Sudah dua bulan gue berada di Jakarta, dan selama sebulan terakhir ini gue mulai terbiasa akan teriakan Ibu negara (baca: Mama) yang memanggil anaknya ini.

“Adzan, Mas”

“Masjid, Mas”

“Anterin Mama”

“Buruan kamu nikah, Mas”

Terbiasa dengan teriakan seperti itu, kadang membuat diri gue parno. Telinga gue seperti selalu ada teriakan dari Ibu negara, padahal sejatinya beliau enggak berbicara sama sekali. Saat disamperin, buktinya beliau lagi asik nonton sinetron Ikatan Cinta. Ketika mau ditanya, beliau terlebih dulu yang bertanya,

“Pagar udah digembok kan, Mas?”

**


Seperti biasanya yang gue lakukan semenjak di pondok dulu adalah tidur seusai shalat shubuh. Meskipun Ibu negara sering kali mengatakan, kalau tidur pagi rejekinya bakalan dipatok ayam, tentu saja gue tetap tidur.

Walaupun seusai shalat barusan, ada rasa aneh di dalam hati.

Kebiasaan Ibu negara di pagi hari diawali dengan memanggil nama gue dari tangga, membuka pintu kamar dan membuka jendela, lalu tentu saja menendang anaknya ini untuk bangun. Dan diakhiri dengan perkataan, ‘Cepet bangun, anterin Mama sekarang!’.

Untuk beberapa saat ini, Ibu negara enggak bisa membawa kendaraan. Sehingga, gue lah yang akan memenuhi permintaannya untuk mengantarkannya ke berbagai tempat.

Meskipun aslinya gue sangat malas untuk keluar rumah, tapi tentu saja permintaan dari Ibu negara enggak bisa dibantah.

Sebelumnya, mungkin gue tipikal orang yang malas berdiam diri di rumah. Tapi, beberapa tahun belakangan ini justru malah sebaliknya. Rasa ingin berdiam diri di rumah bertambah ketika gue berada di Jordan kemarin. Untuk alasannya, bisa kamu baca di sini ya!

Lalu sekarang tiada hari tanpa berpergian keluar. Entah itu mengantarkan Ibu negara ke kantornya, mengantarkan adik untuk belanja di pasar, atau di saat Ibu negara tiba-tiba memerintahkan untuk membelikan nasi padang di siang hari.

Makanya kalau ada yang bilang, “Wih lagi liburan ya di Jakarta. Enak dong bisa leyeh-leyeh” pengen banget gue tendang lehernya.

**

Pagi ini gue punya tugas untuk mengantarkan Ibu negara ke kantornya. Untungnya, jalanan di Jakarta saat pagi hari masih cukup sepi. Tapi meskipun begitu, tentu saja selalu ada orang menyebalkan di Jakarta di pagi hari.

Di saat semua kendaraan berhenti karena mematuhi rambu-rambu lalu lintas, ada saja kendaaran yang menyalakan klakson nya berkali-kali agar kendaraan di depannya untuk terus berjalan.

Berhubung  gue sedang membaca buku Filosofi Teras, gue mulai bisa mengendalikan diri. Di dalam bukunya tertulis, diri kita enggak akan bisa mengendalikan prilaku orang lain, yang bisa kita lakukan hanya lah mengendalikan diri kita sendiri. Reaksi marah, panik, atau tenang, itu adalah pilihan yang bisa kita kendalikan.

Meskipun dalam kenyataan nya, gue selalu ingin turun dari kendaraan, meninggalkan Ibu negara, lalu bilang ke si pengendara lain,

“LU TERBANG AJA GIH, ASU!”

Tapi untung saja sekarang gue termasuk dalam golongan orang penyabar. Meski golongan para orang-orang penyabar, enggak menganggap diri gue.

**                   

Setelah selesai mengantarkan Ibu negara ke tempat kerjanya, perjalanan masih dilanjutkan untuk mengunjungi tempat yang lain.

“Belok sini aja, Mas”

“Emangnya boleh?”

“Tenang aja”

Tiba-tiba pengendara lain menyalakan klakson nya, menyuruh kami untuk memutar jalan.

“Astaghfirullah. Ini satu jalan, Mas. Kok kamu lewat sini sih”

“Kan tadi .... Iya, iya ini muter lagi kok”

AKU BISA SABAR!

“Belok-belok sini, Mas!”

“Mama ku, kalau ngasih aba-aba jangan dadakan. Belokannya udah lewat nih”

“Ma, sekarang belok enggak?”

“.....”

“Kok kamu enggak belok lagi sih, Mas”

“Lah, kan tadi diajak ngobrol malah dicuekin”

“Mama lagi ngeliat bangunan itu tadi. Bagus deh. Kamu kapan beli rumah?”

“UDAH LAH. MAMA BAWA SENDIRI NIH. MAS MAU MAIN LAYANGAN AJA”

**

Kepulangan kali ini rasanya berbeda dari biasanya. Gue serta adik yang lebih sering berdiam diri di rumah dan menjadi teman ngobrol Ibu negara. Terutama diri gue yang jadi lebih sering mengantarkan Ibu negara pergi ke tempat-tempat yang harus dikunjunginya.

Seusai shalat subuh tadi pagi juga rasanya berbeda.  Bahkan rasa anehnya sampai terasa, sampai sekarang.

Mama tiba-tiba mengangkat kedua tangannya, sambil berucap ke anak laki-laki nya ini,

“Mas, peluk Mama”

Mama bukan tipikal orang yang suka dipeluk, perkataan serta permintaan tersebut punya arti yang sangat banyak untuk diri gue.

Sebagai anak laki satu-satunya, gue harus bisa menghadapi semuanya. Bisa menggantikan posisi bapak yang telah tiada.

Meskipun sering kali reaksi si Ibu negara ini suka random, tapi gue harus mengerti bahwa kepergiaan Bapak di awal tahun ini meninggalkan lubang yang besar di hatinya. Dan sebagai anak laki-laki dan anak pertama, gue harus selalu ada di sisi nya.

**

Gue baru tersadarkan, bahwa sebenarnya blog ini dibuat sebagai wadah gue untuk bercerita.

Jadi, yah tungguin aja cerita-cerita selanjutnya ya. Itu pun kalau kamu nya mau. Kalau enggak, ya masa enggak mau sih. Mau dong.

Lah kok maksa sih, nyet

Dan, have a good day buat kamu!