Kebanyakan orang yang sedang berlibur di Mesir, menghabiskan waktunya untuk menjelajahi Piramida, Alexandria, maupun masjid Al-Azhar. Berbeda dengan kebanyakan orang, gue dan kawan-kawan lainnya, yang berstatus mahasiswa jomlo, menghabiskan liburan dengan mengunjungi suatu daerah yang dinamakan Qonatir. Mungkin kebanyakan orang-orang masih belum familiar mendengar tempat wisata bernama Qonatir di Mesir. HAHAHA. HAHAHA, CUPU. Tapi memang sebenernya, nggak terkenal juga sih tempatnya. Emm... gue juga baru pertama kali kesana kok. Kalo kemarin nggak diajak, nggak mungkin gue cerita tentang hal ini juga sih. Ehehe.
Ga lucu, nyet
Tempat ini nggak ada spesialnya sih sebenernya. Sejauh mata memandang hanya ada air dan bendungan, terong-terongan yang sedang boncengan bertiga, kotoran kuda terhampar luas, ojek kuda bertebaran dimana-mana, dan beberapa penyewa motor yang semena-mena eee waka-waka eee. Ya gitulah. Dikiranya kita turis, padahal sejatinya kita mahasiswa disini. Mereka fikir kita nggak paham dengan apa yang mereka ucapkan kali ya? HAHA. Padahal mah bener.
Jadi gini ceritanya,
Tepat jam sebelas siang, kita tiba di terminal Qonatir. Saat itu udara Mesir sedang di puncak panasnya. Sebelum memasuki Qonatir hal pertama yang dilakukan adalah memesan makanan, supaya didalam nanti bisa makan-makan unyu gitu. Alasan sebenernya sih, ya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Kebetulan cuaca di Mesir sedang panas-panasnya sekitar 40C, terlebih ada salah satu senior juga yang ikut dengan rombongan kami. Nggak tau juga sih, kenapa manusia ini harus ikutan. Bikin susah aja. Sebetulnya sih seumuran, tapi tampangnya itu terlalu dewasa(baca:tua), sehingga kita memanggilnya guru. Guru pramuka lebih pas-nya sih. Nah, kalo nanti dia tiba-tiba pingsan dijalan siapa yang mau gendong? Siapa yang mau nyuapin? Siapa yang mau bayarin? Siapa hah?  Siapa? Nggak ada. Makanya harus dikasih makan, senggaknya supaya kuat jalan gitu lah.
Ketika masuk, ada dua orang terong-terongan yang mengikuti rombongan kami. Entah apa niatnya, yang pasti mereka ikut jalan bareng. Padahal kenal juga nggak, sok asik. Tiba-tiba salah satu dari mereka sedang menaiki jembatan sambil melirik ke arah kami, kemudian, ‘Byuur’. Yak, dia terjun bebas ke dalam sungai dengan sombongnya. Dikiranya tambah ganteng kali, ketika dia lompat tinggi gitu dih.
Seandainya saja gue nggak takut ketinggian... terong itu pasti juga akan lompat ke dalam sungai sana juga sih. Gue juga nggak akan mau, walaupun diajak loncat bareng.
Banyak diantara rombongan gue yang nggak kuat untuk jalan lebih jauh lagi. Jadi ketika melihat tempat adem, langsung neduh. Adem dikit, langsung neduh. Malah ada juga yang jalannya sengaja dibelakang gue untuk numpang neduh. Bikin emosi ya, minta dikatain gitu. Tapi sayangnya nggak boleh dikatain. Sabar. Tahan.

