Semua hal yang ada di dunia ini semuanya hanya bersifat sementara. Nggak ada yang kekal selain Sang Maha kuasa. Pasti semua orang pernah kehilangan benda yang disayangnya, pernah kehilangan orang yang disayangnya, pernah kehilangan pacar *bagimerekayangpunya. Gue yakin, semua orang pasti pernah merasakan hal itu.

#Akurapopo
Bayangkan kalo lo punya pacar yang cantik, perhatian sama lo, sayang sama lo, menerima diri lo apa adanya. Ini kita bayangin aja loh yak. Kalo yang punya pacar sih, merasakan hal yang gue ketik tadi di atas. Nah, bagi lo yang belom punya dan belom pernah ngerasain, bayangkan aja ‘kalo’ lo punya pacar. Sekali lagi, ‘kalo’ lo punya. Kalo nggak punya yaudah.
Ketika itu, diri lo lagi bahagia-bahagianya sama pacar lo. Kemana-mana selalu bareng. Dunia serasa milik kalian berdua, dan kalian lebih memilih seorang pacar ketimbang seorang temen. Dan kalian harus menerima sebuah kenyataan kalo masa-masa bahagia itu hanya sementara. Gimana perasaan kalian? Sakit? Nyesek?
Sahabat menurut gue, ibaratnya seperti rumah ke dua bagi kita. Kalo kita jenuh sama keadaan di rumah, dan bingung mau melakukan apa, pasti kita akan pergi ke sahabat kita. Entah untuk cerita masalah, minta traktiran dari mereka, atau pun menghabiskan jatah makanan di rumah mereka. Kalo gue sih, condong sama yang terakhir sih. Jadi, sejauh apapun kita pergi, sama siapapun kita pergi, bagaimana keadaan kita setelah pergi, sahabat bakalan ada untuk diri kita.
Gue mau share aja tentang persahabatan gue sama Ria.

Sebelum gue kenal sama Ria, gue kenal sama sahabatnya. Anggap aja namanya Dewi dan Lathifah. Dua orang itu yang membuat gue kenal sama Ria. Ketika itu gue liat foto Dewi bersama temen-temennya. Dewi bilang, itu foto dia sama temen-temennya ketika jalan-jalan di bandung. Keren memang Dewi ini. Rumahnya di Jakarta, tapi kalo jalan sampe bandung. Bayangin, seorang cewe cakep jalan kaki ke bandung.
Okeh, ini nggak lucu.
Setalah gue amati fotonya, gue fokus sama satu orang cewe yang berkerudung putih dan memakai baju berwana ungu. Cakep. Satu kata yang gue keluar dari mulut gue. Mukanya bersih, pipinya tembem, yah... persis sama gue waktu kecil. Imut-imut gimanaaa gitu. Sekarang juga masih tetep imut kok.
Pertama kali gue deket sama Ria itu, orangnya super cuek, tapi cakep. Apa rata-rata cewe cakep itu cuek ya? Ah, buktinya gue cakep, tapi sering becanda kok.
‘Siapa, zi?’
‘Ya gue lah yang cakep. Kata nyokap aja, gue cakep’
‘SIAPA YANG NANYA, WOOY!!’
Okeh, fokus.
Singkat cerita gue udah kenal sama Ria. Kita sering cerita bareng. Tapi ketika itu, kita hanya sebatas cerita melalui telpon, dan hanya baru sekali gue ketemu sama Ria. Lalu, sampai akhirnya... takdir mempertemukan gue sama Ria hampir setiap hari, dan dalam jangka waktu yang lama.
Iya, setiap hari gue ketemu sama Ria. Waktu itu, Ria memang sedang belajar di kampung unik. dan selang beberapa hari, gue juga pergi ke kampung unik untuk belajar. Setiap hari kita ketemu, dan setiap waktu makan, kita pasti makan bareng. Sebulan, dua bulan, nggak terasa gue dan Ria lalui bersama. Ketika itu, perasaan naksir gue ke dia, sedikit-sedikit mulai hilang. Lalu berganti ke perasaan seorang sahabat yang tulus sayang terhadap sahabatnya. Dan betapa senengnya gue, ketika mendengar kalo dia juga mau jadi sahabat gue.
