Fenomena salat di masjid

Apakah sejatinya pengalaman salat berjamaah di masjid untuk makmum laki-laki berbeda dengan jamaah perempuan?

Dari yang gue pelajari, ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah. Dan salah satunya adalah lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid. Tetapi gue masih penasaran, apakah para makmum perempuan pernah merasakan fe-no-me-na yang sama dengan para makmum laki-laki?

Mungkin, salah satu rutinitas yang gue dapatkan ketika tinggal bersama orang tua adalah dengan meningkatnya kehadiran diri gue untuk salat berjamaah di masjid.

Faktor utama nya adalah rumah gue yang bersebelahan dengan masjid. Dan tentu saja, peranan Ibu negara yang selalu suka berteriak kepada anak laki-lakinya ini. Padahal saat di Mesir aja, gue baru berangkat salat Jum’at saat khutbah kedua.

 Baca juga: Peristiwa di hari Jumat

Enggak bisa dibanggakan juga sih sebenarnya ya.

Bukan hanya menyuruh ke masjid saja. Mulai dari cara membangunkan dari tidur, menyuruh makan, masang gas, ke warung untuk beli kacang tanah.

Gue tau kalau Ibu negara satu ini adalah mantan anggota grup kosidah. Tapi, sepemahaman gue enggak ada lagu kosidah yang teriak-teriak tuh. Apa jangan-jangan grup kosidah nya membawakan lagu nya Slipknot? Enggak mungkin, kan? Bener dong??

**

Berbeda dengan negara yang pernah gue kunjungi, salat berjamaah di Indonesia punya ciri khas nya tersendiri.

Memakai sarung, mengenakan peci berwarna hitam, pundaknya tertutup dengan sorban, beberapa orang mengendarai sepeda motor.

Bukan berarti di tempat yang gue kunjungi, di negara Timur Tengah, orang-orang nya menggunakan unta saat pergi ke masjid. Bukan, bukan itu.

Di Mesir contohnya.

Sangat tidak menutup kemungkinan, mas-mas yang mengenakan kaus polos serta celana training untuk menjadi Imam. Sedangkan di sini kan enggak seperti itu.


**

Salat Dzuhur yang dilakukan pada siang hari, dilakukan dengan keadaan sunyi. Imam serta jamaah, membaca bacaan shalat dengan tidak lantang.

Dari Ma’mar , ia berkata: Aku bertanya kepada Khabbah,

“Apakah Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca dalam shalat Dzuhur dan Ashar?” beliau menjawab, “Ya.” Kami bertanya, “Bagaimana kalian mengetahui hal itu?” beliau menjawab, “dengan gerakan janggutnya.” (HR. AL-Bukhari dan selainnya)

Nah, tapi gue pernah merasakan hal yang berbeda nih.

Saat melakukan takbir, gue akan mulai berusaha memfokuskan diri dengan bacaan salat, dan memang itu yang dilakukan, bukan?

Ketika shalat Dzuhur dan Ashar bacaan salat dibaca secara tidak lantang. Tapi tetap dibaca.

Sebenernya jadi luas lagi sih, untuk mengartikan dari membaca. Tapi pengertian dari hadits yang sebelumnya, maksud dari membaca adalah ketika kita menggerakan lisan dan kedua bibir, sehingga mengeluarkan suara, meskipun hanya terdengar oleh yang membacanya saja.

Beberapa saat kemudian, muncul lah laki-laki paruh baya.

Bacaan nya terdengar seperti mendesis. Membaca Bismillah dengan cukup nyaring, sehingga jamaah lainnya bisa mendengar. Lalu, sisa nya enggak terdengar.

Harapannya sih, semoga ini hanya terjadi ketika takbir. Tapi, ohhh tentu saja enggak begitu, bujang.

Saat mulai hening, tiba-tiba dia mulai bersendawa, ‘’AAGHHH” dan ternyata hal ini dilakukan secara berulang-ulang. Mau bilang, “Wah, sarapan nya sama nih. Nasi uduk” Tapi kan enggak mungkin.

Suara sendawa yang berulang-ulang ini, persis hal nya saat gue menonton orang yang sedang dikerokin punggung nya karna masuk angin.

“AAGGHHH”

Ceritanya itu, bunyi sendawa ya. Bukan kesurupan.

Begitu juga dengan saat rukuk. Bacaan Subhana nya nyaring, lalu sisanya enggak terdengar.

Kemudian saat bangun dari rukuk, bacaan Rabbana walakal hamdu nya nyaring, lalu sisanya enggak terdengar. Ditambah lagi saat orang ini menguap. Beuh kenceng banget. Pengen nyeletuk, “Capeee benerrr nih kayaknya, Ndan?!!”  atau “WEEIITSSS. Hampir kehirup kepala saya nih, Ndan. Hehe” Tapi kan enggak mungkin, karena sedang shalat.

