Banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi mahasiswa di universitas terkenal. Bahkan, nggak sedikit yang ingin kuliah di luar negri. Gue contohnya.
Ketika di pondok dulu, kebanyakan ustad-ustad gue menceritakan pengalamannya kuliah di negri Piramid tersebut. Dari kemudahan belajar di kampusnya, perkuliahan yang tidak terikat dengan absensi, sampai jalan-jalan ke Piramid, Spinx, dan Alexandria, dan masih banyak lagi yang enak-enak.
Ketika itu, dengan polosnya gue bertanya kepada ustadnya,
Gue: Masa, ustad?
Ustad: Iya, bener. Makanya kalian belajar yang rajin ya, supaya bisa kesana.
Gue: MASA BODOO WOYY!! LAGIAN NGGAK ADA YANG NANYA JUGA SII. HIH!!
Kata gue dalam hati.
Kenapa gue berasa jadi santri yang nggak ada baik-baiknya Yaa Rabb!!
Sebelum datang kesini, banyak mahasiswa lulusan Mesir menasehati gue berupa,
‘Zi, kamu yang kuat disana yaa’
Ambigu banget sarannya.
Sesampainya disini, gue nggak menemukan perkataan ustad gue yang enyak-enyak itu. Nyatanya, tempat kuliah gue yang jaraknya jauh dari rumah. Hampir sejam, jika di tempuh dengan bis umum.  Setiap hari harus rela berdesak-desakkan dengan orang lain, yang tentunya ukuran tubuh mereka jauh lebih besar dari badan orang asia. Menahan nafas, ketika berada dibawah ketek orang Mesir. Walaupun gue berpositif thinking dia memakai deodorant sekalipun, tetep gue harus tahan nafas. Kita nggak tau juga kan, apa yang terjadi di masa depan? Kalo tiba-tiba gue pingsan, dan tubuh gue digrepe-grepe. Geli sendiri gue bayanginnya.
Saat kedatangan gue disini, hal yang gue lihat ketika bis jemputan meninggalkan bandara adalah padang pasir dan dihiasi dengan berbagai tanaman-tanaman hijau. Kontras, tapi enak diliat. Kemudian perlahan mata ini disajikan dengan kemacetan jalan raya, ‘Sama aja kayak di Jakarta’, gumam gue. Dan tibalah dimana mata gue disajikan dengan bermacam-macam bangunan kubus, kotak-kotak, dan tidak ber-genteng. ‘Beneran sampe di Mesir juga gue’.
Mungkin diantara sekian banyak mahasiswa baru, hanya gue yang masih belum menemukan jati diri untuk menjadi mahasiswa yang baik disini. Kalo mahasiwa-mahasiswa lain dengan bangganya memasang foto mereka berada di masjid Azhar, gue nggak. Gue masih kefikiran, ‘Mampus, gue mau bawa apaan nanti ke Indonesia. Belum siap gue ditanya. Gue lebih sering futsalan, dan nulis di blog, ketimbang kuliah. Langsung nikah aja deh’.
Diawal-awal, gue merasa menjadi mahasiswa disini bukan hal yang sulit. Cukup menunggu temen-temen untuk kuliah bareng, dan gue nggak akan ketinggalan pelajaran di kampus. Kenyatannya nggak seperti itu. Orang-orang yang gue tunggu, lebih fokus mengurusi perkuliahannya sendiri, ketimbang harus mengajak teman-temannya kuliah bareng.
....
Dan bodohnya, gue baru sadar sekarang.
Ibaratanya, saat ini gue kalah start dibandingakan temen-temen gue lainnya. Jauh dibelakang mereka. Baru sadar juga sih, ternyata dunia perkuliahan itu, kebanyakan mahasiswanya bersifat individualis. Tapi bukan berarti semuanya bersifat individualis sih, ada banyak juga yang saat kuliah mengajak temennya. Gue percaya itu kok. Buktinya gue pernah diajak juga sama temen gue yang lain.
Temen gue(TG): Jii, lo dimana?
Gue: Rumah
TG: TURUN SEKARANG!! KITA KULIAH BARENG!!
Gue: Ta.. ta.. tapiii kan gue...
TG: JANGAN BANYAK ALASAN!!
Tuut... tuuut.... tuut...
Setelah cuci muka dan mengganti pakaian seadanya, gue bergegas ke tempat perjanjian. Sampai disana, gue melihat tiga orang seperti sedang menunggu seseorang,
Gue: Lo kenapa sih?
TG: Lo baru bangun kan? Udah kita berangkat kuliah yuk, nanti telat.
Gue: Bego. Kampus kita kan beda. Gue juga belom beli krudung, cadar, alis gue juga belom disisir, kalo mau masuk kampus lo. Bulu mata gue juga belom di catok.
TG: Siapa yang nyuruh lo masuk kuliah banat hah?!! Lo ke kampus lah, sekalian anterin kita. (banat:perempuan)
Gue: Hari ini gue nggak ada jadwal kuliah. Astaghfriullahaladzim. Lo seenaknya aja nyuruh-nyuruh orang siih.
TG: Eh, masa deh? Hahaha. Yaudah lo pulang gih sana. Hushh... hushhh.... ahahaha.
Gue: KUDA NIL, ORANG UTAN, MACAN TUTUL, TAPIR KAKI EMPAT!!! LO YANG MAKSA GUE DATENG, DAN SEKARANG LO JUGA YANG MAKSA GUE BUAT PULANG. KALO BUKAN SAHABAT, GUE SUNDUL LO!!
**
Yah, semoga aja kedepannya nanti, gue bisa lebih baik lagi. Senggaknya bisa menunaikan kewajiban yang diberikan oleh orangtua dengan maksimal. Semoga.