Sekarang ini, gue sedang duduk tepat di tempat hits para mahasiswa Indonesia yang, beruntung, kuliah di Mesir. Tempatnya sederhana kok. Hanya toko yang menjualkan beraneka ragam jus dari buah-buahan. Tapi entah kenapa, tempat ini menjadi salah satu tempat ternyaman untuk ketawa bareng teman-teman, kumpul-kumpul kepanitiaan, sampai tempat untuk menyendiri memikirkan hal-hal yang telah terjadi maupun yang belum.
Ditemani satu gelas jus alpukat plus eskrim coklat yang belum dicicipi sama sekali, gue sedang duduk sambil sesekali menggosokkan kedua telapak tangan. Pandangan gue tertuju ke langit, tanpa bintang, hanya bulan yang dilewati oleh awan-awan. Apa hidup gue sama halnya seperti bulan itu ya? Sendiri, tanpa ditemani oleh bintang-bintang. Sendiri, dan hanya dilewati oleh awan-awan yang se-enaknya saja jalan. ‘Haaaah… kenapa hidup gue gini amat sih?
Terkadang gue benci dengan salah satu kebiasaan yang gue miliki. Membuat orang lain untuk tersenyum kembali, membuat orang lain melupakan kesedihannya sejenak, membuat orang lain agar tidak berburuk sangka terhadap orang lain. Kayak motivator gitu ya? Padahal sejatinya sih, gue dan orang itu berada diposisi yang sama. Sama-sama memiliki permasalahan. Dan bodohnya, ketika telah selesai melakukan hal itu terhadap orang lain, tanpa disadari gue seolah meminta balasan dari mereka. Bego banget kan? Seharusnya kita hanya berharap kepada Allah saja bukan?
Hampir sejam, gue duduk disini. Gue mencopot headset yang menggantung ditelinga. Sejam ini ditemani oleh lagu-lagu Indie yang entah apa nama judul dan bandnya. Gue terlalu tidak peduli dengan judul lagu-lagu maupun band yang terlist didalam hape gue. Selama dentuman drum, petikan gitar, dan liriknya bagus akan gue download kemudian disimpan di hape.
Gue jadi ingat dengan film Paper Town. Film yang melatarbelakangi tentang kisah persahabatan, kekaguman dalam diam, dan tentang cinta. Entah kenapa gue kepedean, merasa bahwa kisah si cowo pemeran utama ini ada persamaannya dengan hidup gue. Bedanya, dia punya sahabat yang meskipun sudah mempunyai kekasih, tapi masih bisa diajak gila bareng. Dia punya seorang gadis yang ditaksirnya dari masa kecil sampai sekolah menengah atas. Dia… kayaknya, perbedaannya banyak sih. Nggak usah dilanjutin ya.
Banyak sih, pelajaran yang bisa gue ambil. Contohnya, ketika mendapatkan suatu masalah yang sekiranya susah untuk dihadapi oleh seorang diri, coba berbagi ke teman yang dipercaya. Dengan begitu, mungkin saja bisa ditemukan jalan tengahnya. Syukur-syukur orang itu mau menolong kita. Masalahnya, gue belum nemu sih. Nggak tau deh, seperti kekurangan rasa kepercayaan terhadap orang lain. Apa karena kenangan buruk di masa lalu masih teringat sampai sekarang? Hm… bisa jadi sih.
Seorang cowo harus memiliki planning untuk masa depannya. Entah itu lima tahun atau beberapa tahun kedepan. Gue udah punya kok, tinggal actionnya aja. Semoga bisa. Doain ya, gaes. Kemudian pelajaran, tentang persoalan menganggumi orang lain. Nggak ada salahnya untuk menganggumi orang lain, sekarang gue juga seperti itu juga kok. Tapi ketahuilah, bahwa orang yang dikagumi itu bukan segalanya. Tetap mandiri, dan bapernya dikurangi, toh orang yang kita kagumi itu tidak tahu dan meminta untuk dikagumi, bukan? Dia hanyalah seorang gadis, sama halnya seperti yang lain.
Di saat sudah tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya untuk menjaga suatu cerita, dan seorang gadis itu hanyalah gadis biasa, yang sama seperti dengan gadis-gadis lainnya, kenapa nggak berharap kepadaNya. Toh semua yang ada didunia ini milikNya, bukan?
Kemarin sempet baca jawaban di ask.fm/bramantyo17 jawabannya seperti ini,
Gw butuh ketemu sm pencipta gw 5-6x dalam sehari. Gw butuh jadi cengeng 5x10 menit sehari setelah 24 jam sok tangguh di hadapan dunia.
Dari sekian banyak jawaban di ask.fm nya, yang ini sih yang paling bagus menurut gue. Jawaban-jawaban lainnya agak-agak semi-sesat soalnya.
 Jus alpukat pesanan gue telah habis, dan sepertinya renungan malam ini pun telah usai. Sekarang gue ingin bergegas pulang, menutup diri dengan selimut tebal. Yah, musim dingin telah dimulai.  Mesir sudah dua hari di guyur hujan, bahagia sih. Jarang-jarang hujan turun di negri ini.
Udah dulu ya.