Nggak kerasa udah dua bulan berjalan tiga bulan, gue tinggal di negri orang. Dan selama itu juga, gue masih belum sepenuhnya cinta sama negri ini. Hati ini udah terpenuhi dengan senyum kamu. Iya, kamu yang itu EMMUUUACH :*
Geli, nyet!
Okeh, fokus.
Awal bulan ini di penuhi dengan berbagai macam ujian. Ujian kesabaran, ujian pelajaran, ujian nahan nggak liat senyum kamu. Akuuh kuat kok!! *kameraa manaa kameraaa?? Kalo di Indonesia, se-jenis dengan UAS lah. Bedanya di kampus gue ini, ujian hanya di adakan dua kali dalam setahun. Nggak ada semester-semester-an, apalagi cabe-cabe an. Yang ada hanya lah tingkat satu, dua, tiga dan empat.  Err... horor juga sih nge-bayangin cewe arab naik vespa sambil boncengan tiga. Gue kasian. Kasian, kalo idung mereka jadi pesek akibat boncengan tiga. Kan syeeeedih.

Bersyukurnya juga, disini para mahasiswa-mahasiswa nggak dibikin pusing dengan tunggakan bayaran SPP yang belum dibayar. Disini kuliah gratis. Yang bikin pusing adalah mendapatkan nomor tempat duduk. Mungkin buat para senior-senior sih, udah nggak terlalu memusingkan hal ini. Yang pusing adalah mendapatkan nomer tempat duduk untuk para maba. Antriannya ribuan. Belum lagi harus sabar menghadapai ammu-ammu(paman-paman) yang jaga. Harus sabar. Ekstra sabar.
Sabar, ketika lo bangung pagi dan bersentuhan dengan dinginnya air kamar mandi. Menunggu datangnya bis yang tak kunjung datang. Berdiri di bis, karena tempat duduk lo selalu di tempati oleh ibu-ibu. Kemudia datang jam delapan pagi di kampus. Mengantri di barisan paling belakang dari puluhan bahkan ratusan orang. Dan ketika tiba giliran lo, si ammu berkata dengan lemah lembutnya,
Bukroh yaa walad’
 (Lanjut besok yee, coy. Gue cape nih mau senam dulu. Senam maju-mundur cantiik, biar idung tambah sekseeh gituu. UHUY)
‘....’
‘....’
‘BAJINGJAAN!!’
(Itu bahasa arabnya terong. Inget, itu bahasa arab loh ya. Jadi kalo terong-terongan=BAJINGJAN-BAJINGJAAN. Mulai besok, temen lo yang terong, panggil aja BAJINGJAAN yaa)
Alhamdulillah masa-masa itu sudah terlewati. Gue udah punya nomer tempat duduk.
Setelah bersusah ria mendapatkan nomer tempat duduk, gue masih harus bersusah ria mencari ruang ujian. Bukan hanya gue yang mencari ruang ujian, tetapi masih ada ribuan orang lagi yang nasibnya sama kayak gue. Dan tentunya mereka berasal dari negara-negara yang berbeda. Ada dari Nigeria, yang kulitnya berwarna hitam gelap. Alhamdulillah kulit gue ternyata nggak gelap-gelap banget. Uuh... gue seneng banget nulis kalimat terakhir itu. Ada dari negri Mesir sendiri, dari Thailand, Malaysia, Indonesia, Jawa, Madura, Surabaya, Jogjakarta, Jakarta, BEKASI. Pokoknya rame banget. Kayak konser dangdut.
Setalah muter-muter ruangan, ternyata nomer tempat duduk gue nggak ada. Agak serem juga sih, berhubung waktu ujian mau di mulai. Tapi rasa gundah itu sirna ketika gue mendengarkan suara itu. Suara yang entah apa artinya, tapi sangat unik di dengar,
Kao bpenkon dta ang chaat (lebih jelasnya bisa didengar disini)
Entah kenapa, setiap kali gue dengar orang Thailand ngomong dengan bahasanya, bawaannya mau nyium kamu ketawa. Mungkin karena faktor sering nonton film komedi, makanya kayak gini. Mungkin. Dan karena tertawa itu, gue mendapatkan pencerahan dan sedikit rasa lega. Ternyata nomer tempat duduk gue memang tidak akan pernah di temukan di ruangan manapun. Dicari dari subuh sampe magrib, juga nggak akan pernah ketemu. Dari jomblo sampai jomblo lagi juga nggak akan pernah ketemu.
*kemudianhening
*masihhening
Karena tempat ujian gue berada ada di lorong gedung.
Cukuup hayati. Jangan permainkan abang. Abang udah ngga kuat di permainkan kamu. Tampar abang, hayati. TAMPARR!!
Ujian pertama kemarin adalah pelajaran Tafsir. Pelajaran yang benar-benar harus bersifat terbuka dan menerima. Karena di pelajaran itu, setiap mahasiswa dituntut untuk memahami dan menerima setiap pendapat dari para ulama-ulama fiqh(Syafii, Hanafi, Hambali, dan Maliki).
Contohnya,
Apakah Basmallah itu termasuk dalam surat Al-Fatihah? Apakah membaca Al-Fatihah itu wajib dalam sholat?
Pusing? Iya. Jujur, gue baru sadar kalo ternyata ulama dulu itu, kritis banget pola pikirnya. Dan setiap dari mereka, mempunyai dalil yang kuat dalam setiap apa yang mereka sampaikan. Huuft.
Sebenernya, ada rasa bosen dalam hati gue, karena selalu belajar tentang agama. Bukan merasa udah paling pinter. Nggak sama sekali. Terkadang, gue penasaran dan mau mencoba merasakan pelajaran-pelajaran yang nggak gue pelajarin di pondok. Yah, tapi mau gimana lagi? Tinggal dinikmatin aja laah~ *tsaah.
....
Yah, mungkin ini dulu tulisannya. Sebenernya gue nulis ini, supaya bisa me-refresh otak gue aja. Dan tentunya minta doa juga dari kalian, semoga ujian gue ke depannya nanti dipermudah. Amin.
Cium hangat dari sini untuk kamu, EMUUACHH :*
Jijik ya? Sama!