Liburan di pantai Dimyat

Saturday, September 29, 2018


Baca cerita sebelumnya disini ya.

**
Setelah puas bersuka ria dengan berbagai momen yang terekam dalam kamera, perjalanan diteruskan menuju pantai Dimyat. Ane punya perasaan berbeda ketika punya kesempatan untuk mengunjungi pantai. Dan sepertinya, ane sendiri pun lebih sering pergi ke pantai yang ada di Mesir ketimbang di Indonesia. Do’a kan saja bisa menjelajahi pantai-pantai indah yang ada di Indonesia.

Amin. 
Para perempuan-perempuan perkasa ini sebenarnya masih enggan menginggalkan tempat karena mereka masih berkeinginan melihat pertemuan dua laut secara langsung. Sedangkan kami para cowo-cowo yang mau enaknya aja, lebih memilih untuk pergi ke pantai. Berhubung perut para perempuan-perempuan ini enggak bisa berbohong, maka mereka memutuskan untuk ikutan pergi ke pantai.
Kalau enggak mau ikut, ya ditinggalin aja lah. Don’t be rich people difficult.
Tujuan pertama kami sampai di pantai, enggak lain adalah memakan jatah perbekalan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Untungnya yang masak seluruh perbekalan adalah teman rumah yang punya skill masak lebih jago ketimbang yang lain. Jadi, kemungkinan untuk keracunan hampir mustahil terjadi. Beda cerita kalau ane yang masak. Mungkin perbekalan yang ane masak akan diberikan secara cuma-cuma ke pengunjung pantai yang lain. Dari pada keracunan, mending melihat orang lain keracunan. Mungkin itu yang akan mereka fikirkan.

Baru kali ini dalam seumur hidup, perbekalan makanan saat di pantai adalah nasi uduk beserta sambalnya. Harusnya kalau pergi ke pantai itu, minum es kelapa sambil makan ikan bakar plus melihat birunya lautan. Tapi, selama perut kenyang, enggak ada yang peduli dengan hal itu juga sih.
Niatan untuk berenang di pantai sepertinya akan diundur. Karena ane lebih memilih untuk duduk didepan kafe, sambil melihat suasana pantai serta manisnya perempuan Mesir dari jarak yang enggak terlalu jauh. Sedangkan teman-teman cowo yang lain pergi ke mobil untuk mengambil tikar yang telah dibawa dari rumah.
Sekarang ane baru tahu kenapa anak rumah selalu mengingatkan untuk membawa tikar sebelum berangkat. Ternyata tikar ini digunakan sebagai alas untuk tidur siang.
Jangan membayangkan di pantai ini telah terpasang pondokan-pondokan kecil yang biasa ditemui di Indonesia. Disini hanya ada kafe-kafe yang bangunannya terbuat dari kayu, lumayan besar tempatnya, serta didepannya terpasang beberapa meja kecil, serta kursi, dan tentu saja payung yang menutupi meja kecil tersebut.
Mereka menggelar tikar tepat disamping kursi yang telah ane duduki, dan dengan santainya menyuruh ane menjaga hape serta minuman yang mereka pesan. Setelah sebelumnya disuruh memutar lagu sepanjang perjalan, sekarang harus menjaga barang berharaga mereka.


Why always me?
Bacod. Tinggal nurut aje ribet lu Jaenal! 
Para perempuan sedang asik berbincang didalam kafe. Membahas gosip terbaru yang beredar, membicarakan perlengkapan Make-up, meng-update insta story, atau membahas tentang bajak laut. Entahlah.

Walaupun diri ane suka mendengarkan orang lain bercerita dan menanggapinya dengan seksama, tapi terkadang ane mengharapkan bisa seperti sekarang ini. Duduk sendiri, di tengah keramaian, melihat berbagai macam raut wajah orang yang berlarian menuju pantai. Ada yang tertawa gembira sambil mengejar kawannya, ada seorang ayah yang menggendong anaknya serta tak lupa menggandeng jemari istrinya, serta ada pula gerombolan anak muda yang sedang asik mengabadikan momen dengan foto bersama dan beberapa kali ane melihat para pedagang yang sedang merayu pengunjung pantai untuk membeli satu atau dua barang dagangannya.

