Sampai sekarang, gue masih belum bisa menjawab pertanyaan yang muncul dari dalam diri gue sendiri. Dan pertanyaan ini selalu muncul saat gue berada didalam kelas. Pertanyaannya,
“Gue kok masuk kuliah, bukannya merasa pintar ya, tapi malah merasa paling bego. Apa orang lain merasakan hal yang sama?
Tapi yaudahlah, berarti secara tidak langsung, gue disuruh harus terus-terusan belajar. Dan masih banyak banget buku yang harus dibaca dan dipelajari. Bukan hanya pelajaran kampus saja, begitu juga dengan pelajaran kehidupan yang ujiannya berlangsung setiap saat. Memang harus dipersiapkan dari sekarang, bukan?
Gue yakin kok, ujian yang kita hadapi itu pasti masih dalam jangkauan kekuatan kita. Nggak mungkin, Allah memberikan ujian diluar kemampuan hambanya. Kayaknya sih memang manusianya saja yang terlalu drama, terlalu lemah, terlalu manja. Masa maunya enak aja tanpa ada usaha yang dikeluarkan?
Kemarin bu Risma, walikota Surabaya, datang kesini. Dan dari ucapannya yang paling gue ingat sih,
“Masa iya, mahasiswa pintar seperti kalian harus dikasih. Yang dikasih itu, orang-orang yang tidak mampu. Masa masih saja disuapi?”
Kalo sudah seperti itu, gue jadi berfikir, sebetulnya tujuan gue ke Mesir itu untuk apa sih ya? Apa yang sebenarnya gue cari di kota penuh sejarah ini?
Membuka jasa tempe online?
Atau,
Mencari seorang gadis?
Kalau kamu, apa yang kamu cari?
Hmm…
Perjalanan pulang dari acara bu Risma, sepertinya membawa kebahagian lain untuk gue. Selain mendapatkan pelajaran tentang arti sebuah kepemimpinan, gue berhasil menemukan kebahagian lain.
YEAAY
Jadi, ketika sedang menunggu bis yang mengarah ke rumah, gue melihat sosok bidadari tanpa sayap(lagi). Gue kira, hanya nyokap saja sosok bidadari tak bersayap, eh ternyata masih ada yang lain.
Gadis ini, mengenakan pashmina berwarna merah marun. Kulit putihnya, kontras dengan frame kacamata yang digunakannya. Kausnya tertutup dengan jaket jins yang ia gunakan. Roknya berwarna putih dengan corak bunga-bunga. Dia membawa tas ransel, dan selalu tersenyum ketika sedang berbicara.
Untuk namanya, gue juga nggak tahu sih. Kalau pun suatu saat nanti bisa berbicara dengannya empat mata, sepertinya gue nggak akan berani menatap matanya lama-lama deh. Lemah banget ya gue? Yah, walaupun untuk saat ini gue belum tahu siapa namanya, setidaknya dengan tulisan ini, memori tentang dirinya akan selalu abadi. Terkadang gue iri, perasaan yang gue punya terhadap orang lain, tidak bisa se-abadi tulisan yang ada di blog ini.
Kalau sosok gadis ber-pashmina merah marun itu gue jadikan sebagai pemacu semangat ketika diri ini sedang malas-malasan, boleh nggak sih?
Terkadang, ketika sedang bermalas-malasan, sosok gadis ini akan se-enaknya saja lewat didalam kepala. Seolah ingin mengatakan,
“Kamu sampai kapan mau malas-malasan? Kalo kamu seperti itu terus, nanti aku diambil sama yang lain loh!”
Huufftt

Sebetulnya, boleh nggak sih kalau seperti ini?