Merekonstruksi fikiran

 Tulisan kali ini berupa intisari apa saja yang terjadi kebelakangan ini.

Gue masih merasa kagum, dengan mereka yang masih saja produktif dengan hal yang dilakukannya. Semisal, seorang blogger yang masih aktif menulis dan membahas banyak hal menarik. Atau seorang podcaster yang masih rutin bercerita.


Begitu juga dengan orang-orang yang di lingkungan gue saat ini, yang memiliki banyak energi untuk melakukan beragam kegiatan. Entah itu nongkrong bersama teman-teman lainnya, mengikuti kegiatan kampus, atau pun sekadar berpergian ke suatu tempat dan memfoto apa-apa saja yang menurut mereka menarik.


Jika dibandingkan dengan orang-orang tersebut, kehidupan gue jauh terlihat sangat membosankan. Mungkin kalimat yang lebih cocok, kehilangan motivasi. Setelah kepergian Bapak rasanya hidup sudah terasa hambar. Enggak ada lagi, suara tawa Bapak saat gue menelfon rumah ketika melihat diri gue yang masih belum juga mencukur kumis atau pun rambut yang sudah panjang. Enggak ada lagi obrolan tentang menjadi pria yang baik.


Rasanya aneh.


Kalau dipecahkan apa yang gue fikiran saat ini, hal tersebut akan terpecah menjadi dua hal. Penyesalan terhadap keputusan di masa lalu, serta ketakutan menghadapi masa depan. Sudah saat nya untuk merekonstruksi fikiran yang dipunya.





Mungkin solusi dari persoalan tersebut bisa dibagi menjadi tiga hal.


Berdamai dengan masa lalu


Gue masih menyesalkan bahwa kejadian di masa lalu, membuat diri gue saat ini menjadi lebih tertutup dengan segala nya. Enggak ada lagi sosok, yang suka banyak omong atau pun suka berkumpul dengan teman-teman. 


Penyesalan karena enggak melakukan sesuatu, dan malah memilih untuk melakukan hal lain yang setelah disadari hanya membuang-buang waktu, tenaga, serta fikiran.


Penyesalan dalam memilih teman. Untuk yang satu ini, gue masih merasa tajkub dengan omongan Bapak saat gue masih di pondok pesantren ketika gue bercerita tentang teman yang gue kenal. Bapak bilang “Zi, lebih baik jangan berteman dengan yang ini ya” lalu sebulan kemudian, teman yang gue ceritakan mendapatkan hukuman berupa dikeluarkan dari pondok karena ketahuan mencuri di koperasi. 


Parents notice your fake friends beforo you do


Berusaha di masa sekarang


Yang kali ini masih berkaitan dengan tulisan di atas. 


Gue masih inget, obrolan gue bersama senior gue di saaat itu mengatakan,


“Kenapa enggak lakuin apa yang lu bisa di saat ini aja? Kalo lo mau menghafal al-quran, kenapa enggak langsung coba daftar di tempat pengajian tersebut? Apa yang lo takutin coba? Terlihat tua di antara murid-murid yang lain? Kan orang Arab mukanya jauh lebih tua dari lu, anjir”


Dari pada hanya mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di masa depan, mungkin hal ini harus dicoba. Toh, jika terus-menerus khawatir dan enggak melakukan apa-apa, enggak ada yang berubah juga kan?





Bahkan Syaikh Ali Musthafa Thantawi pernah berkata


“Banyak orang yang menangisi masa lalunya dan rindu untuk kembali ke masa itu. Tapi mengapa kita tidak berifkir memperbaiki hari ini sebelum ia menjadi masa lalu?


Meskipun begitu, segala hal enggak segampang itu untuk dilakukan. Jauh lebih mudah untuk diucapkan, dibandingkan untuk dikerjakan.


Mungkin setelah dilakukan, masih banyak rintangan yang dihadapi. Beberapa kali kegagalan akan menghampiri. Tapi, mau sampai kapan terpuruk dan meratapi nasib terus-menerus?


Kenyamanan untuk menghadapi masa depan


Setelah berdamai dengan diri sendiri akan masa lalu, dan melakukan apa yang bisa dilakukan di masa saat ini, rasanya sudah cukup untuk bisa menghadapi masa depan.


Menurut gue, kesehatan mental untuk menghadapi masa depan memiliki peran yang cukup penting. Bukan hanya untuk menghadapi masa depan saja, tetapi juga dengan dua poin yang ditulis sebelumnya.





