Sahabat. Kalo ngomongin masalah ini, nggak akan ada habis-habisnya. Panjang banget kalo cerita masalah tentang sahabat. Pernah waktu itu, tepatnya sih malem minggu, gue sama temen gue ngebahas tentang sahabat. Yah, memang faktor nggak punya kekasih juga sih, makanya lebih menyibukkan diri sama temen-temen aja yang ada disekitar. Bukannya kita nggak laku, tapi persoalannya hanya di wanita-wanita yang ada di sekitar kita. Mereka aja belum sadar kalo disamping mereka ada cowo keren. Mereka nggak peka. Hiih... *ini kok ngondek banget -,,-. Memang saat ini gue megang teguh prinsip nggak pacaran. Kenapa sampai saat ini gue nggak pernah pacaran?? Karena belum ada wanita yang pantas mendapatkan gue. Aaiihh... sedaaapppp.
Di postingan-postingan sebelumnya gue udah pernah nulis tentang persoalan sahabat. Kalo mau ingin tau lebih tentang cerita-cerita gue sebelumnya, bisa baca disini, disini, disini dan disini. Dan pada kesempatan kali ini, gue akan cerita singkat tentang sahabat gue itu.
Anggep aja namanya Ria. Hampir tiap hari kita makan bareng dan cerita segala hal. Gue juga heran, kenapa setiap ketemu, pasti adaaa aja sesuatu yang diomongin. Yah, mulai dari keluarga, temen-temen terdekat, pelajaran, bahkan ngomongin orang pacaran disamping kita duduk. Kita ngomongnya menggunakan bahasa arab sih, jadi presentase ketauan sedikit. Walaupun gue teriak-teriak juga, mereka nggak akan paham. Dan ini adalah salah satu yang gue banggain sebagai anak pondok. Hihihi *ketawa elegan*.
Yah, memang sih, persahabatan gue sama Ria ini masih sebentar. Baru sekitar lima bulanan. Tapi kita udah janji, akan menjadi sahabat selamanya.
Ketika itu, muncul orang ba(r)u di persahabatan kita. Gue nggak suka sama orang ini, karena gue tau sifatnya gimana. Dan memang, dia salah satu orang yang masuk ke daftar blacklist gue. Tapi hal ini nggak berlaku untuk Ria. Ternyata orang kampret ini PDKT sama Ria, dan voila... mereka pun jadian. Selama masa PDKT-an itu, Ria nggak pernah cerita apapun sama gue. Bahkan ketika jadian pun dia nggak cerita sama sekali ke gue. Pada akhirnya, dia melanggar perjanjian yang telah kita buat.
Gue galau di posisi itu. Kehilangan seseorang yang memang berarti dalam kehidupan gue. Saat itu gue hanya bisa meratapi nasib. Nasib, kenapa orang kampret itu suka sama Ria bukan sama gue. Apa yang kurang dari gue coba? *Astagfir*. Fikiran gue ketika itu hanya mengingat kenangan manis bersama dia, dan memikirkan kesalahan apa yang telah gue perbuat, sampai pada akhirnya Ria meninggalkan gue seperti ini. Dua bulan, gue makan sendiri, dan dua bulan itu, gue hanya cerita ke tembok. Dan dua bulan, gue baru paham ternyata nggak ada gunanya cerita ke tembok.
Mata gue perih, perut gue mendadak mau muntah, ketika melihat Ria dan orang kampret itu mesra-mesraan di jejaring sosial. Sehingga gue putuskan untuk meng-unfriend Ria, dan mem-block akun orang kampret itu. Yang bisa gue lakukan ketika itu, hanya berdoa agar mereka cepet putus, berdoa itu lagi, dan lagi. Pokoknya sampai mereka putus deh. Kejam yaa??
Dua bulan, gue nggak pernah kontakan sama Ria. Dan nggak tau tentang kabarnya. Walaupun nomer hapenya gue hapus, tetep aja otak gue masih bisa mengingat nomernya. Kampret memang -,,-. Gue udah janji sama diri gue sendiri untuk nggak pernah menghubungi Ria lagi. Tapi apa dayaa... janji yang telah dibuat harus dilanggar. Biasanya emang kayak gitu sih. Gue yang janji, dan gue juga yang mengingkarinya.
