Selama gue tinggal di Mesir, belum pernah sama sekali gue berkemah di tengah gurun. Dan gue rasa, masih banyak mahasiswa di Mesir yang belum merasakan sensasi tidur di tengah gurun. Tapi, di bulan November kemarin, gue resmi menjadi anak gurun sejateee. Gue sudah tidur tepat di tengah gurun, dibawah sinar bintang-bintang, dikelilingi oleh bebatuan yang entah lah itu bentuknya mirip-mirip dengan orang yang bilang, “Kita nggak usah pacaran ya, tapi kalau kamu mau kemana-mana, hubungi aku aja ya” sama-sama nggak jelas. Dan dengan ini gue merasa lebih keren ketimbang kalian, duhai anak masisir yang belum pernah tidur di tengah gurun.
Dasar cupu!
Nggak deng. Opening gue becanda. Jangan serius gitu lah anak kuda.
Jadi gini..
Perjalanan kali ini, gue berangkat tidak sendiri. Gue nggak se-gila itu juga, untuk menginap di tengah gurun sendirian. Kalau gue di patok sama Anakkonda, cerita ini nggak akan kalian baca. Ya kan? he he he.
Oke, lanjut!
Jadi petualangan kemah ini, diikuti oleh gue serta tiga puluh orang lainnya, yang terdiri dari para anggota grup Whatsapp. Kenapa banyak? Ya suka-suka lah. Kenapa banyak nuntut sih kayak Nitizen.
Sewot amat, nyet
Tepat pagi hari, di hari yang telah di tentukan, kami berkumpul didepan kedai penjual jus-jus buah. Pagi itu toko-toko masih sepi, begitu pula dengan kedai penjual jus. Jalanan Kairo di pagi hari itu nggak seramai seperti jalanan di Jakarta, yang pagi hari sudah macet dimana-mana. Gang keluar-masuk rumah gue dulu saja, biasanya sudah macet sejak jam 7 pagi. Biasanya aktifitas Kairo mulai terlihat ketika jam 10 pagi. Di pagi hari itu, yang ramai hanyalah kedai penjual tomiyah. Kalau di ibaratkan di Jakarta, yang ramai itu hanyalah tukang nasi uduk. Selain itu masih sepi.
Jarak tempuh dari tempat kami sekarang menuju lokasi gurun yang ingin kami kunjungi, sekitar 5 jam. Kami menaiki bis yang telah kami sewa sebelumnya untuk menuju tempat itu. Sebetulnya, bukan kami juga sih yang mengurus transportasi dan segalanya. Ada senior kami yang sudah pernah kesana, dan sekarang merangkap menjadi guide kami.
Perjalanan jauh di Mesir itu nggak ada asiknya. Kanan-kiri jalan hanya padang pasir yang tidak ada ujungnya. Sesekali hanya ada bangunan kubus dengan warna-warna yang berbeda. Tapi, kalau sedang beruntung, lu akan menemukan orang yang berdiri membelakangi jalan, sambil menundukkan kepalanya.


Kalau lu ketemu dengan hal seperti itu, ga usah diperhatiin terlalu serius juga deh. Paling itu supir yang lagi kencing. Sama seperti supir bis gue.
Didalam bis,
Cewe: “Lah, kok berenti disini sih? Udah sampe ya?”
Cowo: “Kita kan baru jalan, ukhti. Kita lagi nunggu supirnya. Tuh dia lagi diluar”
Cewe: “Hah! Ngapain?”

*Kemudian buka jendela*
*Ngeliat dengan khusuyuk*

AAAAA.... KYAAAA.... KYAAA

Cewe: “Iiih supirnya kencing”
Cowo: “NGAPAIN DILIATIN JUGA SIH, UKHTI!”
Cewe: “Kan pengen tau”
Cowo: “Semerdeka elu aja, nyet. Bodo amat ah”

**
Setelah 5 jam perjalanan, bis berhenti di pinggir jalan. Didepan bis, sudah ada 5 mobil yang akan mengantarkan kami menuju gurun.
Perjalanan yang sesungguhnya akan di mulai, madefakah!!
Yang 5 jam tadi? Anggap aja perjalanan dengan bis itu sebagai pemanasan.


