2 Tips sederhana dari Marie Kondo untuk membuat hidup lebih bahagia

Thursday, March 28, 2019


Setelah ramai dibicarakan dan hanya bisa melihat pembahasannya di Twitter, akhirnya beberapa waktu yang lalu gue bisa membaca buku karangan Marie Kondo yang berjudul The life-changing magic of tdying up. Mungkin dari kalian pun juga ada yang sudah menonton serial filmnya di Netflix, atau mungkin ada yang sudah membaca bukunya juga?

Hal-hal yang dijelaskan dalam buku Marie sangat berhubungan dengan kehidupan gue disini, sebagai anak rantau. FYI, kehidupan umum mahasiswa Indonesia yang berada di Mesir bisa di kategorikan menjadi dua. Yang pertama, mereka tinggal di asrama, yang satu kamarnya bisa berisikan dua bahkan tiga orang. Entah itu masih orang yang berasal dari negri yang sama, atau sekamar dengan warga negara asing. Dan yang kedua adalah dengan menyewa sebuah rumah untuk dihuni oleh empat orang bahkan bisa lebih.
Kebetulan gue adalah kategori yang kedua.
Tinggal dengan orang banyak dalam satu rumah, berarti kita tinggal dengan perilaku yang berbeda-beda. Ada yang terbiasa hidup rapi, membersihkan piring seusai menggunakannya, membuang bungkusan sampah ke tempatnya, dan ada juga yang berprilaku sebaliknya. Meskipun setiap hari jumat, kita mengusahakan untuk membersihkan rumah secara menyeluruh, tapi tetap saja rasanya enggak ada perubahan.
Setelah membaca buku tersebut, hal pertama yang gue lakukan adalah dengan memulai untuk berbenah ruang kamar serta pakaian-pakaian yang gue punya. Mungkin ini sudah menjadi salah satu kebiasaan gue sejak lama, setelah membaca suatu buku, entah buku novel atau buku yang bertemakan pengembangan diri atau buku-buku lainnya, gue akan selalu bersemangat untuk mencoba mempraktekkan apa yang telah gue baca.
Dari tebalnya lembaran halaman yang gue baca dari buku Marie Kondo ini, ada dua tips sederhana yang bisa dipraktekkan oleh kita semua.
https://giphy.com

