Makin bertambahnya waktu, makin bertambah pula pengalaman yang kita miliki. Silih waktu terus berganti, begitu juga dengan teman-teman yang kita punya saat ini. Kalo dulu, gue pernah merasa(hampir) gila karena kehilangan seorang sahabat, perlahan gue mulai banyak belajar dari kesalahan-kesalahan terdahulu.
Alhamdulillah ketika gue pergi ke Mesir, gue punya banyak teman yang sebelumnya memang gue kenal dari Indonesia. Khususnya teman-teman satu pondok dulu. Teman yang saling merasakan perjuangan yang sama saat menjadi santri dulu, perjuangan yang sama ketika mendapat hukuman, perjuangan yang sama ketika menjadi santri jahat, perjuangan ketika menjalani ujian siswa akhir, dan perjuangan saat punya adek-adek gemesh dulu.
Yang terakhir, agak sesat dikit lah.
Ketika awal-awal tinggal disini, fikiran gue masih ngambang. Masih bingung harus mengerjakan apa. Di lain sisi, temen-temen gue sudah memiliki hal-hal apa aja yang ingin diraih. Temen yang gue harapkan untuk bisa saling motivasi, juga nggak kunjung datang. Sebenernya hal yang sia-sia juga sih, menunggu seseorang yang entah siapakah dia, dan kapan datangnya.
 Mulai setuju dengan anggapan orang-orang, bahwasanya kuliah itu adalah dunia individualis. Lebih mementingkan diri sendiri, ketimbang orang lain. Temen-temen deket yang sebelumnya sering menghabiskan waktu bareng-bareng, sekarang juga perlahan mulai sibuk dengan perkuliahannya dan berbagai macam tugas-tugas yang ada.
Nggak mau menyalahkan keadaan juga sih.
Hal ini sebenernya memberikan dampak yang positif sih. Dengan kata lain, kita harus berusaha sekuat mungkin tanpa harus berpangku tangan dengan orang lain. Usaha, doa dan yang terakhir pasrah dengan kehendak Allah. Nggak ada yang sia-sia kok dari semua hal yang dikerjakan. Walaupun sebenernya tau, bahwa hasilnya nanti kurang memuaskan tapi tetap berusaha sekuat tenaga, gue rasa itu hal yang harus diapresiasi. Dia berani melawan dirinya sendiri, tanpa memperdulikan pandangan orang lain.
Banyak hal yang dikhawatirkan saat menjadi mahasiswa perkuliahan. Khawatir nilai jelek, khawatir nggak naik ke tingkat selanjutnya, khawatir nggak lulus tepat pada waktunya, dan masih banyak hal-hal yang dikhawatirkan lainnya. Yah, namanya juga mahasiswa, wajar aja ada hal-hal yang dikhawatirin seperti ini. Toh, kalo nggak mau ada hal yang dikhawatirin, kenapa nggak berhenti dari perkuliahan kemudian menyandang status pengangguran saja?

Yah, bagaimana pun juga, setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing. Begitu juga dengan teman-teman yang gue miliki saat ini. Se-penting apapun mereka dalam kehidupan gue saat ini, gue nggak akan pernah mau memaksa mereka. Memaksa mereka untuk selalu ada, untuk selalu bercerita, untuk selalu senyum, untuk selalu bersama gue sampai kapan pun juga. Gue nggak mau menjadi manusia se-egois itu juga.
Sejauh apa pun temen terbaik gue pergi, gue yakin mereka akan selalu ingat dan akan kembali menemui gue lagi. Dan kalo pun, seseorang yang telah gue anggap menjadi teman baik, tapi kenyataannya dia pergi meninggalkan gue dan lebih memilih teman-teman barunya... toh, senggaknya gue mengetahui satu hal, mana teman yang baik dan harus diperjuangin dan mana yang bukan.
**
Seharusnya saat ini, gue sibuk baca buku pelajaran buat ujian nanti hari Minggu nanti. Etapi malah duduk depan laptop, terus curhat beginian lagi. Besok bakalan bangun jam berapa ini?
Eee... kenapa sekarang jadi inget si dia. Ah kampret, gara-gara nulis sambil dengerin lagunya Raisa jadi baper gini.
Si dia apa kabar ya?