Gue: Ini Ria?
Ria: Iya. Ini siapa ya?
Gue: Tebak dong. Lupa sama suara gue ya?
Ria: ....
Dia nangis. Ternyata suara gue yang merdu (baca:ANCUR) ini masih diinget. Khilaf mungkin dia bisa inget sama suara gue. Tapi, gue terharu... hiks.. hiks.. tisu, TISUUU MANAAA TISUUU..?!! Dan beruntung, dia menangis ketika sedang telponan. Gue paling nggak kuat kalo liat seorang perempuan, terutama temen-temen gue nangis. Jelek soalnya. Ingus mereka keluar kemana-mana. Keluar dari hidung kemudian, masuk ke kuping. Hiih... nggak usah dibayangin. Gue aja nggak kuat.
Ketika denger suaranya, hati gue terasa tenang. Serasa ada nyanyian indah dan sekumpulan orang yang ceria, disekitar gue. Indah banget. Kebetulan, ketika itu lagi nonton dangdut keliling, makanya rame. Penyanyi cakep loh. –oke, serius- Gue kangen sama dia. Yah, sahabat gue itu. Mungkin pernyataan, kalo cewe gengsinya selangit itu, ada benarnya juga. Di kasus ini, sebenernya yang salah Ria, tapi gue yang minta maaf. Sakit. Sakitnyanya tuh disini *megang perut. Semoga ini terakhir kalinya dia ninggalin gue seperti ini. Yah, semoga aja. 
Itu KELINCI. Bukan GUE.

Di hari-hari berikutnya, gue sama sekali nggak bisa nelpon Ria. Gue nelpon Ria, tapi selalu operatornya yang jawab. Kasian banget operatornya. Dia nggak pernah di telpon sama pacarnya. Yah, nasib lo, mbloo...
*kemudian tedengar teriakan dari jauh* LOO JUGA JOMBLOO, NYEET
Sampai pada kesekian kalinya, gue berhasil menelpon Ria. Dia bilang, kalo kemarin itu pacarnya yang bawa hapenya. Dan, sebenernya pacarnya udah bilang sama Ria, kalo gue nelpon. Tapi memang dasarnya aja, si Ria nggak mau nelpon. Huffft. Dari sini, gue udah merasa nggak nyaman sama sekali terhadap sahabat gue ini. Seolah dia lebih memilih orang baru, ketimbang sahabatnya sendiri. Ini sebenernya udah kejadian sih. Buat penekanan aja.
Sampai pada akhirnya...
Gue: Lo sibuk banget ye? Bilang aja kali kalo lo sibuk, biar gue nggak ganggu lo dulu, neng.
Ria: Percuma. Lo gue jelasin juga nggak akan mau ngerti.
Gue: Kenapa lo nethink kayak gitu?
Ria: Yaudah lah, gue nggak mau ribut. Kalo masih bahas ini, nomer lo gue blokir.
See... Setelah kejadian itu, gue sadar kalo diri ini bodoh. Gue bodoh, karena berharap lebih agar dia menjadi sahabat gue untuk selamanya. Gue bodoh, karena nggak memakai logika untuk menyelesaikan masalah ini, melainkan memakai perasaan. Gue bodoh, karena makai kaos terbalik. Yang paling akhir, gue jarang kok. Pas khilaf aja. 
Thanks a lot
Dari sini, gue bisa ambil pelajaran. Kalo segala sesuatu itu, jangan pernah untuk menyukainya secara berlebihan, maupun membencinya secara berlebihan juga. Ketika diri lo suka terhadap orang lain secara berlebihan, maka bersiaplah untuk sakit yang berlebih juga. Se-simple itu. Biasa aja untuk menyikapi segala hal. Nggak usah l3B4y. 
Apa lo pernah ngerasain persahabatan seperti itu? tulis di kotak komentar ya...

sumber foto: http://frabz.com/4gb0