Semenjak kuliah di Mesir, perlahan dan pasti, gue mulai suka nonton film horor dan acara uji nyali.
Rasa suka gue ini didasari keyakinan gue karena tidak mungkin bertemu dengan para demit-demit Indonesia di negri ini. Kota ini terlalu banyak masjid, sehingga setan nggak akan berani singgah disini. Nggak mungkin juga, para kuntilanak mangkal di pohon kurma. Nggak mungkin. Batang pohon kurma tajem-tajem gitu. Bukannya ketawa-ketawa, tapi kuntilanaknya jerit-jerit.
‘AWW...’
‘AWW....'
'SANAA...'

'SANAA..'

Kuntilanak salah gaul.

Gue kira, suara aneh itu hanya berasal dari makhluk astral. Ternyata di Mesir ada juga.
Kejadian aneh ini terjadi di kantor sekertariat almamater gue.
Malam itu, gue diajak main game CTR bareng temen gue. Namanya Arsyada. Sebelumnya, gue nggak tertarik main game ini. Game yang sempet booming ketika zaman gue TK dulu. Zaman dimana, waktu pagi gue habiskan di rental PS, ketimbang ikutan ngaji di TPA masjid deket rumah.

Masa-masa kelam.
Perlahan, jiwa gue mulai terusik dengan teriakan temen-temen gue yang sedang bermain. Temen-temen gue yang lain, telah sukses diracuni pikirannya oleh Arsyada untuk main game gampangan itu. Mereka mulai teriak-teriak sendiri ketika main game. Kayak lagi kesurupan.
‘HMMMM’
‘AARRGHHH!!!’
‘ARGGHHHH’
‘MANA DARAHH SUCIII?!!’

Njiiir, kesurupan vampir.
Permainan ini adalah permainan favorit ketika zaman gue dulu. Anak sembilan puluhan, pasti tau game ini. Yang membuat game ini seru dan membuat tiap orang teriak-teriak kesetanan adalah kita bisa mendapatkan hadiah. Mulai dari roket, uba-uba(entah namanya apa, yang penting sering dipanggil kayak gini), bom, TNT, dan banyak lainnya.
Ketika asyik memainkan game ini, perlahan gue mendengar suara. Suaranya nggak ada enak-enaknya. Sampai sekarang pun, gue masih jijik denger suara itu.

Suara itu berbunyi,
‘Arsyadaa, hayo bangun’
‘Udah pagi, nanti telat’
‘Arsyadaaa...’
‘Hayo bangung-bangun’

'Cari darah sana..'
Ternyata itu alarm Arsyada. Alarm dengan suara rekamannya sendiri. Gue tau dia jomblo, tapi kalo sampe segitunya... kayaknya udah parah. Gue iba. Tapi yang gue lakukan, kebalikan dari itu.

'MATIIN ALARM LO!! GUE GAMPAR NIH!! CEPETAN!!' Kata gue dalem hati. 
Alarm itu bunyi berkali-kali, dan nggak ada yang mau mematikannya. Bukan nggak ada yang mau, tapi semuanya merasa jijik. Jijik karena mendengarkan suara rekaman seorang cowo, yang ber isi kan suara seperti itu.

Ternyata ada yang kondisinya lebih parah daripada gue.
Yaa Rabb, tunjukan hidayahMu kepada teman hamba. Amin.