Salah satu hal yang paling menyenangkan traveling di Timur Tengah yang terkenal dengan banyaknya padang pasir adalah Sandboardingnya. Gue masih enggak percaya, dengan berat badan yang mirip badak seperti ini, papan selancarnya masih bisa bergerak jauh di pasir. Oh sebagai catatan, Sandboarding itu akan selalu dari tempat tinggi menuju tempat rendah. Bukan sebaliknya. Itu bukan Sandboarding, melainkan sedikit penyiksaan duniawi bagi diri gue yang punya berat badan berlebih.

Yang di upload di Instagram
Realitanya

Gue suka dengan Sandboarding, bahkan lebih suka tiap melihat orang yang jatuh berguling-guling saat berselancar. Paling bahagia banget, karena dengan itu gue akan selalu melakukan,
*gulung lengan kaus
*menyipitkan mata memastikan keberadaan orang yang sedang jatuh
*mengambil nafas panjang
Kemudian meneriaki,
“MAMPUS LU”
Tapi beneran, Sandboarding itu asik. Terlebih lagi kalau tempat untuk berselancarnya tinggi. Sejauh ini, gue baru menemukan tempat Sandboarding dengan ketinggiannya yang kurang lebih 20an meter. Perjuangannya untuk bisa sampai ke tempat berselancar itu enggak mudah, dan enggak sulit juga sebetulnya. Tapi yang paling terasa adalah pegel, dan sedikit khawatir badan ini akan kejengkang ke belakang dengan posisi kepala yang terkubur di pasir.
Kejengkang ini bahasa Indonesia kan ya?




Setiap langkah kaki kita akan membuat jejak di pasir, bahkan beberapa kali harus merasakan kaki kita terpendam sejenak didalam pasir, dan akan selalu seperti itu sampai puncak. Setelah sampai puncak, kita akan menuju ke tempat yang lainnya. Bukan di tempat yang telah ada jejak kaki kita, tetapi ke tempat yang masih bersih dan memang untuk berselancar.
Tau alasannya kenapa?
Karena ketika nanti berselancar, jarak selancar kita enggak bisa jauh. Ya penyebabnya jejak kaki kita itu tadi. Biasanya sebelum mulai berselancar, ada satu orang membawa lilin, bukan untuk ngepet, tapi untuk nantinyakan digosokkan ke papan bagian bawah, agar papan yang kita gunakan licin dan bisa membawa kita lebih jauh lagi.



Gue sangat amat bersyukur karena masih bisa diberikan segala kenikmatan ini. Setiap perjalanan itu pasti punya arti tersendiri bagi para individu. Gue sampai sekarang, masih belum tau kenikmatan mendaki gunung, karena belum pernah mendaki gunung. Berysukur atas segala hal yang  ada, nanti akan ditambah oleh Allah. Bener enggak?
Beberapa tempat di Mesir sudah masuk ke daftar destinasi yang akan gue kunjungi di tahun ini. Dan sepertinya ingin mencoba hal baru selain Sandboarding. Nah kalo lu sendiri gimana?