“Cuy, kita neduh dulu yuk. Sambil makan” Kata salah satu orang dari rombongan kami.
Kayaknya suara gue sih itu.
Sebagian dari rombongan kebetulan ada yang bawa makanan, walaupun makananya belum teruji enak atau nggak, yah senggaknya bisa nambah-nambahin lah ya. Nggak tau itu gorengan isinya apa, tapi pas dicicipin kita kompak mengatakan,
“MANCING MANIA MANTAP!!!”
Bukan gitu deng,
“Wah, enak juga ini makanannya. Gratis sih ya, makanya enak”
Mungkin karena sudah terbiasa ketika di pondok dulu makan bareng-bareng ya, rebutan makanan pun sudah menjadi hal yang biasa. Tetapi... Kalo di pondok dulu, gue makan bersama temen-temen cowo lainnya, dan sekarang gue berada di posisi makan bersama dengan teman cewe lainnya, harus bisa kontrol nafsunya, sedikit, didepan mereka. Tapi kebanyakan temen-temen cowo yang ikut rombongan kemarin sih pasti berfikiran kayak gini,
“Yaelah palingan cewe makanannya dikit doang. Perut mereka kan, bukan karung. Aahaha”
Dugaan kita salah.
Ternyata rombongan cewe lah yang lebih ekstrim ketika berhadapan dengan makanan. Sifat asli mereka keluar. Saling rebutan makanan. Saling rebutan untuk mencocol gorengan ke sambal. Sedih sebenernya, melihat kelakuan cewe-cewe manis seperti ini yang ternyata lebih ekstrim ketimbang diri gue sendiri. Gue merasa lemah, dan gagal jadi cowo macho. *apasih. Tapi Alhamdulillah, mereka nggak sampai jambak-jambakan rambut. Tapi bikin kesel aja sih,
“Ba, gantian dong. Udah kan ambil sambelnya?”
“......”
“Oi, ba. Gantian napeh. Yaelah dah lu”
“APAAN SIH, NGGAK LIAT GUE LAGI MAKAN HAH?!!”
“Maap, ba. Tadi gue lagi ngomong sendiri kok. Beneran deh”
“KAN YANG LAMA NGAMBILNYA ELU KAMPRET, KENAPA ELU YANG MARAH-MARAH KE GUE, EET DAH?!!” lanjut gue. Dalam hati.

Adegan rebutan makanan tambah seru, ketika salah satu temen cewe gue menunjukkan hasil kreasi agar-agar nya. Berbeda dengan rebutan gorengan, rebutan agar-agar ini seharusnya harus dilakukan dengan hati-hati, dan penuh toleransi. Tapi tidak untuk rombongan gue.
“INI PUNYA GUE”
“NGAMBILNYA JANGAN DI BEJEK WOY!!”
“WAH PARAH, MARUK BENER LU”
“INII PUNYA GUE, BUKAN PUNYA ELU. JANGAN PEGANG-PEGANG. HUUSH!”
“KYAAAA... KYAAA...”
Yah, kurang lebih se-ekstrim itu lah.

Perjalanan dilanjutkan menuju jebatan lainnya. Sepanjang perjalanan, indera penciuman kita diuji dengan  bertebarannya kotoran kuda yang tersebar dimana-mana. Dan yang gue lakukan adalah,
“Parfum sapa yang tumpah dah nih? Pungut lagi ngapa, jangan sengaja ditumpahin kayak gini”

**
Perjalanan pulang dari Qonatir kita menggunakan kapal tempur. Mungkin masih banyak yang belum tau bahwa orang-orang Mesir sendiri suka dengan menari. Bukan menari sih, tepatnya joget. Nah iya.  Jadi ketika kapal mulai berjalan, beberapa anak-anak muda yah anggap lah terong gitu, mereka mulai menyalakan musik. Lagu ajeb-ajeb gitu, tapi versi pake bahasa arab gitu lah. Karena kemarin terlalu fokus memperhatikan ibu-ibu joget, sehingga nggak ada yang merekam, jadinya ini video temen gue kemarin yang... ya gitu lah,


Perjalanan ini ditutup dengan dongeng yang dibacakan oleh Naura. Berceritakan tentang kisah hujan dan matahari sebagai sebuah tetesan renungan. Renungan bahwa,
“Jalan-jalan ini harus dilanjutkan lagi. Harus.”
“Untuk jalan-jalan nanti, sebaiknya aku harus menahan nafsu untuk membejek agar-agar buatan Nisa lagi” kata Naura dalam hati.