Gue sering banget menemui tulisan yang mengatakan, ‘Kuliah di luar negri itu harus siap mental’. Dan sekarang gue mempercayai kata-kata itu. Hampir setiap hari, banyak kejadian yang mengharuskan agar mental ini lebih baik lagi. Apa semua kejadian-kejadian kampret yang menimpa gue ini disebabkan karena menulis aib temen-temen gue di blog? Duh, gue merasa berdosa kayak gini. Etapi asyik juga sih, nulis aib temen-temen sendiri. Cobain deh, bikin ketagihan!!
Salah satu ujian mental di negri Mesir ini adalah ketika menaiki kendaraan umumnya. Semua kendaraan umum yang ada, menyajikan ujian yang berbeda. Inti ujiannya hanya dua sih, ujian sabar dan kekuatan mental.
Terlebih Trem yang ada disini.
Tremnya yang disamping bis
Jadi, setelah mengantarkan adik gue sampai rumahnya, gue hendak pergi menuju sekertariat almamater. Punya adik yang kuliah bareng di negri orang, membuat tugas gue bertambah. Salah satunya, menemaninya untuk mengambil uang. Sebenernya ini hanya akal-akalannya aja sih, supaya ketika pulang dari ATM nanti, dia bisa makan gratis. Kita ambil uang bareng, tapi giliran bayar makan gue yang ditunjuk. Iya, sedih. Padahal uang yang gue ambil, lebih sedikit dari dia. setiap gue menyuruhnya untuk membayar makanan yang kita makan, dengan entengnya dia berkata,‘Mas, keperluan cewe itu banyak. Mas, tega emangnya sama Faizah?’.
Tuh, jadi serba salah, kan? Yang ngambil duitnya banyak dia, tapi gue juga yang disuruh bayarin makan.
Trem gue yang naiki ketika itu sedang sepi penumpang. Yang ada hanyalah musik Mesir yang dinyalakan dengan volume maksimal. Supir sini, nggak peduli juga sih, kita seneng atau kesel disajikan dengan lagu seperti itu. Intinya, si supir seneng sama lagunya, si supirnya bisa ketawa haha-hihi. Penumpangnya mabok atau pingsan, bodo amat. Yang penting bagi si supir sih, ‘AYO GOYANG DUMANG, BIAR HATI SENANG, SEMUA MASALAH JADI HILANG’.
Ini salah satu contoh lagunya...
Kalo ada supir Mesir yang beneran nyanyi lirik itu, gue tendang hidungnya sampe copot. Asli.
Eboong deng. Takut duluan.

Setelah duduk manis, dan menutup pintunya. Tiba-tiba pintu itu terbuka lagi. Karena si supir membawa mobilnya terlalu cepat, sehingga pintu yang mendadak terbuka itu menutup sendiri dan menimbulkan suara benturan yang keras.
Abang supir: ‘KENAPA PINTUNYA NGGA DITUTUP HAH?!! KALO RUSAK MAU TANGGUNGJAWAB HAH!!’ Teriak si abang supir. Nafasnya bau. Bau naga, telor busuk, sambel terong, kentang goreng jadi satu. Tak lupa muncrat. Lengkap banget penderitaan gue. Banjir muka gue.
Gue: ‘Ta.. ta.. tadi udah ditutup pintunya, bang’ jawab gue terbata-bata.
Abang supir: ‘KAMU JANGAN DUDUK DI DEKET PINTU
Gue: ‘Iy... Iyaa bang. Tadi beneran udah ditutup kok
Kemudian masuk beberapa rombongan anak muda, dengan hidungnya yang dipaksakan mancung. Dengan anggunnya mereka duduk, kemudian memberikan uang seadanya kepada supir.
Perdebatan dimulai lagi. Si supir merasa uang yang diberikan tidak sesuai dengan tarif yang ada. Kali ini, gue duduk ditengah-tengah orang yang sedang berteriak-teriak di dalam trem, dengan air muncratan dari kedua belah pihak, dan bau nafas mereka yang menyatu. ‘GUE NYERAH, NYERAH!! GUE CUMAN MAU PULANG KE SEKERTARIAT DENGAN AMAN. ITU AJA. GUE NANGIS JUGA DAH INI. KAMPREETTT!! TOLONGIN ABANG HAYATI!! KYAAA... KYAAA’
 Gue baru tersadar, ternyata gue belum memberikan uang ongkos kepada supirnya. Tapi anehnya, ketika uangnya diberikan, si abang supir mengembalikkan uangnya. Karena berisiknya suara musik dan perdebatan, gue nggak bisa mendengarkan apa yang diucapkan abang supir.
‘Ah, deket aja juga. Mungkin si abangnya, nggak mau nerima uangnya’ kata gue dalam hati, mencoba berbaik sangka.
Dan ketika hampir mendekati tempat tujuan, gue memberikan uangnya lagi.
Gue: ‘Bang, ini duitnya’ sambil memberi uang setengah pond.
Abang supir: ‘lalal – hahah -  hihi
Gue: ’Lah, kampret. Ini abangnya ngomong apaan si’ kata gue dalam hati
*menukar uang setengah pond dengan satu pond
Gue: ‘Nih, bang’ kata gue sambil memberikan uang satu pond
Abang: ‘Nah ini bener

Gue: ‘Lah, onta bunting! Kan jaraknya deket, kampret.Nggak sampe sejam juga, onta!! Gue doain idung lu pesek. Amin’ kata gue setelah turun dari trem.