Membuang pakaian
Buang segala pakaian yang tidak pernah digunakan. Atau dalam bahasa yang digunakkan oleh Marie adalah buanglah segala pakaian yang tidak menimbulkan rasa gembira. Setelah membongkar isi lemari, pegang pakaian lalu rasakan, apakah dalam diri kita timbul rasa gembira saat memegangi pakaian tersebut atau tidak. Jika tidak rasa gembira, maka kita ucapkan rasa terimakasih ke pakaian, lalu buanglah.
Mungkin terdengarnya aneh, tapi gue juga melakukan hal itu kok.
Ehe.
Ketika memilah pakaian yang ada didalam lemari, dan memisahkan segala pakaian seperti yang Marie tuliskan, ternyata banyak pakaian yang seharusnya gue buang sejak lama. Entah karena pakaian itu kebesaran untuk ukuran badan gue saat ini, ataupun pakaian-pakaian yang enggak pernah gue gunakan hampir selama setahun. Karena pakaian yang selalu gue gunakan hanyalah pakaian yang sama. Kaus polos, atau pun kaus berkerah polos, serta celana jeans.
Kemeja yang gue sering pakai hanyalah dua kemeja flanel, serta dua kemeja polos berwarna hitam dan putih. Sisanya enggak pernah dipakai. Berhubung di kampus gue, enggak ada aturan yang mengharuskan para mahasiswanya harus menggunakan kemeja, jadi sepertinya empat kemeja itu sudah cukup.
Menyimpan barang di tempatnya
Menurut gue hal seperti ini harus dibiasakan mulai dari sekarang, dan dari hal yang kecil. Misalnya, menaruh kaus kaki di tempatnya, dan bukan diatas meja belajar. Atau, menaruh buku yang sudah dibaca ke tempatnya semula. Contoh kebiasaan yang salah, misalnya, piring yang digunakkan seusai makan diletakkan di rak sepatu. Atau pakaian kotor diletekkan di lemari orang lain.
Gue pun mulai mencoba membiasakan hal baik ini. Perlahan dari yang biasanya suka meletakkan sarung seenaknya tanpa dirapikan, sekarang mulai meletakkan di tempat semula setelah digunakkan. Buku-buku yang biasanya gue letakkan diatas meja dan akhirnya jarang dibuka pun, gue letakkan di rak buku. Walaupun sempat kefikiran ‘Ah, entar males harus bolak-balik buat ngambil buku’ padahal sebenarnya hal tersebut tidak memakan waktu yang banyak. Kebiasaan seperti ini seharusnya mempermudah urusan kita dalam hidup. Jadi enggak ada lagi tuh kebingungan saat mencari sesuatu, karena telah menempatkan setiap barang di tempatnya.
Dari memulai kebiasaan seperti ini, gue mulai merasa bahwa keseharian gue lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya. Gue yang dulu, mungkin termasuk golongan yang tidak terlalu peduli dengan kerapihan kamar. Asal menaruh segela sesuatu di bukan tempatnya, dan karena itu sering merasa kebingungan saat mencari benda tersebut jika dibutuhkan. Sering kali menemukan benda saat tidak dibutuhkan, lalu kesulitan mencari benda tersebut ketika dibutuhkan. Kalian seperti itu juga?
Hal sepele mungkin adalah benda berupa pemotong kuku. Saat dibutuhkan, sering kali setiap hari Jum'at sebelum pergi sholat, benda ini akan susah dicari, padahal di hari-hari biasanya gue sering menemukan benda ini.
Dua hal sederhana yang gue mulai sebagai kebiasaan ini, membuat kehidupan gue lebih tenang. Melihat kamar yang rapi, membuat diri gue merasa bangga dengan diri sendiri. Terlebih, saat ada teman yang datang untuk main dan mendapati kamar gue rapi, ada rasa lega karena mereka tidak melihat pakaian yang berantakan diatas kasur.
Khusunya bagi para anak kost ataupun orang-orang yang sedang berada di tempat perantauan, yang jauh dari sosok seorang ibu. Enggak ada lagi tuh yang bisa memunculkan barang yang hendak kita cari. Jadi, menurut gue enggak ada salahnya untuk membiasakan suatu hal baik seperti ini. Kalau menurut kalian gimana?

You Might Also Like

6 komentar

  1. Sebenarnya gue udah melakukan ini jauh sebelum mengenal nama Marie Kondo sih, tapi di luar kamar. Kalau di kamar, memang desainnya berantakan. Gue malah bingung nyari barang kalau kamar gue rapi. Kalau berantakan, gue tau naruh ini itu di mana aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. gue juga sering baca, katanya ada org yg klo kamarnya rapi malah bingung buat nyari barang. ternyata elu, man. nyeni banget kayaknya lu

      ehe

      Delete
  2. Mungkin kejadian sulit menemukan barang saat dibutuhkan sering terjadi pada kebanyakan orang. Entah ia yang gaya hidupnya tertata rapi maupun tidak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul syekali.
      dan sosok seorang ibu amat sangat diperlukan, karena bisa memunculkan benda yg ingin dicari

      Delete
  3. ini setuju banget sih, aku sendiri lumayan gerah kalau punya banyak barang (walaupun pengaplikasian di kos tetep aja banyak *peace)

    kemarin baru menata ulang meja rias sekaligus meja kerja. dan rasanya lebih lega sekarang, laptop bisa ditaruh di meja sekaligus skincare. sambil me time sekalian nulis buat blog atau g nonton netflix, cucok!

    oh btw tentang ibu, ini true story sih. kadang suka mikir juga, besok pas aku udah nikah terus punya anak, kayaknya bakal dapat kekuatan ajaib ini deh, haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener uy,
      stelah ngerapihin meja komputer, yg dulunya banyak segala benda, entah itu parfum smpe mie rebus, skrg lebi enak aja diliat uy!


      semoga ya, pit
      heuheuheu

      Delete

Eettt..... Mau kemana?
Komen dulu dong okeee :))

Friends

Like us on Facebook

Community