Mengutuk realita

Saat pulang ke Jakarta kemarin dari tempat rantau, di Yordania, semua orang yang baru sampai ke Jakarta dari negara lain, langsung diarahkan menuju bus yang akan mengantarkan kami menuju tempat karantina. Tanpa terkecuali.

Dan peraturan ini sepertinya, masih berlaku sampai sekarang.




Berhubung gue pulang ke Jakarta bulan Januari kemarin, gue di tempatkan di hotel untuk tinggal selama seminggu untuk menjalani karantina.


Tetapi, dari beberapa bulan ke belakang ini, orang-orang yang baru masuk Indonesia dari negara lain, di tempatkan di wisma atlit untuk menjalani karantina.


Selama enam hari di sana, kami akan menjalani tes PCR sebanyak dua kali. Di hari kedua setelah kami tiba di tempat karantina, dan di hari sebelum kami meninggalkan tempat karantina.


Apakah enak? Jawaban gue enggak.


Kalau bisa milih, gue ingin langsung kembali ke rumah setibanya gue di bandara. Menemani Ibu negara yang kesepian karena, Bapak telah dipanggil oleh Sang Pemilik Alam.


Tapi, karena peraturan yang berlaku seperti itu, ya mau bagaimana lagi.


**


Setelah menjalani karantina selama seminggu, teman gue datang untuk menjemput, tentunya setelah gue paksa, dan mengantarkan diri gue menuju rumah sodara gue yang letaknya enggak jauh dari hotel tempat gue menjalani karantina.


Ucapan yang keluar dari mulut gue saat memasuki mobil-nya adalah 


“Kepala gue mentok ke atap mobil nih, bre. Kecil banget mobil nya”


Setelahnya dia meludahi muka gue dan menyuruh gue untuk mengambil koper yang telah gue masukan di bagasi, lalu dia memanggil taksi yang ada di depan hotel.


Paragraf sebelumnya tentu saja gue ngarang.


Umpatan yang keluar dari mulut teman gue kurang lebih “Si bangsat. Badan lu yang gede ngehe”.


Sepertinya gue sudah mulai menyadari, kenapa diri gue punya sedikit teman. Padahal sepertinya punya banyak temen itu enak.


Tapi kalau kenyataannya kelakuan gue ternyata menyebalkan dan membuat beberapa orang menjauh, ya mau bagaimana lagi.


**


“Nanti mampir dulu ya ke mini market di depan. Adek gue nitip sesuatu” ucap gue.


Pulang ke Jakarta, memanjakan mata gue dengan pemandangan berupa mini market yang biasa ditemui bertambah lebih banyak. Dua tahun lalu, lumayan jarang menemukan mini market di daerah sini. Tapi sekarang, lah kok banyak bener buset. 


Tapi kok ya seragamnya tetap sama. Kadang mengharapkan para pegawai yang menyambut para pelanggan di belakang meja kasir mengenakan baju ihram, tapi ya enggak akan terjadi juga sih.


Setelah mengumpulkan barang-barang yang akan dibeli dan menyerahkan nya ke petugas kasir, gue mulai membuka hape, memastika pesanan adek gue sudah terbeli semua. Hanya pesanan untuk membawa mesin ATM saja yang enggak gue laksanakan.


Nanti kalo sudah ketemu adek gue, paling gue sikut dagu nya.


Seusai gue memberikan sejumlah uang yang disebutkan, gue diam sejenak. Mata gue menatap ke arah petugas kasir di depan. Melihat sekitar, lalu berucap, “Iya gue paham barang belanjaan gue sedikit. Tapi kok, kaga dikasih plastik sih”.


Fikiran gue mulai mengumpulkan informasi perihal mba-mba kasir yang enggak memberikan kantong plastik ke belanjaan gue.


Baru lah gue tersadar, bahwa sekarang ini di Jakarta sudah mulai program untuk mengurangi kantong plastik. Makanya sikap mba-mba kasir ini sudah wajar untuk dilakukan.


Yaa… mau bagaimana lagi(?)


**


Di umur gue yang sekarang, sepertinya gue semakin sering merasakan ditampar oleh realita. Apa-apa saja yang gue bayangkan, ternyata realita yang disajikan jauh berbeda dengan apa yang diharapkan. Mirip seperti saat ingin memasukkan bola basket ke dalam ring, tapi ternyata bola basket nya malah ke arah lain.



 
 

Atau juga seperti karantina yang harus gue jalani.


Padahal sejatinya apa yang gue bayangkan adalah sampai di bandara, lalu gue serta adek langsung pulang ke rumah dan menemani Ibu negara.


Realitanya gue harus menunggu sebulan untuk bisa memeluk Ibu negara.


Karantina selama seminggu di hotel, lalu tiga minggu sisanya gue beserta adek menetap di rumah saudara. Karena hasil test PCR Ibu negara yang masih menunjukan hasil positif.


Biasanya, seusai mengambil koper di bandara, mata gue akan melihat kerumunan para penjemput di dekat pintu keluar, sambil mencari sosok laki-laki yang telah berumur, yang rambut nya sudah memutih, memakai jasket kantor, dan melambaikan tangan nya tinggi-tinggi agar diri gue sadar bahwa dirinya sudah datang, sampai akhirnya dia mengantarkan gue pulang ke rumah.


Tapi sekarang, enggak akan ada lagi.


Dan juga seperti apa yang biasanya gue rasakan saat berbelanja di mini market.


Gue datang, kemudian memilih apa-apa saja yang ingin dibeli, setelahnya menyerahkan uang, lalu kembali ke rumah sambil membawa barang belanjaan menggunakan kantong plastik yang telah diberikan.


Tapi sekarang, sudah enggak seperti itu lagi.


Beberapa kali gue sering mengatakan bahwa diri gue mampu jadi sosok laki-laki seperti bapak. Yang kuat, tegar, dan mampu untuk melalui semuanya sambil tersenyum serta tertawa. Tapi sepertinya gue belum mampu untuk melakukan itu semua.


Realita bangsat.


Sekarang dan selanjutnya, sudah enggak ada lagi nasehat bijak yang bisa gue dengarkan berulang-ulang. Begitu juga dengan cerita semasa dirinya kuliah. Sudah enggak akan terdengar lagi tawa khas nya, maupun suara bersin nya yang selalu mengagetkan. Dan sudah enggak ada lagi sosoknya yang tidur di ruang tengah, menunggu anaknya ini pulang dari bermain bersama teman-temannya.


I miss you, Pa!


Ternyata apa yang dibayangkan, enggak semudah itu menjadi kenyataan, kan?

4 Comments

  1. itulah hidup mas, kadang sesuatu itu gak selalu datang seperti apa yang kita inginkan, intinya sih tetep bersukur apa yang ada :D

    eh iya, kalo seragam di minimarket warna item, nanti dikira kayak layat ya :D

    ReplyDelete
  2. Memang kadang nggak semua sesuai dengan apa yang dibayangkan ya kak. Kemarin juga merasakan ribet banget naik pesawat di saat pandemi gini. Harus dicek ini itu, isi diaplikasi juga. Di bandara si jaga jarak, sayangnya masuk pesawat juga tetap aja berkerumun.

    ReplyDelete
  3. Mengharukan ya bang, duh, jadi ikutan sedih bang..

    Tapi ngakak si pegawai minimarket pake pakaian ihram, pengen nabok rasanya bang :))

    ReplyDelete
  4. Kak Fauzi, I'm sorry to hear that :( Semoga Almarhum ayah Kakak diberi tempat yang terbaik di sisi-Nya ya. Keep strong Kak!!

    ReplyDelete

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!