Suasana Kairo saat ini sedang memasuki awal musim dingin. Kalo tahun kemarin, hujan hanya turun sekali atau dua kali, gue lupa, tapi sekarang beda. Sama halnya, kayak perasaan dia ke gue, beda. Dan nggak pernah sama. Huhuhu…
Apaan sih, nyet. Ga lucu.
Sudah dua hari ini, hujan turun dengan lebat, membuat Kairo semakin sejuk. Kalo suasananya sejuk seperti ini, gue jadi inget dengan kampung gue yang terletak di Temanggung, Jawa Tengah sana. Udaranya dingin-dingin semeriwing, tetesan air hujan yang terdengar nyaring menyentuh aspal, kemudian berbagai hidangan lezat yang tersedia diatas meja makan. Tapi disini, gue nggak mengharapkan hal yang terakhir juga sih. Nggak ada gunanya untuk mengharapkan hal yang tak pasti, bukan? Yah, nggak mungkin juga ketika bangun di pagi hari, gue menemukan gule kambing tergeletak indah begitu saja di meja makan. Mahasiswa dibelahan bumi mana sih, yang di pagi-pagi buta sudah semangat memasak gule kambing? Nggak ada kerjaan banget. Lah wong skill masak sebagian mahasiswa hanya sebatas menggunakan rice cooker plus mecin.
Nggak heran jadinya, kalo anak muda zaman sekarang banyak yang sedikit-sedikit kebawa perasaan. Nyemil mecin mulu sih ya.
Entah kenapa musim dingin seperti ini, tidak membuat gue untuk bergegas tidur di malam hari. Yang terjadi adalah gue sudah menggelar kasur, mengambil selimut dari tumpukannya, dan sempat berbaring cantik diatasnya. Lima menit setelahnya, gue akan berdiri, lalu turun ke warung duapuluh empat jam yang terletak dibawah flat gue, kemudian membeli dua Indomie rebus serta tiga telur. Bukan tidur, gue malah makan. Sip. Entaps! Kalo setiap hari seperti ini, kayaknya impian gue untuk menjadi pria langsing nan aduhai, akan susah terwujud.
Selain membuat diri gue rentan sakit, hal ini juga membuat gue terlihat berhalusinasi aneh.
Jadi, gue tidur di ruang tengah. Ketika tidur dengan bahagia, serta mimpi bisa bertemu dengan cewe yang gue taksir di taman bunga, perlahan mimpi gue berubah menjadi suram. Yang sebelumnya, gue melemparkan senyum ke si cewe yang gue taksir, lalu dibalas dengan senyuman yang aduhai indah sekali itu. Sekarang berbeda. Wajah indah dari gadis yang gue taksir, perlahan berubah menjadi kura-kura. Asli serem. Lu bayangin aja, seorang yang lu taksir wajahnya berubah menjadi kura-kura. Asli serem, men. Kura-kuranya menggunakan pasmina warna hitam lagi. Suaranya yang sebelumnya halus ketika berbicara dengan gue, seperti ini,
“Ka. Apa kabar?” kata gadis yang gue taksir, lalu gue jawab dengan,
“Nggak pernah sebaik ini, ketika bisa berbincang dengan kamu”
Berubah menjadi,
“WOY, JI. JI. UWOY!! TOMAT!! UWOOY!! UWOWOWO!!”
Seketika itu gue langsung bangun, dan teriak-teriak meminta pertolongan.
Ternyata itu adalah teriakan teman gue. Dia berteriak ke arah gue yang sedang tidur manis. Badan gue digoyang-goyang, kemudian diteriak dengan membabi buta. Em… bukan goyang, gue nggak lagi goyang juga waktu tidur. YAA KALII, PAS TIDUR GUE DISAWER!! Eh, tapi nggak tau juga sih. Bahasa tepatnya digerak-gerakkan. Iya, digerak-gerakkan sedikit. Dikit banget. Kemudian diteriaki seperti itu. Dan taukah alasan dia membangunkan gue karna apa?
“Ji, bangun. Ada cewe yang mau masuk nih. Masih berantakan ruang tengahnya. Lu nggak mau ditonton pas tidur, sama cewe kan?”
Iyah, semua karena wanita. Pagi hari dengan suasana senyaman ini, se-sejuk, dan se-indah ini bukannya digunakan untuk tidur tapi malah main ke rumah orang. Dasar wanita.
“Yaelah, gue lagi mimpi indah ini. Ah elah. Pake dibangunin” teriak gue malas, sambil berdiri dan membawa selimut.
“Tapi mereka bawa gule kambing loh, plus mau nyawer juga, ji” kata temen gue.
“LAH, SERIUSAN? YA SURUH MASUK LAH. SERING-SERING AJA MAIN KESINI”
“ahahahah. Nggak mungkin, ji. Ngaco aja lu. Gih dah masuk kamar, mau beres-beres ruang tengah gue”
“KAMBING LAUT. GUE MAKAN JUGA LU!!”