Pertanyaan yang sering kali keluar dari mulut teman-teman gue untuk saat ini,
‘Lu kapan, Ji? Temen-temen deket lu udah pada mau nikah tuh. Lu nggak mau nyusul?’
Tapi, hal sebaliknya yang sering muncul di kepala gue adalah,
‘Hapalan lu kapan nambahnya, Nyet? Nonton vlog mulu sih, bego amat lah. Buang-buang waktu’
‘Mau ngurusuin badan, tapi makan mulu. Resolusi doang, realisasinya mah nggak’
‘Kuliah disini udah dapet apa? Selain di godain orang pas nge-gym’
‘Passion itu sebenernya penting nggak sih?’
‘Belajar manage waktu sama uang, Nyet. Hidup hemat kek’
**
Setiap orang mempunyai skala prioritas yang berbeda-beda pula. Ada yang merasa nikah merupakan prioritasnya untuk saat ini, dan ada juga yang menganggap nikah itu, ya emang bisa dilakukan nanti saja. Ketika segala hal yang ingin di realisasikan telah terwujud, ataupun ketika segala hal yang bisa membuat kedua orangtuanya bahagia telah selesai dilaksanakan. Baru setelah itu baru berfikiran untuk menjalin hubungan hubungan serius dengan orang lain.
Gue nggak masalah juga sih, sama orang-orang yang memilih untuk nikah muda. Itu kan urusannya.
Terkadang gue jadi kepikiran juga, siapa ya cewe yang akan gue perjuangkan nantinya? Ini semua gara-gara ngobrol sama orang yang pada ngebet nikah sih, kampret. Serasa menjadikan mereka kambing hitam ya? Tapi emang kenyataannya gitu.
**

Tugas gue yang sampai sekarang ini belum terselesaikan adalah membuat majalah online untuk salah satu organisasi yang ada disini. Salah gue juga sih, menulis program kerja yang gue sendiri pun nggak paham cara bikinnya. Tapi gue punya alasan sendiri kenapa ingin melakukan hal ini. Pertama, karena gue sama sekali belum menemukan majalah berbentuk online yang ada di Mesir. Kedua, ya emang biar terkenal aja gitu.
Nggak bermutu banget kan alasannya?
Setelah bosan membaca banyak tulisan tentang cara pembuatan majalah online, sekarang gue mengarahkan kursor menuju folder-folder film.
‘Kayaknya film download-an kemarin, masih banyak yang belom di tonton deh’ fikir gue.
Saat asik cari-cari film, nggak sengaja melihat folder file yang bertuliskan ‘Memories’. Dan setelahnya malah asik melihat foto-foto yang sudah ada sejak tiga tahun lalu.
Satu foto yang membuat diri gue termenung lumayan lama, dan mengingat moment di tiga tahun yang lalu.
**
Hal yang paling bisa diingat dari si wanita ini adalah ketika gue dengannya bertemu di salah satu mall yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Itu pun, setelah ngobrol lama dan akhirnya bisa membuat kesepakatan untuk bertemu berdua di hari menuju senja itu. Btw, dia suka dengan senja. Gue malah sebaliknya.
Ah, gue masih ingat sore hari itu.
Dia mengenakan krudung berwarna ungu, serta abaya yang berwarna senada. Tampilannya mirip kayak ibu-ibu pengajian pas acara mamah Dedeh, bukan? Haha. Kacamata yang ia kenakan, semakin membuat dirinya terlihat pintar. Memang pada dasarnya dia pintar kok. Kalau kata teman-temannya, dia itu salah satu sosok manusia yang sering sekali tidur di kelas. Tapi menurut gue ya bebas aja lah, pintar, cantik, salah satu murid yang cukup di kenal oleh satu angkatan, terus ada yang salah dengan sering tidur di kelas? Murid lain juga banyak kali. Nah, untuk yang ini gue sama dengan dia. Sama-sama suka tertidur di kelas. Bedanya, ya nilai gue nggak lebih baik dari dia aja sih. Hahaha.
‘Kamu kalau ngajak nonton film kayak gitu, si Riani suka tuh. Aku kurang ngerti alur ceritanya’
‘Kemarin adek aku dimarahi sama ayah, karena ketahuan deket sama cowo’ Katanya sambil tertawa.
‘Dia ketahuan, setelah ayah meriksa hapenya’
‘Abis itu dia marahin aku, karena aku nggak bantuin dia’
‘Hahaha’
‘Oh iya, jadinya kamu mau lanjut kuliah dimana?’
‘Aku sekarang lagi sibuk ngurus berkas-berkas yang dibutuhin nih. Doain biar semuanya lancar ya!!’
‘Mungkin kalau semua berjalan lancar, tiga bulan lagi aku mulai kuliah. Nanti aku kabarin kamu deh kalau udah deket-deket hari H’
‘Sekarang kamu fokus aja sama yang ingin kamu raih, tunjukkin kalau kamu tuh bisa’
‘Kamu pasti bisa kok. Masa segini aja udah nyerah’
Kalimat-kalimat itu yang masih sering teringat di kepala gue. Raut mukanya ketika berbicara, serta senyumnya saat dia tertawa. Gue rela seharian mendengarkan dia berbicara tentang apa saja. Ah, dulu kayaknya sederhana banget untuk bahagia. Sekarang? Apa-apa terlalu difikirkan berlebihan, bukan bersyukur dengan apa yang di punya, tapi selalu memikirkan apa yang kurang. Gimana bisa menjadi makhluk yang bersyukur?
Sekarang dia sudah mempunyai pasangan yang selalu bisa membuat dirinya bahagia. Dan gue masih saja berada di titik yang sama, terpaku dengan kenangan yang sudah terjadi di tiga tahun yang lalu. Ada dua jenis orang yang menyikapi sebuah kenangan. Pertama, orang yang tidak akan larut dalam sebuah kejadian, lalu selanjutnya yang dia lakukan adalah menciptakan hal-hal baru yang selanjutnya akan membuat kenangannya menjadi beragam. Dan yang kedua, orang yang terjebak dalam sebuah kenangan, dan tidak ingin menciptakan hal-hal baru untuk di kenang selanjutnya.
**
Mungkin kalau di awal tadi gue menuliskan untuk belajar me-manage waktu serta uang, sepertinya gue punya satu hal lagi yang harus dikerjakan untuk sekarang ini, manage hati. Terimakasih untuk kenangan yang telah hadir di masa lalu. Dan terimakasih untuk segala lagu-lagu Mocca yang selalu menemani.
Sekarang memang sudah waktunya untuk bisa berdamai dengan masa lalu, agar nantinya bisa terbuka dengan orang baru. Dan sebelum bisa berjalan beriringan dengan sosok gadis yang benar-benar gue sayang, alangkah baiknya kalau gue mempersiapkan semuanya. Ilmu, mental, ekonomi, serta kesiapan untuk menghadapi calon mertua. Sama seperti perkataannya Tirta disini,


Yah, semoga saja semua bisa berjalan lebih baik dari yang sebelumnya.

-Tulisan ini diikut sertakan untuk giveaway @romeogadungan