Udara Kairo malam saat ini sudah lumayan dingin, tandanya musim dingin telah datang, dan ini bertanda juga bahwa sebentar lagi para senior-senior yang telah lama tinggal di Mesir akan berkata dengan tegas kepada anak baru seperti,
‘Lemah banget lu, gini doang pake jaket’
‘Dasar cowo gemulai’
‘Manusia rapuh, dikit-dikit ngeluh’
‘Mandi pake air dingin lah, biar macho’
Masih inget banget, ketika gue pertama kali datang ke Mesir pasti kebanyakan senior mengatakan hal seperti itu. Lumayan kesel juga, dengan perlakuan senior yang memperlakukan gue serta teman-teman gue saat kita masih mahasiswa baru. Sebetulnya pengen aja gitu teriak ke mereka,
“Kulit elu, kulit badak kali, Bang. Makanya dingin kayak gini nggak terasa”
“Yang gue pakai kan jaket sendiri, kenapa elu yang ribet dah. Dasar badak”
Tapi, apakah gue benar teriak ke para senior seperti itu? Oh, tentu tidak.
Selain ujian hidup dari senior kreatif yang seperti itu, sebenernya masih banyak banget hal kampret yang ada di Mesir.  Dan mungkin hampir semua orang yang tinggal di Mesir, pernah merasakan hal yang akan gue ceritakan ini. Hal ini terjadi setiap kali gue ingin menaiki kendaraan umum di Mesir.


Jadi, malam itu gue sedang tergesa-gesa ingin segara pulang. Kebetulan ketika itu giliran gue untuk piket masak (baca: meracuni anak rumah). Tangan gue memegang plastik yang penuh berisikan dengan barang belanjaan berupa sayur-sayuran seperti buah tomat, wortel dan buncis, bumbu masak , serta makanan favorit sejuta umat yaitu tempe serta tahu yang nggak ketinggalan gue beli. Malam ini, rencananya gue akan masak telor dadar plus bakwan yang lebih banyak tepungnya daripada sayurnya, dan juga sambel ekstra pedas untuk anak rumah.
Belanjaan sama menu masak nggak nyambung kan?
Bodo amat
Sudah setangah jam, bis yang gue tunggu tak kunjung datang. Yang bisa dilakukan hanya buka Whatsapp – tutup – buka BBM – tutup – Buka Twitter – tutup – buka Instagram – tutup – ulangi. Sok-sok sibuk megang hape, padahal sih yang nge-chat juga nggak ada. Biar dianggap sibuk aja  gitu.
Akhirnya, bis berwarna merah yang gue tunggu datang juga. Dan tumben, kali ini bis-nya melaju dengan cepat. Disaat yang sama juga, ada kendaraan lain, bis biru kecil, yang posisinya sejajar dengan bis merah yang gue tuju.
Tangan gue berusaha menunjukan sinyal kepada supir berwarna merah, tapi apalah daya yang berhenti adalah bis biru kecil kampret itu. Dengan santainya si supir memberhentikan kendaraannya tepat didepan gue, sambil berkata,
“Ayo nak, sini naik”
“Gue mau pulang ke arah Darrasah, bukan ke City Star. Ga usah sok akrab juga lu”
*laaah marah-marah*
“Oh yaudah, abang duluan ya, dek”
“SUKA-SUKA ELU AJA BANG”


Setelah selesai ngobrol, bis merah yang gue tuju malah pergi begitu saja. Hilang. Sudah pergi jauh. Ini semua gara-gara supir kampret, datang tak diundang, tapi nanya-nanya sok akrab.
“KYAAAAAAA”
Pengen nangis gue. Nunggu setengah jam, tapi nggak ada hasil.
“Eh, dek-adek”
Ternyata supir bis biru kecil bgst itu belum pergi juga.
“Oit, dek” Ulang si supir ke gue.
“Apa?” Jawab gue yang berusaha untuk terlihat seperti anak baik.
“Tolong beliin pepsi dong, nanti duitnya abang ganti”
“....”
“UUH LUH, MAMPUS LU, MAMAM TUH!! SEHAT-SEHAT DEH TUH MUKA PENUH VITAMIN” Teriak gue, sambil melempari abang supir dengan sayur-sayuran yang ada di kantong plastik belanjaan gue.
“BIAR TAMBAH IMUT TUH MUKA LU” Lanjut gue, sambil melempari abang supir dengan sisa belanjaan yang gue punya.

sumber: foto 1, foto 2