Biarkan semuanya menjadi misteri.


Dan yang bisa dilakukan saat ini adalah mempersiapkan bekal untuk masa depan nanti.


Seperti hal nya memperbanyak ibadah untuk menghadapi kematian yang nantinya akan dihadapi semua orang di masa depan. Kalau ada pertanyaan,“Sampai kapan kita beribadah?”Jawabannya, sampai kematian datang. Kalau kematian datang esok hari, ya ibadah nya sudah selesai.

4 Comments

  1. Turut berduka atas kehilangan sosok bapak. Saya belum pernah kehilangan orang tua, jadi bingung juga seperti apa sakitnya itu. Tapi ketika salah satu dari mereka sakit, rasanya memang hancur banget sekaligus takut. Takut mereka keburu pergi sebelum bisa melakukan hal-hal yang bisa bikin mereka bangga, atau minimal mereka merasa bersyukur anaknya tumbuh dengan baik.

    Bodohnya, begitu segalanya normal lagi, kadang lupa sama perasaan macam itu dan tetap jadi anak yang doyan ngebantah. Haha.

    Di situasi yang masih pandemi begini, menghadapi masa depan memang benar-benar bikin cemas, Zi. Apalagi lu jauh dari rumah juga, ya.

    Terkait banyak orang yang masih bisa produktif dengan hobinya, memang bikin salut. Saya termasuk berusaha menjaga ritme menulis, dengan mengusahakan blog selalu terisi tiap bulannya meski tulisannya sesuka hati. Namun, saya lebih salut lagi sama orang yang bisa mempelajari skill-skill baru. Merasa kok orang-orang ini bakatnya banyak, sih? Ada beberapa kenalan yang bisa menguasai coding, gambar/desain, main musik, bisa 3 bahasa asing, bahkan tulisannya juga oke. Berasa gimana gitu bisa multitalenta. Giliran diri sendiri coba, sebatas dasar-dasarnya doang aja susah. Yang terasa mendingan cuma 1-2 skill. :')

    ReplyDelete
  2. Ji, turut berduka cita untuk Bapak ya.

    Untuk hal-hal yang lu omongin di atas emang nggak mudah buat disingkirkan gitu aja. Orang akan punya kekhawatirannya masing-masing, tapi yang diomongin senior lu juga nggak salah. Kita terlalu sibuk mikirin masa lalu, padahal ada hari ini untuk bisa melakukan yang terbaik dan minimalisir penyesalan yang akan terjadi di masa depan.

    Jadi, do your best, Ji!

    ReplyDelete
  3. Bapak memang sangat berarti banget ya Zi.. jadi inget pemain inter milan dulu, Adriano, dia punya potensi besar sebagai pemain bola, tapi karirnya jatuh setelah bapaknya meninggal.
    Semoga tetep semangat ya Zi, mungkin cara berpikirnya bisa dengan cara, lakukan yang terbaik demi bapak.. bapak pasti bakalan bangga di sana kalau ngeliat kita di sini berhasil dan ibadahnya jalan terus.

    Btw,, setuju juga Zi.. kadang kita emang sering kangen masa lalu, nyesel nggak berani mencoba dan mikir juga kenapa sampai sekarang masih gini2 aja. Tapi ya, namanya hidup emang harus dijalanin.. harus maju terus Zi ~

    ReplyDelete
  4. Turut berduka cita atas meninggalnya ayah ya.

    Saya juga merasakan hal yang sama, banyak penyesalan kenapa dulu nggak melakukan ini, dulu kenapa nggak melakukan itu. Dan rasanya sesak kalau memikirkan itu. Makanya saya mulai memberanikan diri melakukan banyak hal walau entah akan seberhasil apa. Setidaknya saya tidak ingin banyak menyesal karena tidak melakukan apa-apa, padahal sempat ada keinginan melakukannya.

    Berdamai dengan masa lalu butuh proses, tapi semangat terus pasti bisa. Kendorin juga ambisi-ambisi yang ketinggian. Sekarang dicek prioritas apa yang kira-kira bisa dijangkau tapi belum dikerjakan, dikerjakan sekarang.

    Saya membuat komentar ini sebenarnya kayak lagi mengingatkan diri sendiri. Okelah, pokoknya harus bisa semangat buat besok, besok, dan besoknya lagi.

    ReplyDelete

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!