Memasuki kolam baru

 Fyuh

Selalu kagok, jika udah lama enggak nulis, lalu mulai nulis lagi. Terlebih, gue tipikal yang saat menulis untuk blog, langsung mengupload tulisan nya. Jadi enggak masuk ke draf. Paling di cek satu atau dua kali, lalu langsung upload. Tulisan kali ini pun mungkin akan seperti itu juga.

Dua bulan sebelum gue berangkat ke Yordania, diri gue selalu dihantui oleh rasa khawatir yang aneh. Padahal sejatinya, ya hal tersebut merupakan suatu kejadian yang lumrah dan dirasakan oleh semua orang. Meskipun pada awalnya, gue selalu bercanda ketika berhadapan dengan hal ini, sejatinya ada rasa takut yang menghampiri.

Hal tersebut bernama adaptasi.

Sampai sekarang, gue masih membedakan mana itu kenalan dan mana itu teman. Meskipun, mungkin saja beberapa orang lain, mungkin dirimu salah satunya, menganggap hal tersebut tidak ada bedanya.

Pantesan temen gue dikit ya.

Bagi gue yang lumayan cukup lama tinggal bersama teman-teman di sana, masuk ke kolam baru, lingkungan baru merupakan suatu hal yang asing. Terlebih lagi, gue bukan lah tipikal orang yang sok asik dengan orang baru.

Jika ada kondisi di suatu pertemuan, gue akan menghampiri seseorang yang sedang memperhatikan sekitar. Mirip kayak tukang hipnotis sih, tapi maksud gue bukan seperti itu. Lalu setelah nya gue ajak kenalan, dan voila!! Gue punya teman yang bisa diajak ngobrol selama sesi pertemuan ini berlangsung.

Hal seperti ini sering terjadi di kehidupan yang gue alami. Salah satunya yang masih teringat sampai sekarang, ketika pertemuan komunitas blogger di Jakarta bertemu di Monas. Saat itu yang ikutan ramai sekali, kisaran 30 orang sepertinya. Selain penanggung jawab acara, seseorang yang akhirnya gue kenal sampai sekarang adalah Tata.

Enggak, dia lagi enggak memperhatikan sekitar. Tapi, gue berani untuk berkenalan, karena dia seorang diri juga saat itu. Meskipun setelahnya, banyak perhatian yang tertuju ke arahnya, karena dia melakukan Stand-up Comedy.

**



Beberapa kali gue membicarakan hal seperti ini ke temen gue, jawabannya sama.

“Lu tuh enggak bisa langsung sok asik. Karakter lu tuh bukan kayak gitu”

Em... ucapan sebenarnya sih banyak kata-kata kasar, tapi kurang lebih poin nya yang kayak gitu.

Di saat itu, mungkin refrensi gue melihat orang yang sok asik, hanya mentok di salah satu orang yang gue kenal. Yang dia lakukan sok asik ke semua orang, lalu selanjutnya akan meminta bantuan dari orang yang dia sok-asikin.

Sok akrab, lalu menyusahkan orang lain.

Kalian paham enggak tulisan gue barusan?

**

Sesampainya gue di Yordania, masalah itu benar terjadi. Gue sulit untuk berkomunikasi dengan orang-orang baru. Lebih memilih untuk berdiam diri di kamar sambil mendengarkan lagu.

Beruntungnya, orang-orang di sini sangat baik-baik sekali. Tiga bulan di awal, gue masih bingung dengan orang-orang di sini yang terkesan sangat supportif sekali dengan orang lain. Sedangkan, yang gue alami di Mesir kemarin, gue selalu bertemu dengan orang-orang yang sering menjatuhkan.

“Dih alay”

“Dih apaan sih”

Mungkin maksudnya, gue diharuskan untuk menjadi orang yang mandiri serta kuat(?)

Tapi beda banget rasanya saat gue tinggal di sini. Orang-orang nya ramah, suka saling menolong. Kalau ciri-ciri menantu idaman, orang sholeh, dan gemar membantu orang lain, mungkin orang-orang sini masuk kedalam golongan orang-orang tersebut.

Hampir setahun masuk ke ‘kolam’ baru, ternyata enggak seburuk yang gue fikirkan. Justru banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari setiap orang-orang nya.