Sama seperti saat rukuk, ketika sujud pun seperti itu. Bacaan Subhana nya nyaring, lalu sisanya enggak terdengar.

Lalu ditutup dengan, duduk tahiyat. Bacaan Atahiyatu nya kenceng, lalu sisa bacaan nya enggak terdengar.

Penjelasan yang sebelumnya, tidak sah jika bacaaan salat hanya diucapkan dalam hati. Perkataan tidak mungkin terwujud kecuali dengan menggerakan lisan serta kedua bibir.

Dalam penggalan firman Allah di surat Al-Isra ayat 110 yang artinya,

"Dan janganlah Engkau (Muhammad) mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu"

Menurut gue, laki-laki sebelah gue ini kok agak berlebihan ya.

Dan juga, lagi-lagi menurut akal gue yang cetek ini ya, bukankah seharusnya menahan untuk menguap atau pun sendawa ya? Kalau batuk atau bersin, gue cukup memaklumi sih jika suaranya sampai terdengar. Tapi untuk sendawa atau pun menguap... uhm, enggak harus seluruh jamaah denger juga, kan?

Kalau menurut lo gimana?


Dan semua itu dilakukan oleh orang ini di setiap rakaat nya.

Apakah shalat gue khusyuk? Ya tentu enggak dong.

Fikiran gue bercabang. Antara kesal, dan ingin cepat-cepat selesai. Tetapi yang paling penting, apakah benar kita sarapan nasi uduk di tempat yang sama?

Enggak penting banget jingan.

**

Nah, jadi apakah para jamaah perempuan saat salat jamah di masjid pernah merasakan hal yang gue ceritakan barusan?



***

Ref:

https://www.islampos.com/membaca-bacaan-shalat-hanya-dalam-hati-sah-shalat-nya-105202/

https://muslimah.or.id/7618-bolehkah-membaca-al-quran-dan-bacaan-shalat-dalam-hati.html

https://bincangsyariah.com/ubudiyah/membaca-bacaan-shalat-hanya-dalam-hati-apakah-shalatnya-sah/


3 Comments

  1. Fenomena orang bersendawa yg keras bgt gitu kayaknya blm pernah sih, but here's mine:

    Pengalaman termenyebalkan saat sholat jamaah di masjid = anak kecil yg berisiknya minta ampun, astaga kyk gak pernah diajari sopan santun aja di masjid. Kalau aku tegur bisa2 aku ikutan emosi krn mereka pasti ada kemungkinan mereka ngelawan wkwkwk. Solusi? langsung balik ke rumah, lanjutin sholat di rumah (ini pas tarawihan)

    Kedua, kalau hawanya lagi sumuk. Ini gak penting, tapi penting juga sih....

    Nah, ini yg pualing ngeselin dan bikin ngelus dada. Sejak kecil diajarin kalau sholat itu kakinya kudu nempel sama sebelahnya. Tapi orang2 diluar circle aku (i mean yg diluar teman2 SD-SMP aku) itu kalau nata sajadah, mesti sendiri2 yg bukan ditumpuk disajadah jamaah sebelah alhasil mrk kalau sholat ya gak rapat shaf nya. Dan.. temenku (setelah aku lulus SD-SMP) suka "geli" (mungkin risih kali ya, but yaudahlah) kalau kakiku nempel ke kaki mrk. Wtf man..? Aku kan berusaha preventif, aku udah jelasin sih tapi mrk selalu "making fun of it". Aku nggak sebel sih sama temanku, cuman.. males aja njelasin hal yg sama berulang kali. Tapi tiap sholat bareng mrk ya tetep tak tempelin kakiku deket mrk. Bodo amat wkwkwk

    Yaampun jadi curhat wkwkwk, lah sama kan? Fenomena sholat juga, berjamaah lagi di masjid.

    ReplyDelete
  2. Hahaha kok bisa pas banget. Di masjid deket rumah yang sekarang juga ada jamaah yang mirip gini. Cuman dia beneran suaranya gede dari awal salat sampe akhir, enggak cuma beberapa part. Kadang-kadang suara dia lebih kedengeran dari imam padahal dia berdiri paling belakang. Sebel bat anjir. Setiap ada dia pasti salat gue gak pernah kusyuk hahaha

    ReplyDelete
  3. hahaa
    pengalaman gue adalah orang yang selalu sengaja telat takbir. dan takbirnya diulang ulang

    ReplyDelete

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!