Tulisan sebelumnya, membahas tentang acara konser IKPM acoustic yang ditutup dengan adegan yang ‘sedikit memalukan’. Tulisannya bisa baca disini. Kali ini gue akan membahas tentang acara IKPM Olympiad.

Acara ini diawali dengan lomba masak-memasak yang diikuti oleh para cewe-cewe tiap angkatan. Sebenernya bisa aja sih pesertanya para cowo, yah tapi karena tujuannya ingin mengasah calon ibu rumah tangga yang baik serta bisa memasak, maka dari itu pesertanya cewe.
Temanya kali ini adalah bebek. Mungkin karena ayam dan ikan sudah terlalu mainstream kali ya, maka para panitia memilih bebek untuk menjadi temanya. Ini dugaan gue doang sih sebenernya, kalo kenyataannya panitia kurang dana... yah, mungkin ada benernya juga.
Ada lomba masak seperti ini, jadi inget sama lomba masak yang ada di tivi. Kadang kesel juga sih sama acara lomba-lomba yang ada di tivi. Mereka sedang fokus masak, tapi diberikan berbagai macam pertanyaan oleh para juri. Kan ganggu konsentrasi. Kalo gue pesertanya sih, bakalan gue tabok tuh jurinya.
Juri: “Kamu sedang apa?”
Gue: “Kupas bawang, chef”
Juri: “Ini kenapa belum mulai dimasak?”
Gue: EH KADAL, INI KAN DIKUPAS DULU. ASAL TUANG-TUANG AJA
Astagfirullahadzim, harus sabar ya. Udah mau Ramadhan.
**
Perwakilan dari angkatan gue, memasak dua bebek bakar beserta satu porsi tempe penyet, plus satu buah minuman buah-buahan. Tapi yang dibawa untuk penilaian hanya satu bebek bakar, satunya lagi ditinggalkan di dapur. Keren kan, angkatan gue? Hemat dan nggak modal memang beda tipis sih. Sebenernya, setelah setiap makanan ini di nilai oleh para juri, makanan ini akan dimakan bersama-sama oleh  setiap angkatan.
Sekarang bayangkan...
Angkatan gue ada sekitar empat puluh-an orang, lauknya hanya ada dua potong bebek bakar plus satu porsi tempe penyet. Kemudian makanan ini, dimakan bersama-sama oleh satu angkatan. Apakah kenyang? OOH JELAS TIDAK. TIDAK AKAN KENYANG.
Sedih banget ini nulisnya.

Simpel kan?

Apakah ujian untuk angkatan gue berakhir sampai disitu saja? OOH TIDAK. JELAS TIDAK. Ujian datang setelah pengumuman juara. Satu potong bebek bakar, yang ditaruh di dapur ternyata hilang.H-I-L-A-N-G. Ini salah siapa coba? Kenapa nggak semuanya yang dibawa ketika penilaian. Apakah semua penonton menyaksikan ketika juri mengumumkan nilai tiap masakan? Tidak. Senior-senior gue masih setia di dapur. Masih setia, mencari makanan yang sekiranya masakan ‘sisa’. Setelah dicari, kemudian menemukan, baru lah dimakan. Dan karena mereka menemukan, ‘wah, ada bebek sisa tuh. Sikaaat aah’ sehingga satu bebek raib.
Setelah satu bebek raib, para cewe-cewe angakatan gue pun marah-marah.
Nisa: “INI SIAPA YANG MAKAN BEBEKNYA HAH?!!” Persis banget kayak ibu kost.
Gue: “Siapa?”
Nisa: “PAUJI, KALO ENTE NGOMONG ‘SIAPA YANG NANYA’, ‘SIAPA YANG PEDULI’, ANA TABOK ENTE”
Gue: “I-Iya, ma-maap”
Robi: “Si Fauzi kali tuh. Liat aja, bibirnya berminyak gitu”
Nisa: “JADI YANG MAKAN ENTE HAH?!! NGGAK USAH MAKAN LAGI ENTE!!”
Gue: “Bu-bukan gue, mak. Ta-tapi...”
Nisa: “NGGAK USAH TAPI-TAPI AN. ENTE NGGAK USAH MAKAN. JANGAN KASIH TEMPAT KE PAUJI”
Gue: “EH, NENEK LAMPIR. BUKAN GUE YANG MAKAN. BIBIR GUE BERMINYAK, GARA-GARA GUE MAKAN SOSIS TAHU. ITU JUGA SISA MASAKAN SENIOR. BISA SANTAI NGGAK SIH!! EMANG ELU DOANG YANG BISA MARAH HAH?!! GUE JUGA!! GUE KETEKIN JUGA NIH DASAR NENEK LAMPIR GELO” Kata gue. Dalem hati.

Acara ini dimenangkan oleh angkatan paling senior. Dan tentunya bukan angkatan gue. Karena kami adalah junior, sehingga memang sengaja mengalah. Ini alasan aja sih. Kebetulan yang menang adalah senior-senior gue yang mau lulus tahun depan. Amin. Jadi wajar aja sih, para pesertanya sudah sejak dari dulu menyiapkan bekal untuk menjadi seorang ibu rumah tangga.
Nggak usah disebut masakan mereka, karena memang banyak banget. Dan kebetulan orang-orang dari angkatan mereka yang hadir sedikit. Makanannya disumbang dikit kek gitu ya, ke angkatan gue. Tapi, baru mau minta udah abis. Bersih piring-piringnya. Emang liar sih senior gue*eeeh.
Acara IKPM Olympiad ini berlangsung selama tiga hari. Yah, walaupun di lomba masak, angkatan gue kalah. Tapi tidak dengan futsalnya. Angkatan gue berhasil menjuarai lomba futsal antar angkatan. Dan hanya lomba itu aja sih, yang juara. Selainnya ya, kalah semua. Bukan kalah, tapi mengalah sama senior. Mereka kan udah pada tua. Fikirannya cepet lulus, terus nikah. Yaa kita, sebagai junior mempunya suatu kewajiban untukk membuat para senior-senior tertawa bahagia. Kan nggak enak, udah tua eeeh, malah marah-marah terus. Ntar kitanya kualat.