Meskipun begitu, gue memang enggak bisa langsung terhubung dengan orang-orang baik tersebut. Bukan bermaksud diri gue paling tua, tapi kebanyakan orang-orang di sini, umur nya di bawah gue semua. Rata-rata beda 6 tahun.

Gue seperti anak baru yang datang, tapi dipanggil dengan sebutan ‘bang’. Gue enggak tau juga sih, hal seperti ini, terjadi juga di dunia kerja atau enggak.

Jika di Mesir kemarin, gue merasa masih banyak memiliki senior dan merasa menjadi junior terus-menerus, saat tiba di sini kejadiannya malah terbalik.

Dianggap senior(?)

Tapi setelah gue teliti lagi, sebenarnya gue enggak dianggap sebagai senior. Melainkan sebagai orang yang umur nya lebih tua aja gitu. Beberapa ada yang manggil dengan ‘Bang’ dan sebagian lain ada yang memanggil nama. Perjalanan menjadi orang dewasa itu ternyata ribet. Tapi seru sih.

Gue enggak ada masalah juga kok, asalkan enggak memanggil dengan laqob aja.

Meskipun beberapa temen gue yang pernah kuliah di sini, sekarang sih udah pada balik semua nya ya ke Indonesia, mereka dianggap sebagai senior dan semuanya hormat kepada mereka.

Jadi menurut gue, sosok senior dan umur yang lebih tua itu berbeda. Kalau menurut kalian gimana?

Masuk ke kolam baru itu enggak selamanya buruk. Banyak hal menyenangkan nya juga, karena bisa berkenalan dengan orang-orang baru serta menyadari bahwa masih banyak orang-orang baik di luar sana.

Pelajaran hidup yang sekarang gue dapat adalah beradaptasi serta skill berkomunikasi dengan orang lain itu ternyata sangat penting.

Mungkin hal yang berubah dari diri gue di beberapa tahun lalu dan sekarang ini, gue menjadi sosok yang lebih pendiam. Gue selalu enggak suka dengan orang yang umurnya lebih tua dan merasa paling pintar dan paling tahu segala hal, dan gue enggak mau menjadi sosok seperti itu. Karena-nya sekarang ini gue lebih banyak untuk mendengarkan serta memperhatikan. Enggak perlu berbicara jika enggak disuruh bicara atau pun dimintai pendapat.

Terkadang motivasi yang gue ucapkan ke segala hal yang akan terjadi,

“Hajar aja lah”

 Seperti salah satu quotes dari filusuf Stoicism

“We suffer more often in imagination than reality”

3 Comments

  1. Aku juga nggak bisa menjadi sosok yang "sok asik" saat bertemu dengan orang baru, rasanya susah sekali dan biasanya aku menjadi orang yang disapa, bukan menyapa. Rasanya berat sekali untuk melangkah dan menyapa duluan 😅. Dan karena jarang bertemu orang baru, semakin lama sikap seperti ini semakin mendominasi diriku.

    Perihal orang yang dianggap senior dan orang yang lebih tua umurnya, menurutku berbeda. Orang yang dianggap senior, memang seringkali umurnya lebih tua tapi lebih dihormati karena kesan "lebih senior". Kalau orang yang umurnya lebih tua, tetap ada rasa hormat tapi bisa lebih bercanda atau ngobrol dengan santai dibanding dengan orang yang kita anggap sebagai "senior", kadang jatuhnya jadi kaku dan segan untuk ngobrol.

    Semangat menjalani hari-hari Kakak di Jordan. Eh, masih di Jordan atau udah di Jakarta ya? 😂

    ReplyDelete
  2. Mungkin saya juga hampir seperti itu. Sering banget orang yang bilang, "yaaah ternyata gini aslinya," setelah beberapa waktu kenal dengan saya. Cenderung observasi dulu kalau di kolam baru. Kalo asik, diasikin. Kalo ga asik, diem bae lah, ngobrol sama diri sendiri wkwkw.

    Buat saya, kalau gelar senior tuh didapat karena nurture. Sedangkan umur lebih tua itu nature. Ha? Iya, gimana? Wkwkwkw.

    ReplyDelete
  3. Dan suffer di reality jauh lebih menyakitkan daripada di imagination. Gitu ya?

    ReplyDelete

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!