Seolah kebahagian-kebahagian yang terlihat oleh mata, masuk ke dalam otak dan memberi sinyal untuk selalu bergembira.


Sering kali diri ane sibuk mencari sebuah kebahagian, agar bisa bersyukur. Padahal seharusnya pola fikir yang harus digunakan adalah dengan perbanyam rasa syukur akan segala keadaan sehingga membuat diri bisa selalu bahagia.
Betul tida jamaa?
**
Banyak hal yang baru ane ketahui tentang pantai. Seperti misalnya, jangan sering-sering membasahi kepala dengan air pantai kalau tidak mau pusing. Jika ada ombak yang datang, usahakan jangan terkena mata. Dan ternyata air pantai lebih asin daripada yang ane bayangkan!
Gileeee, norak banget. 
Baru 15 menit, kepala ane pusing.
Beberapa pengunjung pantai mendekati gerombolan kami, mungkin merasa aneh karena wajah kami terasa asing. Mereka bertanya darimana asal kami, dan sedang apa di Mesir. Yang menyebalkan adalah setiap kali ane berkata bahwa ane berasal dari Indonesia seperti jawaban teman-teman ane yang lain, mereka enggak akan percaya.
“Syiria?”
“Lebanon?”
“Pakistani?”
“Oh, Inta Hindi soh?” – Lu orang India ya?
“GUE DARI INDONESIA JAINUDIN! GUE TARIK JUGA NIH BULU IDUNG LU”
**
Selesai mandi, kami para lelaki yang sebetulnya ingin beristirahat sejenak, harus membakar ikan untuk dinikmati bersama sambil memandang matahari terbenam di pinggir sungai. Di lokasi yang berbeda. Lumayan dekat dari pantai ini.
Beberapa orang Mesir yang akan menuju pantai melihat kami dengan antusias saat kami berusaha menyalakan api dari bara yang telah dibawa sebelumnya. Mungkin mereka merasa aneh, karena ditengah-tengah manusia yang berwajah asia, terdapat ane yang wajahnya mirip orang Uganda. 
Saat api telah menyala dan ikan telah mulai dibakar, ada ibu-ibu datang menghampiri kami, bertanya ‘Ini berapaan harganya ya?’ dan dijawab dengan senyuman mesum teman ane yang lain, sambil memberi tahu bahwa ikan yang dimasak ini enggak untuk dijual. Lagi pula kalau melihat bentuk ikan yang kami masak, teksturnya enggak jelas. Lebih banyak warna hitam gosongnya. Semoga saja rasanya masih enak seperti yang biasa kami makan.
**
Perjalanan kami selanjutnya seperti mengejar matahari terbenam. Walaupun dapat dipastikan kami enggak bisa melihat matahari terbenam sesampainya kami di pinggir sungai, tapi para teman yang membawa mobil melaju lumayan cepat.
Sesampainya disana kami langsung menggelar tikar serta menumpahkan nasi yang tersisa, serta ikan yang telah dibakar. Ternyata rasanya enggak seburuk yang difikirkan. Ternyata memang benar, ketika lapar, segala makanan itu terasa... Biasa aja. Yang penting ada sesuatu yang bisa dikunyah oleh mulut. 

Karena posisi kami makan adalah dengan cara tajamu, makan bersama-sama, pasti selalu saja ada yang berkata ‘Yah, samping gue Pauji lagi’. Orang gemuk lah yang selalu disalahkan. Mereka mengira bahwa ane makan banyak, ternyata dugaan mereka salah. Justru dengan keberadaan ane, teman-teman disekitar memiliki lauk yang lebih banyak. Karena tentu saja, tangan ane lebih sering mencomot lauk dari setiap penjuru mata angin. Sehingga memberikan opsi lauk yang banyak bagi teman-teman disekitar ane.
**
Perjalanan pulang enggak ada yang seru, karena sepanjang perjalanan ane seperti mati suri. Hanya tidur saja. Dan alhamdulillah nya, ane enggak berada di mobil yang sebelumnya, bersama para kawanan perempuan-perempuan yang doyan nyanyi pas reff nya doang. Sehingga sepanjang perjalanan pulang enggak ada yang menganggu dengan meminta diputarkan lagunya Via Valen yang bunyi liriknya, "Yok Ayok" .

