Kuliah di luar negri itu nggak seindah bayangan orang-orang kok. Butuh perjuangan ekstra untuk kuliah di luar negri. Perjuangan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, perjungan untuk bisa bicara dengan bahasa sini, sampe perjuangan nungguin bis yang nggak dateng-dateng. Sama halnya, kayak perjuangan aku nungguin balesan cinta kamu. *emuuach
Geli, nyet
Tulisan kali ini, gue mau ngebahas hal-hal yang ringan aja. Nggak usah ngebahas tentang perkuliahan dulu. Apalagi ngebahas tentang kelas gue. Yah, mungkin sampai semester satu ini berakhir, gue nggak akan hapal dan kenal dengan para temen-temen satu kelas. Karena jumlah muridnya yang mencapai angka seribu. Bisa bayangin, temen satu kelas lo berjumlah seribu orang? Nggak bisa kan? 
Berasa lagi nonton konser dangdut. Rame. Nggak ada yang pake helm aja
Yah, lebih baik bayangin gue aja sih. Hah? Apa? Paru-paru lo sakit abis bayangin gue? Yes. Mamam tuh sesek nafas.
Keunikan menjadi mahasiswa di Mesir itu banyak. Salah satunya adalah kita para mahasiswa sini, khususnya para mahasiswa baru, mempunya sebuah film wajib yang harus ada di laptop. Sebuah film yang memotivasi para mahasiswa Mesir untuk lebih semangat dalam segala hal. Mulai dari semangat belajar, sampai semangat untuk mencari jodoh. Yang terakhir itu, gue banget lah pokoknya. Sebuah Film yang mengajarkan tentang sebuah arti ‘Proses belajar’. Yap, film itu berjudul Anaconda,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
 My anaconda don’t want none unless you got buns, hun
.....
Err.... Kayaknya ada yang salah. Oh iya! Judulnya, Ketika Cinta Bertasbih. Iya, film yang biasa disebut KCB itu tuh. Bukan Anaconda,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
Tampar gue, kalo gue nyanyi lagi. Tampar!!
id.wikipedia.org
Sebelum gue pergi kuliah, temen-temen gue disibukkan dengan nobar film ini. Sebenernya, gue males sih nonton film ini. Soalnya yang nonton cowo semua. Kebayang dong, ini film bertemakan cinta, tapi yang nonton cowo semua. Agak geli-geli gimanaaa gitu. Apalagi kalo temen gue terlalu menghayati film ini, dan gengam tangan gue. Nggak usah deh. Daripada tangan gue di genggam sama cowo, lebih baik gue berangkat kuliah lebih awal atau lebih baik gue nyanyi,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
 Tampar gue sekarang!!
Yah, walaupun rencana berangkat kuliah lebih awal, sempat terlintas di kepala, tapi gue lebih milih untuk nonton juga sih. Film ini berceritakan tentang kisah seorang mahasiswa bernama Azzam yang kuliah di Al-Azhar Kairo selama sembilan tahun sambil berjualan bakso dan tempe. Kisah ini nggak semuanya salah sih, tapi nggak semuanya bener juga. Film ini akan terlihat lebih salah, kalo si Azzam nyanyi  Anaconda,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
.....
Adegan yang gue masih inget sampai sekarang adalah ketika Azzam menolong Anna. Seorang wanita sholehah, yang pada akhirnya akan menjadi istrinya Azzam. Kalo di dalam cerita, temennya Anna kecopetan di bis, dan itu memang benar sering terjadi. Maksud gue, disini memang rawan pencopetan dan kisah itu memang bener adanya. Adegan yang bikin gue bingung adalah ketika Azzam pulang ke rumah, setelah menolong Anna. Di filmnya digambarkan, kalo Azzam pulang naik taksi menuju rumanya melewati tiga Piramid. Padahal kenyataannya, rumah Azzam nggak sejauh itu kok.  Ibaratnya, kita mau pulang dari Tangerang menuju Jakarta. Tapi kita pergi ke Bandung dulu, baru ke Jakarta. Capek ya? Kasian supirnya. Mendingan nyanyi dulu deh, pak supir. 
Tapi terlepas dari itu, film ini punya banyak hal yang bisa diambil. Menuntut ilmu itu memang harus seperti itu. Di salah satu hadits juga menerangkan, kalo salah satu syarat untuk menjadi penuntut ilmu adalah waktu yang lama. Nggak menutup kemungkinan kok, kalo yang kuliahnya lama selesai bisa sukses dan ilmunya bermanfaat buat orang lain. Gue inget dengan pesan Kyai gue,
“Hidup itu nggak hanya berurusan dengan sekedar makan, kerja, kawin. Kalo kayak gitu, kambing juga bisa”
Selain tentang lamanya seorang mahasiswa menuntut ilmu, film itu mengajarkan kalo orang yang baik, akan bertemu juga dengan yang baik. Laki-laki yang baik akan bertemu dengan perempuan yang baik. Sama halnya dengan pesan yang disampaikan oleh kyai gue,
“Jangan pernah bosan jadi orang baik”
Karena semuanya akan ada balasannya kok.
Sekian dulu tulisannya. Semoga tulisan ini bisa bermnafaat yah...
Dan semoga ada perempuan khilaf yang naksir yah... banyak juga nggak apa-apa kok. Serius.
Emuuach :*