Dan Perjalanan gue ke pulau terindah di Indonesia, perlahan mulai menghapuskan kisah persahabatan gue sama Ria. Yang penasaran sama Pulau terindah di Indonesia, bisa baca disini.
Setelah perjalanan itu, Boby sering berduaan sama Ria. Entah itu makan bareng, satu kursusan bareng. Pokoknya mereka berduaan. Gue juga nggak tau, kenapa Boby nggak pernah bilang, kalo dia lagi PDKT sama Ria. Dan ketika kejadian PDKT itu berlangsung, Ria udah jarang cerita ke gue. Jangankan cerita, ketika gue ajak makan bareng, dia sering nolak.
Sampai akhirnya, Ria bikin status di jejaring sosialnya, kalo dia nggak mau deket sama temen-temen gue dan termasuk gue. Entah, apa alasannya. Intinya dia nulis status seperti itu. Ketika gue ketemu sama Ria, Ria udah nunjukkin tanda-tanda dia bete atas kehadiran gue. Tapi, gue nggak hiraukan tanda-tanda itu. Gue mencoba untuk positif thinking. Sampai akhirnya, gue bertanya langsung sama Ria. Dan jawaban dia adalah, ‘Iya, gue males kenal sama temen-temen lo. Gue mau biasa aja sama mereka. Begitu juga sama lo, mat’.
Keesokan harinya, gue nggak bisa fokus sama pelajaran di kelas. Biasanya sih memang gue nggak bisa fokus sama pelajaran. Lebih fokus sama Hp, padahal nggak ada notif sama sekali. Kasian memang. Gue liat status WA Ria, ternyata dia udah jadian sama Boby. Gue kirim pesan, menanyakan kebenarann dari status WA nya. Bukannya jawab pertanyaan gue, dia malah ketawa dan minta pendapat gue. #GONDOKMAKSIMAL
Ternyata dia udah jadian sama Boby. Dan nggak cerita sama sekali sama gue.Yah, mungkin karena memang gue masih belom bisa terima kalo dia deket, bahkan jadian sama boby. Dan itu, membuatnya nggak bisa terbuka lagi sama gue. Hari-hari gue juga udah nggak se-rame sebelumnya. Udah nggak bisa deket lagi sama Ria. Akhirnya, Ria bilang ke gue, walaupun itu nggak secara langsung sih. Dia bilang, dia udah bosen sama gue. Bosen karena gue nggak bisa ngertiin dia, selalu menanyakan hal-hal yang nggak penting. Seolah, gue nggak percaya sama Ria, kalo setiap dia punya masalah akan dateng ke gue.
Ini sebagai pelajaran untuk kalian yang punya sahabat. Jangan pernah mengikuti jejak gue. Ketika lo punya sahabat, percaya sama dia. Percaya, sejauh apapun dia pergi, dia akan kembali ke lo. Berusaha untuk turut seneng, ketika sahabat lo bahagia. Walaupun dia bahagia, bersama orang yang lo benci. Berusahalah untuk tersenyum. Sahabat itu bagaikan pasir. Jangan terlalu di genggam(dikekang), semakin lo genggam, akan semakin cepat dia keluar(pergi meninggalkan lo). Tetapi jika lo melakukan yang sebaliknya, siap-siap untuk kehilangan seorang temen yang lo sayang.
Pernah merasakan kehilangan hal yang lo sayangi? Tulis di kotak komentar ya.
sumber gambar:http://www.aceh.basarnas.go.id/index.php/baca/berita/1228/pencari-kayu-alim-hilang-di-hutan-lesten-aceh-tamiang