You Might Also Like

18 komentar

  1. Disamperin dan ditanya harganya itu maksudnya bukan karena lo dikira kayak nelayan tanjung priok kan ya? Hmmmmm. Seru juga ke laut. Tapi gue agak nggak kebayang. Kalo di sana itu dingin apa gimana? Biasanya kan laut itu panas tapi banyak angin surr. Gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. teleq


      cobain, di. cupu banget lu ah
      *abis ini digampar adi*

      Delete
  2. Pake kamera apa sih?

    Btw, foto-fotonya udah bisa jadi anak senja pencinta kopi pengagum hujan penikmat petir pemuja badai pengabdi tsunami tuh. Hohoho

    Btw lagi, gue baca ini lewat hp, refleks nepuk2 layar karena semut (atau lalat?) di blog ini. Hapus lah woy! :( kirain semut beneran huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. beda-beda nih, gip. yang jelas bukan kamera gue. boleh minjem. wk

      faaaak. hahahah

      nah. tujuan gue emang bikin emosi pembaca yang baca dari hape ataupun di komputer, gip.
      peliharaan gue lucu kan ya?

      Delete
  3. Jangan sampe ya ini semut saya semprot, bisa mati entar, laptop saya...

    Ternyata pantai di mesir dan cara menikmati lautnya kurang lebih sama aja ya kayak di indonesia. saya pikir karena di mesir, suara deru ombaknya pake bahasa setempat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo dong semprot. plis

      errr.... konsep pantainya enggak kayak gitu juga sih, haw

      Delete
  4. Ah iya, sakit mata kalo keciprat air laut. Apalagi misalnya sekalian main air, muka jadi perih :(
    Jadi laper ngebayangin nasi uduk sama sambel *BRB KE PECEL LELE*

    ReplyDelete
  5. Komentar yang bertanya tentang bikini lucu juga. XD

    Tuh, Ji. Lu pake bikini gidah. Biar besok-besok dia enggak usah nanya begitu lagi.

    Gue setiap ke pantai, kayaknya jarang banget makan ikan bakar. Gue cari aman dompet, makan yang harganya paling murah. Enaknya minum es kelapa di pantai, gue bisa menyantapnya langsung dari kelapa yang sebagai wadahnya. Di penjual deket rumah mah pakai plastik atau gelas doang.

    Tiap ke pantai enggak sampai mainan air, sih. Soalnya sering lupa bawa baju ganti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. gue di coret dari pertemanan kayaknya kalo pake bikini beneran

      ke pantainya rame-rame makanya, yog. patungan. kayak gue kemaren. wk
      entar kering sendiri kok. main air aja. nanggung uy dah jauh-jauh

      Delete
  6. masa dikira orang syiria siiih??? wkwkwkwk bukannya orang syiria caem-caem yaaa???
    kalo orang India Bangladesh Pakistan mah masih bisa lah yaaaa

    ReplyDelete
  7. Ini ada acara bakar-bakar ala barbekyuan, gitu? Tak kira cuma bawa nasi uduk plus sayur plus lauk udah mateng gitu. Ternyata, masih bakar ikan disana juga. Kasih tutorial bikin semut-semutan kaya disamping, dong, Zi...Biar blog ku juga bisa kaya gini tampilannya XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. kira-kira kayak gitu lah.

      hahahaha, pembbaca blog gue aja pada ngamuk. entar blog lu d amuk masa juga uyy

      Delete
  8. Wahhh jalan ke pantai nihhh.. liburan asik emang pass berangkatnya kalau menurut sayaa, kek cewe cewe yang nyanyi itu, mungkin agak sedikit menghibur ketika perjalanan menuju lokasi :D, terkadang juga ada yang fales :v

    ReplyDelete

Eettt..... Mau kemana?
Komen dulu dong okeee :))

Community