Minggu kemarin, gue disibukkan dengan acara-acara almamater. Karena kebetulan gue anak baru, jadinya...  ya harus menjadi panitia di acara ini. Toh, senior-senior gue dulunya, juga merasakan kepanitian seperti yang sekarang ini gue rasakan. Yah bedanya, gue lebih imut dibandingankan dengan senior-senior,  ketika mereka jadi anak baru. Itu aja sih bedanya.
Kok geli ya, baca tulisan sendiri.
Di minggu ini, ada dua acara besar yang diselenggarakan oleh almamater gue. Yang pertama, IKPM acoustic. Yang kedua, IKPM Olympiad. Yang ketiga, berkumpullah dengan orang-orang sholeh. Yang keempat, perbanyaklah berpuasa. Yang kelima, dzikir malam perbanyaklah. Syalala~
KENAPA MALAH NYANYI, NYET!?
Kali ini, gue akan membahas tentang IKPM acoustic terlebih dahulu. IKPM Olympiadnya, bisa diceritain besok. Besok siang. Minggu besok. Pokoknya, nanti lah diceritain.
Ketika malam IKPM acoustic, temen-temen maupun para senior-senior banyak yang ikut hadir dalam acara ini. Mungkin banyak orang mengira, ‘Halah, mahasiswa Al-Azhar Mesir itu dengernya Hadad Alwi doang. Mentoknya juga ke lagunya Opick Tombo Ati’. Kalian salah besar, gaes. Mahasiswa sini, ternyata senang dengan berbagai aliran musik. Entah itu, Pop, Rock, Indie, dangdut. Disikat semuanya. Lagu Opick juga termasuk sih.

Kemarin itu ada yang menyayikan lagu Payung Teduh. Kalo nggak salah, yang nyanyi itu adalah Muna dan Syntia. Gue harus akui, bahwa suara si Muna itu bagus, yah walaupun orangnya sih agak ‘UHUK’, tapi keren kok. Menghibur. Serius. Suara gitar, suara tingginya Syintia, bener-bener menghibur para penonton. Suara si Muna juga kok.
Dan ada juga yang menyanyikan lagu Counting Stars milik One Republic. Walaupun yang gue denger hanyalah, ‘aaa.... aaa... heaaaheaaa. Aaa.... aaa.... heahea’ kayak desahan orang minta makan gitu lah. Tapi bagus banget kok. Gue bisa bilang bagus banget, ya karena penyanyinya adalah temen se-angkatan. Kalo kagak, HIIIH!!
Sebetulnya, gue menunggu penampilan temen serumah, si Iyas dan Rofiq. Tapi karena beberapa kendala, mereka tidak bisa tampil di acara tersebut. Gue sebagai teman serumah, sebenernya sedih juga karena tidak bisa melihat mereka tampil didepan temen-temen lainnya. Tapi memang lebih baik seperti itu juga. Karena temen-temen gue ini, hanya hafal lagu Goyang dumang dan Goyang dribel bola boling. Yang pada akhirnya, gue yakin, seandainya mereka tampil, mereka hanya akan menjadi bahan cacian sampe mereka selesai kuliah. Sedih, jika membayangkan mereka menjadi bahan hinaan sampe mereka selesai kuliah. Sediiiih banget ngebayanginnya. Tapi pengen juga sih, ngehina mereka.
Astagfirulladzim
Acara malam akustik ini, ditutup dengan penampilan Alam dan Ali berjoget ria didepan para penonton tanpa ada rasa malu sedikit pun. SEDIKIT PUN. Mungkin bagi mereka, jogetan mereka adalah yang joget paling asoy se-Mesir, sampe muter-muterin badan satu sama lain. Tapi sepertinya, penonton berfikiran lain. Ketika si Alam memutar badan Ali, para penonton pun meninggalkan ruangan. Semuanya. IYAK, SELURUH PENONTON CEWE MENINGGALKAN RUANGAN. Hanya sisa beberapa teman-temannya, yang masih dengan ikhlas menyaksikan mereka berjoget ria.
Sedih membayangkan, ketika temen-temen gue sedang asyik berjoget ria, tapi para penonton dengan ringannya melangkahkan kaki ke luar lapangan. Yah, tapi nggak ada salahnya juga sih. Seandainya gue nggak kenal Alam maupun Ali, gue juga dengan sangat berbahagia untuk meninggalkan ruangan. Seandainya saja.... AH ELAH!!
Gue sering berkata dalam hati, setiap bayangan Alam dan Ali berjoget ria di malam akustik,
‘Apa kata orang tua mereka ya, seandainya mereka melihat anaknya yang kuliah jauh-jauh hanya untuk joget seperti itu? Sampe badannya muter-muter gitu lagi. Apa mungkin, nama mereka bakalan dicoret dari kartu keluarga ya?’