Wajah menggemakan, pipi yang menyerupai tahu bulat, ukuran lengan tangan dan betis kaki yang susah dibedakan, rebutan para perempuan, tak terkecuali oleh teman gue yang perempuan, dan juga yang seringkali dilempari dengan pertanyaan,
‘Iiih kamu apa kabar? Cuamaaaat’
‘Siapa sih ayahnyaaa?’
‘Ini anak capaaa cee? Lucu bet, lucu bet’ Ini ngomongnya sambil nyemburin ludah.
‘Kamu laper haa? Sini ammah(baca:bibi/tante) suapin. aaaam’ Yang ini nafasnya bau bunga bangke.
‘Ha kamu mau minum starbak? Iiih tante juga mau tauk. Minta duit sama ayah kamu yuk’ dia yang nanya, dia juga yang jawab. Bapaknya juga di palak lagi.
Anak kecilnya kuat banget, nggak nangis.


Tapi bicara soal anakonda kecil yang ada di Mesir, sifatnya jauh berbeda dengan anak kecil yang berada di Indonesia. Usilnya itu minta ditendang, tapi karena masih kecil, plus wajahnya imut dan hidungnya mancung, jadi nggak tega aja untuk ngelakuinnya.
Beberapa hari kemarin gue juga mengalami penganiyaan oleh anak kecil.
Jadi, cerita ini bermula ketika gue ingin main ke rumah teman gue di distrik 10, yang mengharuskan gue untuk naik bis terlebih dahulu. FYI, disini jadwal bis itu nggak ada yang pasti. Jauh berbeda dengan jadwal bis yang ada di Eropa sana, yang sudah terjadwal rapi, yang bisnya rapi, wangi, teratur, rajin menabung, bikin masakan buat mertua, suka silat, bisa kayang, ya pokoknya beda lah.

Baca juga: Bocah Menyebalkan
Setelah lebih dari dua jam menunggu bis di terminal, gue menyerah. Bisnya nggak ada tanda-tanda datang, dan panas Mesir yang lagi emang kampret-kampretnya. Inilah salah satu penyebab, kenapa kulit gue ‘lebih mencolok’ ketimbang teman-teman yang lain.
Gue memutuskan untuk kembali ke rumah. Panas Mesir kalau siang hari emang gitu, becandanya keterlaluan. Ditambah lagi, para pengendara mobil ataupun motor yang membawa kendaraannya seperti sedang di taman bermain. Ngebut aja yang penting, kalau nabrak orang paling hanya teriak,
Ma’alsy habibi
Di Mesir kayak gitu. Makanya kalau mau ngerasain sensasinya main sini ke Mesir, jengukin gue. Bawain duren sama tahu kupat sekalian.
Ketika di perjalanan pulang, gue lebih memilih untuk mengahampiri warung untuk membeli sebotol air mineral. Meskipun dari kejauhan, gue bisa dengar teriakan orang yang sedang berjualan minuman. Gue sering dengar teriakannya, tapi sampai sekarang gue nggak tau, si penjual itu berteriak apa. Yang gue tangkep hanyalah,
UWAAAAH UWAAAH’
‘UWAAAAH UWAAAH’
‘UWAAAH UWAAAAAAAAH’
Padahal dia jualan air perasan dari buah kurma loh. Tapi... Ya suka-suka dia ajalah, semerdeka dia aja pokoknya. Kalau gue tegur, takutnya gue disiram air kurma. Nanti kalo gue ketagihan gimana? Kalau gue minta disiram lagi gimana? Ha? Ha? Siapa yang mau tanggung jawab? Ha? Jawab?!!
Anjir, ga mutu banget tulisannya
Tempat tinggal di Mesir itu kebanyakan berupa flat. Kayak rumah susun gitu, tapi lebih sedikit rumahnya. Jadi kayak satu gedung gitu, terdiri dari lima rumah. Tiap lantai ada satu rumah, misalnya kayak gitu.
 

Rumah gue terletak di lantai tiga, lantai satunya diisi oleh teman-teman gue yang perempuan, lantai dua diisi oleh yang punya gedung, bapak kost gitu lah, nah baru lantai tiga rumah gue. Sisanya masih kosong tanpa penghuni. Biasanya gerbang pagar itu di kunci, dan kebetulan juga kunci gue baru saja hilang. Tapi mungkin karena rejeki anak sholeh seperti gue ini, pintu gerbang tidak di kunci.
Langkah kaki gue terhenti, karena melihat anak bapak kost yang paling kecil sedang membenarkan kunciran rambutnya, serta wajahnya tersenyum kearah gue. Dia mengenakan kaus lengan pendek berwarna pink serta celana pendek dan juga menggunakan sandal jepit, yang membuatnya semakin manis. Ketika gue menanyakan kabarnya, dia datang menghampiri. Bukannya keluar dari pintu, dia lebih memilih untuk melewati sela-sela besi yang ada (namanya juga bocah), kemudian menjawab pertanyaan gue sambil menunjukkan giginya.
Bahagia gue itu sederhana, di senyumin sama anak kecil aja udah senang.
Kemudian anak kecil itu bertanya kepada gue,
Fien miftah?’ (baca:mana kunci kamu, ka?)
Matruk fil bait yaa bint’ (baca:ketinggalan di rumah, dek) kata gue bohong.
Yang dilakukannya setelah itu adalah dia memegang besi gerbang, kemudian menutupnya dengan cepat.
Lalu dia pergi sambil tersenyum.
Ketika wajahnya masih menghadap gue, botol air yang ada digenggaman gue, langsung menghilang. Terlempar menuju muka kampretnya.
Nggak kena.
Telek.
Yang gue lakukan sehabis itu hanya menatap wajahnya, sambil mulut gue mengeluarkan kata-kata berupa,
‘HASYU’
‘LU MAU KEMANA, SYU?!!!’
‘GUE MAU NAIK INIIIIIH, NYET!!’
‘MALAH DITUTUP LAGI’
‘PAKE KETAWA LAGI LU’
‘BERUNTUNG NGGAK KENA BOTOL GUE TUH MUKA LU’
‘AAARRRGGHHHH’
‘KYAAA KYAAA’
Nunggu lama-lama di terminal, panas-panasan di jalan, dan sekarang dikerjain sama anak kecil kampret.
Masih nganggep semua anak kecil baik, ha?
sumber: foto 1, foto 2