Gue tiba tepat di sore hari. Sekitar jam 4 sore. Perjalanan ini sebenernya menuju tiga tempat yang berbeda, tempat yang pertama kami kunjungi adalah bukit kristal. Beneran kristal, nyet. Di tengah padang pasir, dan disana ada kristalnya. Kecil-kecil gitu, kayak batu. Sebenernya mau gue ambil banyak, terus gue jual ketika pulang nanti. Tapi bukan seperti itu sikap pria pecinta lingkungan. Bukan seperti itu cuy!!
Sayangnya, di bukit kristal itu hanya sebentar. Karena waktu sudah menjelang malam, dan kami harus ke tempat selanjutnya. Jadi ini beberapa foto ketika kami berada di bukit kristal.








Matahari sudah terbenam, mobil yang kita tumpangi sudah mulai berjalan di gurun, bukan di aspal lagi. Supir mobil gue ini beda dari supir mobil lainnya. Apakah dia orang Ciamis? Bisa bahasa sunda? Oh, bukan. Dia masih orang Mesir, bahasa Arabnya jago. Maksud gue, dia lebih milih jalur jalan yang berbeda dengan mobil-mobil lainnya. Berbekal cahaya lampu mobil, gue bisa melihat bahwa sudah ada batu-batu kecil yang disusun rapi sebagai penanda untuk mobil-mobil yang akan melewati daerah tersebut. Mobil-mobil yang lain, mereka mengikuti jalan yang sudah diberikan tanda. Sedangkan mobil gue, keluar jalur yang sudah di tandai itu.
Bukannya banyak doa, yang gue serta teman-teman lain lakukan adalah teriak-teriak.
“YANG KENCENG, BANG!!”

“ASOY BANG!! TERBANG-TERBANG GITU LAGI DONG, BANG!! MANTAAAAPP”

“AYO BALAP MOBIL YANG LAIN, BANG”

“ANJIR, SUPIR KITA KEREN BANGET INIH ASLI. YANG LAIN CUPU. YIHAAAA!!”

Nggak supirnya, nggak penumpangnnya. Sama-sama gila.
Mata gue susah untuk melihat pemandangan sekitar. Karena memang sudah gelap ketika itu (ya kan emang udah malem, nyet). Yang bisa terlihat hanya kendaraan teman-teman yang lainnya, serta batu-batu tinggi. Gue nggak tau juga sih itu batu apa. Pokoknya, jumlahnya banyak.
Selagi abang-abang supir menurunkan peralatan kemah, gue serta para cowo yang lain duduk-duduk diatas batu. Ternyata batu ini seperti batu karang laut, dan katanya juga zaman dahulu kala, tempat ini sejatinya adalah lautan. Dan batu-batu besar yang gue lihat sebelumnya adalah karang laut. Bayangin betapa besarnya batu-batu ini. Gue nggak sabar untuk melihat pemandangan ini di esok hari.






Acara malam ini dibuka dengan makan-makan bersama. Makan nasi ayam, serta sup kentang. Aiiih... cobain deh, makan anget-anget di tengah dinginnya gurun pasir. Nikmat banget tjoy. Yang penting, jangan sampai kekenyangaan aja sih. Kalau kekenyangan ya paling,
“Bang, gue mau kencing nih. Dimana ya?” Kata temen gue.

“Yaelah, kalo mau kencing ya dibelakang batu aja udah gih. Terus kalo lu mau BAB, pasirnya digali dulu, abis itu jangan lupa di tutup lagi”
Gimana? Mantap? Mirip kucing gitu kan?
Tapi kalau difikir-fikir, tempat gue ini kan dekat dengan batu juga. Apa jangan-jangan ada orang yang boke.... ah udahlah. Udah lewat juga.
Untuk tidurnya, kita nggak sampai mendirikan kemah gitu kok. Masing-masing dari kita, diberikan satu buah sleeping bag.
Mumpung masih di Mesir, cobain gih tidur di tengah padang pasir kayak gini, cuy...
Dan yang belum main kesini, cobain kemah disini lah. Jangan pergi ke Piramid doang.