Salah satu hal yang terkadang membuat gue terganggu sampai saat ini adalah jadwal piket masak rumah. Mungkin karena ketika di rumah dulu gue hanya bisa masak air, mie instan dan telur ceplok, sehingga ketika piket masak disini gue terlihat amat sangat lemah dibandingkan temen-temen gue lainnya. Masih inget, ketika awal-awal hidup disini gue selalu menghilang setiap hari minggu. Karena di hari itu lah, giliran gue piket masak. Bahkan gue nggak mau megang hape selama satu hari, takut di telpon sama anak rumah untuk masak. Mungkin kalo gue jadi mereka, gue kesel sendiri sih sama orang yang seharusnya piket masak hari itu, tapi malah menghilang tanpa jelas keberadaannya. Kayak gue.
Bahkan ketika hari minggu pagi, banyak nomer-nomer asing yang menelpon ke hape gue. Berhubung gue adalah sosok manusia yang sering ber-ekspektasi terlalu tinggi, sehingga mengira yang menelpon adalah teman gadis gue. Kemungkinan penelfon ini seorang gadis cantik memang nggak ada sih, tapi, ‘Ga salah juga kali kalo gue beranggapan kayak gitu, nyeed’.
“Halo, ini sapa ya?” kata gue merdu.
“Ini Bowo, ji. Lagi dimana? Pulang dong, anak-anak rumah pada mau ngerasain masakan elu nih”
“Halo, halo, halo, Bowo. Hah, gue ganteng? Hah, apa? Gue pinter? Apa sih, wo. Sinyalnya ga jelas nih. Nanti aja ya, wo”

Tuut... tuut... tuut.
Iya, selalu berakhir seperti itu.
Akhirnya gue berada di posisi yang, ‘yaudah deh gue piket masak’. Niat yang cukup mulia dan menggebu-gebu itu perlahan menghilang ketika gue sampai di rumah. ‘Ini kenapa rumah gue rame sama orang-orang?’. Dan yak, ternyata mereka alah para pencari sinyal wifi kencang dan gratisan.
“Wah, Ji. Mau masak nih? Asik lah. Kebetulan lagi laper gue, yang lain juga. Mau masak apa, cuy?”
“Ga tau deh nih. Senggaknya ga bikin elu kejang-kejang  lah abis nyicipin masakan gue lah”
“Eh, gue mau pulang duluan ya. Ada urusan mendadak nih”
“Lah, elu nggak jadi mau ngerasain masakan gue nih?”

Alhamdulillah percakapan itu nggak pernah terjadi sampai saat ini, dan gue pun juga nggak berharap hal itu terjadi.
Kebetulan salah satu temen gue ada yang ahli bikin sambel, sehingga masakan gue kali ini ada rasa pedesnya, yah nggak hambar-hambar banget lah. Berhubung yang bisa gue masak adalah telur ceplok, jadi lah menu masakan pagi ini adalah telur ceplok sambel ala-ala shef Pauji.
Mungkin kebanyakan orang memakai kompor yang modelnya sekali di puter tombolnya ke kiri, otomatis langsung nyala. Berbeda dengan rumah gue, dan juga kebanyakan rumah-rumah lainnya yang berada di Mesir. Disini ada semacam tes ke-macho-an saat menyalakan kompor. Beberapa persiapan yang diperlukan adalah berupa sebuah korek api yang masih bisa menyala, karena kalo tidak menyala tak akan ada gunanya. Kemudian ucapan Bismillah ketika hendak menyalakan, dan ucapan Alhamdulillah setelah berhasil menyalakan.
Caranya, pertama nyalakan gasnya terlebih dahulu. Kemudian putar tombolnya ke arah kiri. Lalu akan terdengar suara gas yang muncul dari dalam kompor. Ambil korek api, lalu nyalakan kemudian dekatkan dengan kompor. Tarik nafas dalam-dalam, dan jangan lupa ucapkan Bismillah. Dekatkan dengan kompor, tangan jangan terlalu lama berada diatas kompor kalo tidak ingin tangan anda terbakar. Dan jangan terlalu cepat menarik tangan, karena hal itu tidak membuat kompor menyala dan membuat diri anda terlihat lemah. Lemah banget.
Yah, kira-kira tutorial menyalakan kompor di rumah gue seperti itu lah.
Kenapa jadi horor bet kompor rumah gue ya?
 Hal yang pertama gue lakukan adalah memasak nasi. Karena rumah gue nggak ada rice cookernya, sehingga harus diperhatikan baik-baik saat memasak. Kalo nggak diperhatiin, ya bakalan gosong. Sama kayak kamu. Iya, kamu yang jomlo.
Hal selanjutnya adalah gue memasak telor ceplok. Ini kali pertamanya, gue masak untuk orang lain. Berhubung gue nggak mau ada kesalahan dan sedang berantusias membuat hati orang bahagia, sehingga gue terlalu banyak menaburkan garam di telor yang sedang gue masak.
Biar, greget. Biar terasa gurih, ena-ena gitu. Biar masakan perdana gue ini teringat sampai kapan pun’ fikir gue ketika itu.
Berhubung jumlah orang di rumah bertambah, sehingga gue berinisiatif untuk memotong telur agar terlihat banyak. Bodohnya, gue memotongnya secara acak sehingga terlihat telornya menjadi kecil-kecil banget.
Hidangan pun tersaji di meja makan.
Nggak ada tuh ceritanya, gue menyuruh temen-temen gue untuk makan. Biar mereka saja yang mendatanginya secara langsung. Setelah ditinggal selama setengah jam, ternyata masih tersisa banyak lauknya. Kemudian selanjutnya gue mengambil piring, mengambil nasi dan lauk, serta menaruh sambal di pinggir piring. Hal yang terjadi kemudian,
Ini gue masak apaan, njiirr?!!! Ini makanan, ga berasa telor atau sambel sama sekalil. Garem semua rasanya kamprett!! Pantesan ga ada yang makan’
Hina.
Gue merasa hina banget atas hidangan yang gue sajikan.
Bukannya membuat temen-temen gue yang lain bahagia atas masakan gue yang lezat dan nikmat, tapi membuat mereka perlahan mengantri  untuk masuk kamar mandi.
Dengan ini gue bertekad agar minggu-minggu selanjutnya ketika piket masak, gue harus pergi. Iya, harus pergi. Cukup sekali dan kali ini saja, gue meracuni orang lain. Cukup. Kali ini aja. Besok-besok jangan sampe. Cukup membuat mereka mengantri di depan kamar mandi saja. Jangan sampe membuat mereka kejang-kejang. Jangan sampe.