Hai
>> Minggu-minggu ini merupakan minggu sibuk untuk gue dan mahasiswa-mahasiswa Azhar lainnya. Biasa lah, bulan depan ujian sih. Dan karena sebelum-sebelumnya (mungkin) terlalu santai menanggapi perkulihan, jadi yaa sekarang ini lah sibuknya. Tapi dibandingkan ujian terakhir gue di pondok dulu, sepertinya ujian disini biasa aja. Lebih ekstrim ujian ketika gue di pondok dulu sepertinya.
Ketika kalian 3 SMA ujian apa aja?
Flashback dikit. Ujian di pondok gue dulu dibagi tiga. Pertama, ujian praktek mengajar. Kedua, ujian lisan. Ketiga, ujian tulis. Materinya? Semua pelajaran dari pertama kali masuk pondok. Alhamdulillah, gue nggak sampai gila kok. Nggak sampai gue sundul juga, ustad yang bikin soal. Tapi ketika dulu, gue kenapa semangat banget ya belajarnya. Dan ketika telah sampai disini, malah santai-santai aja. Apa karena dulu di pondok, gue dikelilingi oleh para laki-laki semua, sehingga bisa fokus belajar?
Emm.. kok agak geli gitu yaa bahasanya. (( DI-KELILINGI-LAKI-LAKI ))
Tapi bener sih,  disini lebih banyak yang difikirkan ketimbang di pondok dulu. Selain kuliah, masih ada hal-hal lain yang musti difikir. Entah itu organisasi, pengaturan keuangan, belajar masak, dan persoalan cinta.
Kadang agak aneh sih, kalo ada orang yang curhat permasalahan cintanya ke gue. Mereka minta solusi kepada orang yang tidak tau menahu apa itu cinta.
Ngerasain pacaran juga belom sempet, nyet!
Tapi sepertinya...
Gue merasakan jatuh cinta deh. Kayaknya sih.
Nggak sampai ngungkapin juga. Gue nggak seberani itu juga kok. Hanya sekedar secret admirer cupu, sama seperti sebelum-sebelumnya lah. Ketika zaman gue masih bego-bego nya, kalo naksir seseorang gue akan rajin nge-chat. Tapi sekarang udah nggak gitu juga kok. Siapa gue, berani nge-chat? Lebih enak seperti ini juga sih, memperhatikan dari jauh, hanya bisa menyebut namanya seusai shalat, memperhatikan senyumannya. Meskipun gue tau, dari cerita teman-temannya bahwa dia pernah beberapa kali jalan bersama orang lain. Bahkan makan dengan orang yang sama.
Sebenernya egois nggak sih, jatuh cinta sendiri seperti ini? Ini egois atau bodoh?
Hmm
>> Akhir-akhir ini gue malah sering membayangkan diri gue sedang berada di rumah, di Jakarta sana. Sedang  menaiki mobil di kawasan yang biasanya macet setiap pagi dan sore hari, karena kawasan itu merupakan jalur menuju kantor.  Meskipun kondisi jalanan yang macet seperti itu, gue masih bisa bernafas lega. Setidaknya masih ada suara radio yang setia menemenai perjalanan gue, dan tentunya batrai hape gue masih banyak.
Ada adik gue yang bercerita dengan semangat dari arah belakang. Menceritakan tentang teman-temannya, tentang cowo yang ditaksirnya. Obrolan ghibah. Gosip-gosip gitu. Yah, namanya juga cewe. Ntar kalo dimarahi ujungnya,
Cowo : “Udah lah, nggak usah dibahas”
Cewe : “Kok kamu gitu?”
Cowo : “Iya, maap. Nggak sengaja. Keceplosan”
Gue yang marahin, gue juga yang minta maap.
Kemudian ketika sampai ditempat tujuan, gue dan Faizah, adik gue, berjalan perlahan memandangi isi mall. Meyakinkan diri, bahwa kita telah berada di Jakarta, bukan di Mesir. Langkah kaki kami membawa ke kedai kopi, yang letaknya tidak jauh dari bioskop. Duduk dibarisan paling belakang, tepat disebelah kaca besar yang menampakkan berbagai jenis orang-orang yang berlalu-lalang. Pasangan muda-mudi yang sedang bergandengan tangan, seorang ayah yang sedang sibuk membersihkan pakaian anaknya dari sisa makanan, kemudian pandangan gue tertuju kepada lima orang wanita yang sedang asik tertawa, sambil sesekali seorang wanita dibarisan itu menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Wanita itu mengenakan kerudung silver mengkilap, berbalut kemeja hitam serta dipadukan dengan celana jins. Kakinya beralaskan Converse berwarna abu-abu senada dengan warna krudungnya.
Tanpa menunggu lama, gue pergi meninggalkan Faizah yang sedang asik menikmati Moccachino hangatnya. Tangan gue sesekali mengatur letak rambut gue agar terlihat lebih rapi, meskipun gue tau hal itu sia-sia. Kemudian dengan sendirinya, membetulkan posisi gelang di tangan kiri, serta jam tangan pemberian nyokap, di tangan kanan. Langkah kaki gue semakin cepat, mengejar rombongan wanita-wanita yang sempat gue lihat dari dalam kedai kopi.
Gue memanggil nama gadis berkrudung silver itu, sambil lari menghampiri. Kemudian mengatakan,
“Hai”
“Kamu, apa kabar?”
**
Kayaknya cukup deh khayalan gue.