukti nyatanya telah gue alami kok.
Ketika berpapasan dengan seorang teman, yang sudah gue anggap seperti sahabat sendiri, toh bukti nyatanya orang itu tidak akan pernah menyapa duluan. Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi sering. Rajin banget ya gue, sampai dihitung seperti itu.
Sudah lah, kewajiban gue saat ini hanyalah belajar yang benar, menjadi lebih baik dan fokus untuk membanggakan kedua orang tua. Untuk mereka yang mulai pergi-pergi, sudahlah nggak apa-apa kok. Nama kalian selalu gue sebut disetiap doa.
Mau tau nggak, bunyi doanya seperti apa?

Seperti ini nih,
“Ridhai lah kami(orang-orang terdekat gue) dalam menuntut ilmu, jadikan ilmu kami bermanfaat nantinya, permudahlah kami dalam menuntut ilmu, jadikanlah kami hambaMU yang menuruti perintahMU. Jika hamba bukan sahabat baik untuk mereka(orang-orang terdekat gue), berikan lah mereka sahabat-sahabat yang baik, yang bisa membawanya ke jalanMU”.

Tenang, gue nggak sampai setega itu kok, untuk mendoakan hal-hal buruk kepada kalian.
**
Sorry sebelumnya nih. Asli, mungkin ini tulisan ter-random yang pernah gue bikin. Maapin yaak. Karena minggu kemarin sibuk mengurusi kepanitia-an, jadinya ya kaku lagi nulisnya. Semoga kedepannya bisa lebih asik lagi tulisannya.
Sini peluk dulu laah....