Kekayaan alam di Indonesia memang nggak ada matinya. Dari pegunungan yang indah, pantai yang sejuk di pandang, sampai mesranya orang pacaran di Indonesia. Untuk kali ini, kita nggak membahas masalah yang terakhir, karena itu hanya membuat dada gue sakit dan membuat gue mendoakan hal yang buruk kepada mereka. Iya, mereka yang pacaran depan gue bakalan gue doain hal yang buruk.
Malam tahun baru kemarin adalah malam yang nggak akan gue lupain seumur hidup. Malam tahun baru yang paling spesial bagi diri gue, karena malam tahun baru itu gue resmi nggak di rumah sambil nonton FTV, tapi gue merayakannya sama temen-temen gue. YEAH!!
Tanggal 31 desember kemarin, gue bareng temen-temen yang berjumlah enam belas, memutuskan untuk merayakan tahun baru di pulau Sempu. Memang pulau sempu belum setenar gunung mahameru, ataupun gunung Bromo. Dan Mungkin dari kalian belum tau pulau sempu itu apa, sekarang ijinkanlah gue untuk menjelaskan pulau sempu itu secara singkat, padat, dan (nggak) jelas.
Pulau sempu itu adalah sebuah pulau di pinggiran kota Malang, yang punya pemandangan yang sangat amat super sekali. Dan tentunya, tempat itu akan lebih keren untuk menembak orang yang kita taksir. Dan berhubung sampai sekarang, cewe yang gue taksir nggak punya perasaan seperti apa yang gue rasakan, jadi menurut gue pulau sempu ini sebatas pulau yang mempunyai pemandangan yang keren. Udah itu aja, nggak lebih.
Perjalanan gue dari kampung unik menuju pulau sempu harus berhenti terlebih dahulu di malang, untuk mengambil alat-alat kemah. Memang karena rombongan gue adalah temen-temen pondok gue, yang nggak pernah mengurusi masalah persewaan alat-alat kemah ini, kita ikhlas nggak mendapatkan tenda. Karena ketika gue sampai di tempat persewaan itu udah abis di sewa sama orang lain. Di pulau asing, tanpa tenda, tanpa cewe gebetan, apa jadinya gue nanti disana?? Kampreto _ _”. Uuh... yang ‘tanpa cewe gebetan’ lupain aja ya.
Setelah musyawarah sama rombongan, kita putuskan untuk menyewa terpal. Salah satu kelebihan anak pondok lainnya adalah sebagian dari kita pernah menjabat sebagai pengurus pramuka di pondok, dan masalah tenda-tendaan... Semua bisa diatur. Dan kalian tau,
gue adalah salah satu pengurus pramuka di pondok. Iya, GUE. Sumpah, gue nggak ada maksud untuk sombong, cuman sekedar pamer aja.
Alhamdulillah terpal masih ada di tempat penyewaan alat-alat kemah itu. Yah, mungkin dari para petualang udah nggak ada yang mau menyewa terpal, karena udah banyak tenda-tenda saat ini yang sekali lempar langsung jadi. Finally, kita menyewa tiga buah terpal, sepuluh matras, dan alat untuk masak. Nggak penting ya? Lewatin aja.
Perjalanan dari tempat penyewaan ke pulau sempu masih jauh. Temen-temen gue kebanyakan pada tidur di mobil, tinggal gue sama temen samping gue aja yang ketika itu belum tidur. Kebetulan kita memang duduk di depan. Dan sumpah itu kebetulan aja, nggak ada rasa apa-apa diantara gue berdua.
‘Ji, menurut lo ada kejadian apa di pulau Sempu nanti?’ Kata temen samping gue. Anggep aja namanya, David. Nama aslinya sih nggak sebagus itu, tapi yah.... anggep aja gitu.
‘Yah, liat nanti aja lah, cuy. Gue yakinnya sih ada cewe khilaf yang nembak gue pas disono’ Kata gue.
Sebenernya sih gue kurang yakin sama perkataan gue sendiri. Mungkin karena keseringan ditolak sama cewe, gue jadi nggak berani suka sama cewe. Tapi bukan berarti gue berani suka sama cowo. Bukan gitu loh yak!
Sampai juga akhirnya di pulau sempu.
Dugaan gue kalo pulau Sempu itu rame ternyata bener. Dan baru kali ini juga dugaan gue bener, karena sebelum-sebelumnya salah. YESS!! Tapi setelah dipikir baik-baik,.... Wajar aja sih pulau Sempu itu rame, karena memang pulau Sempu itu kan tempat wisata. SH*IT.
Rombongan gue jumlahnya ada tujuh belas orang. Lima belas orang naik travel dari kampung unik, dan dua lagi naik motor. Lebih jelasnya liat foto ini aja yak...
Tebak gue yang mana?
Untuk sampai ke pulaunya kita harus naik perahu terlebiih dahulu, sebenernya kalo mau berenang juga nggak ada yang ngelarang sih. Tapi kan nggak lucu, sebelum tracking udah tenggelem duluan di laut. Kan jadi nggak keren. Kalo gue sih memang terlahir keren. Uuh.... kok gue geli sendiri sih nulisnya.
Dan sekaranglah waktunya untuk merasakan perjalanan yang sebenernya....
Tujuan kita adalah pantai di balik pulau ini, dan itu berarti kita akan masuk hutan untuk bisa sampai ke pantainya. Setelah gue perhatikan rombongan gue, kok ada yang beda sama rombongan lainnnya. Iya, gue baru sadar. Rombongan gue nggak mencermikan sebagai petualang tangguh yang memakai tas gunung, sepatu boot keren, iket kepala yang gue sendiri nggak tau apa fungsinya. Rombongan gue lebih terlihat sebagai anak-anak yang sedang mau piknik tapi salah tempat. Mulai dari makai sepatu santai, sandal jepit, bawa galon kecil di tangan, bawa air mineral satu liter dan tentunya di pegang bukannya dimasukkan tas, makai kacamata hitam, dan terakhir ada yang makai headsheet. Iya, temen gue makai headshet di tengah hutan dan lagunya INDIA.

