Penumpang Tramco

Sunday, December 09, 2018


Pada umumnya mahasiswa disini menggunakan bis sebagai alat transportasi. Dari satu tempat ke tempat yang lain. Aplikasi Go-jek belom masuk, hanya Uber aplikasi yang bisa digunakan. Kendaraan sepeda motor disini pun kebanyakan digunakan para anak muda untuk jalan-jalan. Entah untuk boncengan berempat kayak cabe-cabean di Jakarta, atau sekedar membuat motornya berdiri dalam waktu yang lama. Mereka belom mempunyai inisiatif untuk membuka usaha pangkalan ojek didekat terminal bis. Kalau pun benar ada, kayaknya enggak akan laku juga.
Untuk para mahasiswa Indonesia.
Kalau untuk para mahasiswa Malaysia mungkin beda cerita.
Satu hal yang gampang ditemukkan antara mahasiswa Indonesia dengan pelajar Malaysia adalah dengan caranya menego harga kendaraan. Kalau jaraknya dekat, dan supir kendaraan mematok harga yang enggak masuk akal, pelajar Indonesia akan menego dengan harga dibawahnya. Jika supir masih keukuh enggak mau menurunkan harga, kami akan pura-pura pergi dengan harapan dipanggil lagi. Meskipun seringnya enggak dipanggil lagi.
Kadang nego harga dan minta tumpangan gratis itu beda tipis.
Selain bis, kami sering menggunakan angkutan umum yang kalo disini biasa disebut dengan tramco. Bentuknya berbeda dengan angkot yang ada di Indonesia. Bentuknya seperti mobil travel yang bisa memuat dua belas orang dibelakang, dan tiga orang didepan, dan delapan anak onta diatas kap mobil.

Ane sebenarnya enggak terlalu suka jika harus menaiki tramco. Karena harganya yang bisa naik dan bisa turun dari harga biasanya, kelakuan supirnya yang kadang bikin kesel, ditambah dengan ngebutnya mobil saat dikendarai. Yang bagian terakhir sebenarnya enak, karena bisa sampai tempat tujuan dengan lebih cepat. Tapi pasti akan ada penumpang perempuan atau pun ibu-ibu yang akan meneriaki supir dan memintanya untuk memperlambat laju kendaraan.
Salah ibunya sendiri sih, kenapa harus duduk di stir mobil, kan ngalangin pandangan supir. Gelo.
Yang membuat malas untuk naik mobil ini adalah jika diri ane yang kebetulan bertanggung jawab atas uang-uang penumpang yang lain. Kalau biasanya bayar angkot di saat tujuan kita telah sampai, disini berbeda. Diawal duduk, kami para penumpang akan mengeluarkan uang dari kantung celana, lalu mengopernya agar sampai menuju tangan pak supir.
Jadi tiap orang yang duduk didalam mobil menyerahkan uangnya ke ane. Lalu dengan kemampuan bahasa amiyah yang ala kadarnya berusaha ane ucapkan ke supirnya. Satu, dua, sepuluh orang bisa ane selesaikan dengan lancar. Giliran orang terakhir,
“Lah kok mahal banget. Biasanya enggak segini!”
“Loh emang harganya segini kok. Wajar”
“Saya enggak mau. Turunin saya. Sekarang”
Adegannya mirip seperti pasangan yang sedang bertengkar. Tapi percayalah, hal seperti ini sering terjadi didalam tramco.
Si penumpang dan si pak supir mulai teriak-teriak menggunakan bahasa sunda. Ya bahasa Arab dong, kan mereka bukan berasal dari Cimahi. Mungkin mereka berdua merasa enggak ada orang di mobil, jadi teriakannya maksimal. Padahal kenyataannya si penumpang kampret ini posisi duduknya tepat dibangku belakang ane, muncratan air ludahnya pun beberapa kali mengenai rambut serta leher ane. Mantap.
Kalau saja saat itu ane memutar kepala dan berhadapan dengan penumpang yang teriak-teriak ini, mungkin ane bisa wudhu dari muncratan air liurnya.
Saat anak baru, ane akan selalu menghindari untuk menaiki kendaraan ini. Lebih memilih untuk menaiki bis walaupun tarifnya lebih mahal dari tramco. Tapi senggaknya enggak akan ada kejadian teriak-teriak didalam mobil seperti yang ane alami beberapa hari lalu. Walaupun ane punya pengalaman enak juga saat menaiki bis, tapi alhamdulillah sekarang ini sudah enggak terjadi lagi.
Bisa klik disini ya buat baca ceritanya!
Nah, kalau kamu sendiri punya pengalaman seru saat menaiki kendaraan umum?

You Might Also Like

10 komentar

  1. Hwahahah lucu ya tramco, meskipun ngeselin gt pasti banyaj penggemarnya tp ya :)) eh apa nggak?

    Btw ciyus tramco bisa ngangkut 8 ekor anak onta? Ko kayak peti kemas sih -.- kasih fotonya dong Bang Tomat plz plz plz

    ReplyDelete
  2. Terus pelajar Malaysia nego harganya gimana anjer kenapa nggak dijelasin sekalian hey?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah... keresahan saya sudah terwakilkan dengan komenan ini. Hahaha

      Delete
    2. Nah.. hamba juga berpikir demikian.

      Delete
  3. Kalau di Indonesia, pelajar dan mahasiswa bisa bayar setengah harga kalau mau naik angkot, Zi. Mungkin kamu harus nyari seragam sekolah anak sana biar bisa bayar setengah hargaaa XD

    ReplyDelete
  4. HAHAHA KESEL JUGA NJIR, KALAU HARGANYA NAIKTURUN TERGANTUNG SI SUPIRNYAAAA. DEMO, MARI KITA DEMOOOO!!! :p

    Bolak-balik ke blogmu, tapi selalu rasanya ingin mites serangga kecil di layar ini anjer wkwkw

    ReplyDelete
  5. INI HARGA TREMCO APA JOGET PAPUA ANJIR TURUN NAIK. Turun naik turun naik trus~

    ReplyDelete
  6. Entah kenapa naik kereta api lebih bikin capek daripada naik sepeda motor.

    Hmmm naik tuk tuk di Thailand kena harga 300 baht padahal kata teman harusnya cuma 20 baht.

    ReplyDelete
  7. Anjir saya kaget ada semut jalan di laptop saya, kok dihapus ga bisaa ternyata widget dari blog ini hewheh.. sial terttypu

    ReplyDelete
  8. apa bedanya ama pelajar malaysia?
    hahaha.. kirain berlaku tuh sistem nawar ngambek ala orang indonesia, eh nyata g digubris juga.

    naik tramco gini amat yak? ada tawar menawarnya juga. udah macam nawar tomat di pasar. tapi kalau dari ceritamu sih mending naik bis deh, g nyaman juga

    ReplyDelete

Eettt..... Mau kemana?
Komen dulu dong okeee :))

Community