Menghadapi 2026 dengan Chill: Memaknai Kegagalan dan Menyusun Resolusi


Setelah menonton video podcast Raditya Dika bersama Mas Aji yang berjudul "Menghadapi 2026 dengan Chill", ada satu hal yang terlintas dalam pikiran saya.


Begini ceritanya.


Saya sangat menyukai fotografi sejak 10 tahun lalu, sama seperti kecintaan saya pada olahraga angkat beban. Kebetulan, lingkungan pertemanan saya kala itu banyak yang menyukai fotografi, terlebih karena Instagram baru saja muncul.


Modal saya saat itu hanyalah sebuah smartphone dan referensi yang saya lihat melalui media sosial serta video di YouTube. Hasilnya, saya sering bepergian sendirian ke berbagai tempat hanya untuk memotret objek yang serupa dengan apa yang saya lihat di internet.


Dari sekian banyak jepretan, hanya beberapa foto yang menurut saya "oke" untuk diunggah. Saya baru menyadari bahwa mungkin selama ini saya hanya ingin terlihat sesempurna atau sebaik mungkin di mata orang lain. Hal ini sangat berkaitan dengan ucapan Mas Aji dalam podcast tersebut:


“Kebanyakan dari diri kita adalah orang yang gagal.”


Sama seperti ribuan foto yang saya ambil dan akhirnya hanya menumpuk memenuhi memori—itu semua adalah "kegagalan". Lantas, apa perbedaannya dengan orang sukses? Orang sukses adalah mereka yang berani bangkit dan mencoba lagi. Kini saya meyakini bahwa kegagalan adalah hal biasa yang tidak perlu terlalu diambil pusing.


Menghadapi 2026 dengan Chill: Memaknai Kegagalan dan Menyusun Resolusi



Saya juga pernah mendengar kutipan bijak: "Masalah besar sebaiknya dibuat menjadi kecil, dan masalah kecil sebaiknya dibuat menghilang saja." Mungkin perspektif setiap orang berbeda, namun kalimat itu sangat terpatri di pikiran saya.


Refleksi dan Resolusi 2025


Bicara mengenai resolusi tahun 2025 kemarin, saya merasa cukup puas dengan hasilnya. Ada dua target besar (goals) yang saya canangkan saat itu, yaitu:

 - Menurunkan berat badan hingga di bawah 100 kg.

 - Menamatkan membaca 8 buku.


Pada kuartal pertama tahun lalu, tepatnya saat bulan puasa, berat badan saya sempat melonjak hingga 114 kg—angka tertinggi dalam hidup saya, mengingat di awal Januari berat saya "hanya" 109 kg.


Cobaan tidak berhenti di sana. Tepat di hari terakhir puasa, ponsel saya terjatuh dari alat gym saat sedang merekam sesi latihan. Layar LCD-nya hancur total dan sulit sekali mencari suku cadangnya. Di titik itu, saya mulai melupakan resolusi yang ingin dicapai karena waktu saya habis untuk mencari LCD pengganti, terganggunya waktu belajar, hingga sulitnya menghubungi keluarga.


Kondisi diperparah karena rumah saya tidak memiliki jaringan WiFi. Saya harus menumpang ke rumah teman atau naik ke rooftop demi mendapatkan sinyal WiFi dari gedung sebelah. Selama dua bulan saya hidup tanpa smartphone. Teknisi yang menjanjikan perbaikan pun terus memberikan alasan, mulai dari menunggu kiriman suku cadang dari Dubai hingga menghilang tanpa kabar.


Namun, di balik musibah itu, saya justru bisa kembali fokus membaca buku karena distraksi utama—smartphone—telah hilang. Ternyata, rasanya tidak seburuk itu. Perlahan, berat badan saya juga mulai turun; dari 114 kg ke 110 kg, lalu 104 kg, hingga terakhir menyentuh angka 97 kg. Ini adalah berat badan terendah saya sejak tahun 2021.


Menghadapi 2026 dengan Chill: Memaknai Kegagalan dan Menyusun Resolusi

Menghadapi 2026 dengan Chill: Memaknai Kegagalan dan Menyusun Resolusi

Menatap 2026 dengan resolusi baru


Saya menyadari bahwa permasalahan yang saya hadapi kemarin bukanlah akhir dari segalanya. Jika target tidak tercapai, saya hanya perlu mencobanya lagi.


Sejujurnya, dalam menjalankan dua misi besar tersebut, saya tidak melulu berfokus pada hasil akhirnya. Yang saya lakukan hari demi hari adalah konsistensi melakukan langkah-langkah kecil untuk mendekat ke garis finish. Saya percaya bahwa apa yang saya tuliskan sebagai resolusi pasti akan tercapai. Meski membutuhkan waktu lama, selama saya tetap berada di jalur yang benar, apa yang saya inginkan itu akan datang.


Untuk tahun 2026, ada banyak resolusi baru yang ingin saya wujudkan:

 - Finansial: Mencapai target kesehatan keuangan.

 - Literasi: Menulis buku sendiri dan menamatkan 12 buku.

 - Fisik: Mendapatkan bentuk tubuh six pack.


Saya sudah tidak sabar untuk memulai petualangan di tahun ini. Kalau kamu bagaimana? Apa saja target atau resolusi kamu di tahun ini? Dan bagaimana pencapaianmu di tahun 2025 kemarin? Yuk, berbagi cerita di kolom komentar!

Post a Comment

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!

Previous Post Next Post

Ads

Ads