Akhir-akhir ini fikiran gue terbang meninggalkan Mesir. Saat ini lebih senang menyendiri memikirkan keluarga di rumah. Memikirkan nyokap, yang sekarang ini nggak perlu memasak nasi banyak. Walaupun ketika itu gue udah larang nyokap untuk memasak nasi banyak-banyak, tapi... yah, dimasak banyak juga.
Gue: “Mah, masaknya nggak usah banyak-banyak. Uzi mau diet”
Nyokap: “Kamu sudah berani ya, nyuruh mamah. MAKAN KAMU!! MAKAN YANG BANYAK, BIAR NGGAK SAKIT!!”
Setua apapun seorang anak, tetep aja terlihat seperti anak kecil di mata seorang nyokap. Kalo udah seperti itu, sebagai anaknya gue mempunya kewajiban untuk memakan makanan yang telah dihidangkan oleh beliau. Bahkan, terkadang gue memakan jatah nyokap dan bokap loh. Anak yang berbakti banget kan? Bukan terkadang, tapi hampir seringnya sih gitu. Maya Allah banget lah.
Nyokap: “FAUZIII, KAMU JANGAN MAKAN TERUS!! Astaghfirullahadzim. DIET KAMU, HEI NAK!! DIET!!! SIAPA YANG SURUH KAMU MAKAN BANYAK-BANYAK?!! HAH!!”
Gue: “Apa salah hamba Yaa Allah? APA?!!” kata gue dalam hati.
Kalo ketika tahun kemarin, sore hari diisi dengan duduk-duduk santai dengan mengganti berbagai channel tivi, untuk meilhat ‘channel manakah yang duluan adzan’. Kemudian setelah mendengar adzan, langsung duduk manis di hadapan hidangan yang telah disediakan. Dan makan seluruhnya, dengan penuh hawa nafsu. Berbeda dengan tahun ini. Sekarang ini, sore hari diwarnai dengan persiapan pergi ke berbagai masjid. Hari pertama di masjid deket rumah, keesokan harinya ke masjid dekat rumah teman. Nggak ada waktu, untuk menyaksikan adzan di tivi. Kebetulan, memang rumah gue saat ini nggak ada tivinya juga sih. Setelah selesai shalat maghrib, para jamaah keluar meninggalkan masid dengan semangat, kemudian menuju halaman masjid untuk memakan makanan yang telah disediakan oleh tamir masjid. Sederhana, tapi.... gratisnya itu loh yang bikin GREGET.
Kayak sore tadi...
Sore itu sebenernya, nggak ada keinginan untuk meninggalkan rumah. Tapi karena meja makan di rumah yang nggak sama sekali makanan, minuman juga sama nasibnya, maka dari itu terpaksa keluar dari rumah. Dengan semangat. Tujuannya, masjid yang letaknya berada dibelakang sekertariat alamamater.
Adzan telah berkumandang, sebelum gue sampai di masjid. Langkah kaki ini, mulai melangkah dengan perlahan. Perlahan, sambil tengok kanan-kiri. Siapa tau ketemu orang baik, yang sedang bagi-bagi ta’jil. Alhamdulillah, sekali tengok kiri ketemu dengan pedagang yang sedang membagi-bagikan ta’jil. Seharusnya gue belok kanan, karena letak masjid di arah sana, tapi yaah... berhubung ada orang baik hati yang membagikan ta’jil, gratis lagi, sehingga mengarah ke arah yang berlawanan. Sampai sekarang, gue masih kagum dengan orang ini. dia pedagang kaki lima gitu, tapi sempet-sempetnya memberikan ta’jil untuk orang lain. Selain itu, gue juga sering menemukan beliau sedang sholat beralaskan koran disamping dagangannya. Semoga sifat penjual di Indonesia, kurang lebih bisa seperti ini nantinya. Amiin.
Kalo sebelumnya gue sering berpositif thinking, bahwa orang asli sini lebih memilih berbuka di rumah ketimbang berbuka di masjid... tapi kayaknya salah deh. Biasanya gue nggak khawatir ketika sholat berakhir. Gue masih bisa berdoa agar dipanjangkan umur kedua orangtua, kemudian tentang jodoh, jodoh, dan yang terakhir jodoh. Tapi sekarang beda. Setelah selesai berdoa kemudian beranjak menuju tempat hidangan yang telah disediakan, gue menemukan orang asli sini yang telah duduk manis. Begitu juga dengan orang Indonesia. Walaupun ada orang asli sini, tapi tetep lebih banyak orang Indonesia sih. Yah, bisa dimaklumin lah. Kita kan musafir, dan kita juga kan pecinta gratisan. Jadi nggak salah lah ya.
Satu orang dapet satu porsi nasi dan daging sebagai lauknya. Sebenernya, boleh aja sih minta tambah nasi. Tapi karena ucapan nyokap yang masih teringat sampai sekarang, gue menahan godaan itu. gue bertekad untuk diet di bulan puasa ini. Dan alhamdulillah kuat. Setelah menyodorkan piring kotor, gue beranjak meninggalkan masjid.
Ammu(paman): “Ambil nih, nak”
Gue: “Makasih, pak. Tapi saya udah kenyang banget. Beneran deh. Seriusa, pak. Duh, ngerepotin jadinya” kata gue dengan bahasa Indonesia, sambil mengambil Ruz bil laban(sejenis nasi dicampur susu) yang diberikan oleh ammu itu.
Kayaknya terlalu banyak cobaan untuk diet di bulan ini. Terlebih, gue termasuk tipe orang yang nggak enakan untuk nolak ketika diberi makanan. Di masjid, dikasih makanan enak. Ketika buka maupun sahur bareng angkatan, gue lebih beringas. Maapin hamba yaowoh. Kayaknya sih, memang rejeki di bulan ini banyak banget. Dan kayaknya acara kurusin badannya, kapan-kapan aja lah. Kalo inget.
‘Mah, maapin uzi ya. Kalo disini, sering khilaf kebanyakan makan’
Kira-kira, ada yang punya tips untuk ngurusin badan ga, gaes?