Mungkin masalah yang sering dialami oleh mahasiswa perantuan luar negri  adalah komunikasi dengan keluarga yang berada di rumah. Alhamdulillah, gue berda di zaman sekarang yang serba canggih. Sehingga masalah komunikasi dengan orangtua, nggak sesulit pada zaman dulu. Yang kalo mau nelpon rumah, harus beli kartu khusus.
Orangtua gue, termasuk yang memang telat menggunakan hape canggih. Intinya, punya hape itu, bisa buat nelpon, sms, dan sekedar foto-foto pas acara arisan atau nikahan, udah cukup. Tapi makin berkembangnya tekhnologi, orangtua gue mau nggak mau harus bisa menggunakan aplikasi seperti Whatsapp ataupun Line, untuk tetap menjalin komunikasi dengan anak-anaknya. Gue dan adik gue, Faizah.
Nyokap, tipe orangtua yang jago masak soto betawi dan makanan-makanan enak lainnya. Disamping itu, beliau juga posesif. Banget. Kebetulan, saat ini gue mau membahas sifat posesifnya sih, bukan tentang kehebatan beliau dalam dunia masak-memasak. Karena nggak ada gunanya juga sih membahas makanan nyokap, karena Faizah nggak mau bikin makanan rumah juga untuk gue. Padahal harapan gue sebagai kakaknya yang bersama-sama tinggal di negara orang lain adalah adik yang rajin masak - adik yang empat hari dalam seminggu, membawakan makanan ke rumah kakaknya, yaitu gue sendiri - kakaknya kenyang - adik senang, karena masakannya habis - kami berdua hidup bahagia. Kenyataannya? JAUUU BANGETTT TJOOY!! JAUUUH. ASELI DAH!!
Gue, masak sendiri? Nggak deh kayaknya. Masak nasi aja masih gosong. Masak air, kompornya dibiarin nyala semaleman, gue asyik tidur. Beruntung, nggak kebakaran rumah gue. Makanan yang saat ini bisa gue masak hanyalah Indomie goreng double, ditambah dua telor. Porsi untuk dua orang, tapi gue makan sendiri. Ganteng kan gue?
Makanan internasional
Kembali ke sifat posesif nyokap.
Hampir setiap malam, nyokap chat ke gue via Whatsapp. Menyuruh gue untuk tidur.
‘Fauzi anakku, jangan tidur malam-malam ya sayang’
Dan gue nggak membalas chat beliau.
Karena menurut gue, di Indonesia sudah tengah malam, dan beliau pun pasti sedang tahajud. Sebagai anak yang baik, gue nggak mau menganggu ibadah nyokap. Sehingga, gue berencana untuk membalas chat beliau, pagi di esok harinya.
Oke, itu alasan aja sih. Sebenernya, kalo gue bales disaat itu juga, gue ketahuan belum tidur. Hehe... he.. hee.
MAH, MAAPIN, MAH. INI LAGI USAHA BIAR NGGAK TIDUR MALEM KOK. MINTA DOANYA, MAH YA. UANG KIRIMANNYA JUGA YA, MAH JANGAN LUPA. LLLL
Pagi ke-esokan harinya, gue lupa untuk membalas chat beliau. Pagi itu, gue disibukkan dengan pengambilan hasil tes darah, untuk kemudian hasil tes darah itu sebagai syarat pembuatan kartu mahasiswa Al-Azhar.
Siang harinya, nyokap mengirim chat lagi,
Nyokap: ‘Fauziiii’
Gue: ‘Mamaaahh.... maahh... maahh... maah’

*ini kenapa jadi teriak-teriak gini sih ahelah!!*
Nyokap: ‘Kamu kok nggak bales Whatsapp mamah sii?’
Gue: ‘I-iya, mah. Lupa. Baru aja mau bales, eh mamah duluan yang nge-chat’

Dan setelah itu, gue menelpon beliau via Line.
Bercerita tentang segala hal apa saja yang gue lakukan minggu ini. Bercerita, kalo saat ini gue benar-benar meminta doa restu dari mereka untuk menghadapi ujian. Bercerita, kalo Faizah nggak memberikan gue makanan, tapi lebih sering meminta uang dan minta traktiran kepada gue. Bercerita, kalo gue ingin kurus, tapi jawaban orangtua gue hanyalah suara gelak tawa. Seolah,
‘Mah, uzi mau kurus’
‘HAHAHAH’
Tawa mereka yang gue artikan dengan, ‘SUSAH, MAS UZII. SUSAAAHHH!! MENDEKATI NGGAK BISA!!’
Dibalik ke-posesifan dari orangtua, khususnya nyokap, gue merasa bahagia. Karena masih ada orang-orang yang selalu mendukung gue. Dan di lain sisi gue sadar, bahwa segala hal yang gue lakukan untuk kebahagian mereka. Se-nggaknya, kalo pun nantinya gue belum bisa memenuhi harapan mereka, gue nggak mau menyerah. Karena mereka selalu mendukung dan berdoa untuk kesuksesan anak-anaknya setiap saat.
**
Hampir sebulan nggak nulis, rasanya aneh. Bulan ini memang lagi masa-masa ujian bagi seluruh mahasiswa Al-Azhar sih. So, gaes.... sekarang gue dan temen-temen Masisir lainnya, minta doa untuk dipermudah menghadapi ujiannya ya! Hehe. Supaya, semua ilmu yang dipelajari berkah. Syukron, gaes!