Uhuuk...
Minggu ini pekerjaan baru yang gue jalani sebagai mahasiswa perantauan adalah menjaga rumah. Kalo di awal-awal gue sering pergi, dan nggak pernah piket masak sama sekali, di minggu ini gue dipaksa untuk menetap di rumah. Bukan karena di hukum sama anak-anak kamar sih, tapi karena kondisi badan gue yang lagi drop banget.
Dua hari berturut-turut olahraga. Sore hari ikut kompetisi lomba basket, dan besok paginya langsung ikut futsalan bareng temen-temen se-organisasi. Dan kedua-dua nya nggak membantu gue untuk lebih bersinar dan dikenal orang-orang sebagai pemain hebat. Sebaliknya. Gue akan terkenal sebagai pemain bego, yang nggak bisa melempar bola ke ring lawan.
Huffft.
Tapi dengan sakit yang gue alami sekarang, gue jadi lebih tau sih, siapa saja yang memang harus dianggap teman haqiqi dan temen yang hanya sebatas ‘temen’ aja. Disamping itu, sakit ini juga membawa kebahagian bagi temen-temen kamar gue. Karena dengan ini, kulkas rumah mempunyai stock buah-buahan lebih ber-varian ketimbang hari-hari sebelumnya. Temen-temen gue memang bener syeetan. Bahagia diatas penyakit yang gue derita. Bahkan ada yang bilang,
“Ji, sering-sering sakit aja ya!”
BANGCHATT!!
Tapi dengan begini, gue bisa lebih mengenal temen-temen rumah sih.
Hari libur kuliah untuk mahasiswa Mesir adalah hari Jum’at. Sama halnya ketika gue di pondok dulu. Jadi ibaratnya, malam Jum’at itu waktunya untuk santai-santai dan kumpul-kumpul bareng. Karena kondisi gue yang susah untuk keluar kamar, jadilah gue penjaga rumah. Sedangkan temen-temen gue yang lain sibuk pergi. Pokoknya, nggak ada yang di rumah. Padahal sejatinya mereka juga sama aja sih, makhluk tuna asmara yang nggak merasakan kasih sayang. Tapi fikiran gue itu salah.
“Lo abis darimana, do? Lama banget” kata gue ke Ridho.
“Tadi kan gue keluar tuh. Eh ketemu Lupy sama Wia, diajak minum jus dulu. Makanya lama”
“OH, JADI KAMU LEBIH MILIH MEREKA KETIMBANG AKUUH? KAMU TEGAAA... TEGAAA!!” oke, ini asli lebay.
Semangat makan gue mulai hilang. Makanan yang gue pesen ternyata udah dingin, nggak ada sama sekali panas-panasnya. Walaupun nggak panas, tetep dimakan-makan juga sih. Kayaknya temen rumah memang bahagia, kalo gue sakit lama. Yah, satu-satunya cara untuk menghadapi setan, memang harus memperbanyak istighfar. Astagfirullah.
Ketika menikmati makanan yang terlanjur dingin ini, Ridho menggelar kasurnya disamping laptop. Kemudian memanggil Ilyas.
“Ilyas, ayook cepetan”
“Lo mau ngapain?” kata gue
“Sunnah rosul. Kan malem Jum’at, ji”
“DASAAAR SETAAAN!! PANTESAN GUE SAKIT, KALO RUMAH GUE KAYAK GINI SEMUA PENGHUNINYA” kata gue dalam hati.
“Mulainya pas jam sebelas loh, do. Nyalain lagunya dong”
“Iya”
Alhamdulillah
Ternyata dugaan gue, kalo mereka ingin melakukan hal yang tidak senonoh ternyata salah. Mereka sibuk mijat-memijat dengan durasi waktu yang telah mereka sepakati.
Jadi, dihadapan gue sekarang, ada seorang pria tidur diatas kasur lipat, dan satu pria lagi sedang meremas-remas paha orang yang tidur diatas kasur itu. Disampingnya ada sebuah laptop yang memutar lagu dangdut berjudul Aku mah apa atuh. Dan ketika mijat-memijat, mereka berdua sibuk membahas tentang goyang dribble.
“Wah, gue kecepetan mijetnya”
“Pelan-pelan aja makanya. Nikmatin”
“Iya. Udah ente diem aja”
“Oh iya, ente tau nggak orang yang goyang dribble itu, jantungnya bisa mendadak langsung berenti loh”
“Seriusan?”
“Iya loh, jadi nanti blaa...blaaa...blaa”
“Yaa Allah, bukakan pintu hati mereka. Berikan mereka hidayahMu” kata gue dalam hati.