Liat, di balik tangannya itu ada headsheet dengan lagu INDIA.

Kurang keren apa coba? Jalan di hutan make kacamata hitam

Ini perdananya gue masuk hutan, begitu juga dengan temen-temen gue. Sebenernya kita bisa aja buat menyewa jasa seorang tour guide, tapi rombongan gue memilih untuk jalan sendiri. Selama kita bisa jalan sendiri, untuk apa kita memerlukan seorang tour guide. Walaupun nggak ada satu pun dari rombongan gue yang tau, ke arah mana kita akan jalan. Kita hanya bermodalkan Felling. Iya, bermodalkan Felling orang yang jalan paling depan. Itu aja. Dan semoga orang yang jalan di depan ini lagi punya good Felling. Semoga. Kalo orang yang di depan lagi galau, bisa dipastikan Fellingnya buruk, dan gue yakin kita bukan jalan ke arah pantai, tapi ke arah hati cewe yang dia taksir. Ejieelaahhh!!! Lebay amat, bang.
Rombongan yang berjalan di depan gue ternyata berhenti. Otomatis rombongan gue juga ikutan berhenti. Kita sampai pertigaan hutan.Uuh... maksudnya ada tiga jalan berbeda gitu. Rombongan depan gue melirik ke arah rombongan gue, begitu juga rombongan gue melirik ke arah rombongan yang di depan.
‘Mas, duluan aja. Kita ikut sampean. Kita nggak tau jalan soalnya’ Kata salah satu dari rombongan depan.
‘Lah sama, mas. kok bisa sama gini ya? Jodoh ya kita?’ kata salah satu dari rombongan gue. itu bukan gue. BUKAN GUE, SUMPAAHH!!! PLEASE JANGAN LIATIN GUE KAYAK GITU.
Pusing campur bingung gue rasakan, begitu juga dengan temen-temen gue. Mau nanya sama penjual rokok, nggak ada yang jualan di hutan. Akhirnya kita putuskan buat break sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
To be Continue....
Apakah rombongan gue kesesat di hutan? Apakah bener ada penjual rokok di hutan? Apakah temen gue yang make headsheet itu sadar dan tobat? Apakah ada cewe yang tiba-tiba bilang suka sama gue? Tungguin aja yak kelanjutannya.