Kalo sebelumnya yang gue pahami arti tangis seseorang itu hanyalah bersifat kesedihan, bersifat kehilangan, tapi sekarang tidak. Perlahan, gue menyadari bahwa suara tangisan itu bukan karena hal-hal yang sedih saja.
Contohnya,
Ketika seseorang telah meraih apa yang diinginkannya, orang tersebut bisa saja menangis. Tapi tangisannya bukan karena kesedihan yang dirasakannya, melainkan tangisan bahagia. Bahwasanya dia bisa meraih hal yang dia impikan. Tangisan bangga, karena dia bisa menunjukkan bahwa dirinya bisa mewujudkan harapannya.
Aiiih... sedap.
*kibasin rambut.
Salah satu temen cewe gue, Nanda, mempunyai masalah dengan tangisan juga. Setiap dia berbicara ke gue, mendadak suaranya melemah kemudian perlahan seperti orang yang ingin menangis. Padahal sebelumnya teriak-teriak sama temennya yang lain,
‘WOI, GUE MESEN BAKSO HOY!! MANA KRUPUK PANGSITNYA, HOY!!’
Ngomongnya nge-gas, tapi nggak nyambung. Minta ditabok gitu. Untung cakep, makanya bisa nahan emosi.
Tapi anehnya ketika dia bicara ke gue kenapa mendadak seperti orang mau nangis ya? Anehnya hal ini hanya terjadi ketika dia sedang berbicara ke gue, bukan ke orang-orang lain. Padahal ketika itu gue sedang khusyuk makan bakso, nggak mengusik Nanda sama sekali. Seriusan deh. Ya, sadar sih muka gue memang serem, dikit, tapi ya nggak gitu juga kaliii.

Bicara tentang tangisan, jadi inget kejadian di sekertariat almamater kemarin.
Jadi, malam itu gue berniat untuk menginap di kantor kesekertariatan setelah pulang dari acara pencoblosan presiden PPMI Mesir tahun ini. Tapi karena faktor udara yang panas, sehingga mata gue belum bisa tertutup ketika jarum jam mengarah mendekati angka satu.
Berhubung sudah tidak ada yang mengajak ngobrol ataupun chat, perlahan gue memaksakan diri untuk tidur. Terkadang gue sering mengkhayal sebelum tidur. Membayangkan diri gue saat itu telah berada di rumah, bangun pagi karena siraman air segayung yang diberikan oleh nyokap ke arah muka gue, dan yang tersisa hanyalah bekas air di sprei kasur dan gayung kosong yang tergeletak di atas lantai. Kemudian perlahan, samar-samar gue mendengarkan suara abang-abang yang setiap pagi selalu terdengar dari kamar gue,
‘‘Sari roti... roti sari roti... teet teet tet teet tet tee tet’’
Suara rekaman sih memang, tapi kenapa sekarang gue malah kangen denger rekaman itu ya. Yah, mungkin karena suara rekaman disini semuanya berbahasa arab, jadinya kangen sama rekaman abang-abang tukang sari roti. Abang-abang susu murni juga sih. Suara teriakan abang-abang ketoprak, nasi uduk, odong-odong, juga kangen. Apa ini berarti gue jatuh cinta sama abang-abang itu ya? Ini sebenernya gue nulis apa sih? GUE SIAPA? DIMANA GUE? DIMANAAAA?? KYAAAAA... KYAAAA.
Astagfirullahadzim, kenapa gue jadi ngondek gitu?
Oke, fokus.
Ketika asyik tidur, samar-samar gue mendengarkan suara tangisan. Bedanya, tangisan ini adalah tangisan cewe. Dan nggak ada sama sekali cewe yang tidur di kantor kesekertariatan. Awalnya gue fikir, ini hanya mimpi. Tapi ketika gue cubit pipi.... temen, kok dia gerak-gerak. Pas cubit pipi sendiri, kok sakit juga. Makin lama suara tangisan itu semakin kencang.
“Ini siapa yang nangis sih malam-malam gini, ganggu orang tidur aja” kata gue setengah sadar. Padahal aslinya takut juga sih. Dikit. Serius, dikit doang.
Gue beranggapan suara tangisan ini berasal dari temen gue yang sedang sholat tahajud, tapi yang gue liat hanyalah badan teman-teman gue lainnya yang sedang tertidur pulas. Ketika hendak pergi meninggalkan kasur tempat gue tidur, beberapa teman-teman gue sudah ada yang bangun dan ingin melaksanakan sholat shubuh.
“Do, denger suara orang lagi nangis nggak?”
“Iya nih”
Setelah lampu dinyalakan, ketemu lah ponsel laknat yang mengeluarkan suara tangisan itu. Suara tangisan seorang cewe yang sejak setengah jam lalu tidak mati-mati.
“Buset ini alarm hape, ji. Hahahah. Takut ya lu?”
“Gue takut? AHAHAHA. GUE TAKUT? NGGAK SALAH NANYA LU? HAHAHA”
“Dikit doang sih”

Setelah diselidiki ternyata hape itu punya temen gue, Alip. Anaknya rajin ngaji, tapi entah kenapa punya selera dengan suara tangisan cewe, untuk dijadikan alarm hapenya. Suara tangisan alarmnya sukses membuat gue bangun ketakutan, tapi sang pemilik hape belum juga bangun. Mau gue banting hape nya, tapi nanti ketauan kalo gue ketakutan.
Yah, ternyata suara tangisan itu tidak selalu karena sedih bukan?