Kalo di kelompokkan, mahasiswa disini tinggal berdasarkan tiga kelompok. Pertama, hidup bersama temen-temen se-almamater. Kedua, hidup bersama orang-orang yang satu daerah. Dan yang terakhir, bedasarkan mediator yang membawanya dari Indonesia menuju Mesir.
Kebetulan gue tinggal bareng temen-temen almamater.

Yang dulunya senior di pondok, sekarang jadi senior disini. Dulunya bagian pengurus masjid, yang tugasnya mukulin santri supaya maju ke shaf depan, sekarang jadi senior di kampus. Terkadang ketika gue memandang wajah senior gue ketika tidur,
“Ini manusia, dulu mukul gue pake sajadah supaya maju ke shaf paling depan. Kalo sekarang gue lempar mukanya pake setrika an, kira-kira dosa nggak ya?”
Ada empat mahasiswa baru lain, yang tinggal serumah bareng gue. Dan diantara mereka, hanya satu orang yang rajin kuliah maupun belajar langsung dari Syekh. Sisanya, nggak terlalu semangat untuk mengerjakan hal itu. Termasuk gue juga sih. Yah, namanya juga manusia, pasti punya minat yang beda.
Salah satu makhluk kamar gue bernama, Rifki. Dia sering salah tingkah dan selalu nggak mau ngalah. Terlebih di depan cewe. Manusia ini selalu berusaha hadir ketika acara futsalan. Walaupun gue sendiri, nggak mengharapkan kedatangan dia juga sih. Alasannya? Merugikan tim.
“Dia masuk tim lo aja ya?”
“Siapa?”
“Rifki”
“Eh, gue pulang duluan ya. Mainnya besok-besok aja deh. Pas Rifki nggak ada”
Kasian. Nggak ada yang mau nerima.
Dari sekian lamanya gue main futsal, baru sekarang gue menemukan pemain futsal yang heboh. Heboh ketika merebut bola dari timnya sendiri, bukan dari tim musuh. Kaki temennya ditendang-tendang, kemudian bolanya ditendang ke gawang sendiri. Cerdas. Yah, semoga suatu saat dia berubah. Semoga.
Amin.
Temen gue yang lainnya bernama Rahmat. Makhluk ini yang rajin ke masjid, ke kampus, dan mukanya hampir selalu hadir ketika pengajian bareng Syekh. Disamping itu, dia mempunyai suara bagus. Dia Qori. Tapi, cara dia melatih suaranya yang terkadang bikin jantungan.
Jadi, ketika rumah sunyi senyap, hanya suara dari satu laptop yang memutarkan film saja, tiba-tiba Rahmat teriak.
“AAARGHHH!!!”
“HAAAAA... AAAA”
“WWAAAA!!!”
Semua mata tertuju ke Rahmat.
“MAT, LO KENAPA?? LO KESURUPAN?? UDAH MINUM OBAT?!!”

"....."

"RAHMAAAT, JAWAB!!"
“Nggak. Ini lagi praktek video sholawatan nih. Heheh”
Syeeetan
Dua orang lainnya, Rofiq dan Irul, walaupun nggak semangat seperti Rahmat dalam urusan belajar, tetapi mereka semangat dibidang masak-memasak. 
Baru disini, gue dituntut untuk bisa masak. Walaupun sampai sekarang masakan gue hanya sebatas telor cabe-cabean, senggaknya masih layak untuk dimakan. Walaupun setelahnya gue nggak tau, mereka keracunan atau nggak. Senggaknya tugas gue sebagai piket masak, telah terselesaikan.
Mereka jarang masak telor seperti itu. Mereka lebih suka masak cumi, ikan maupun ayam. Kalo nggak ada, ya masak telor-telor juga sih. Kalo nggak ada, ya pilihan terakhir. Masak air di panci, ceburin mie.
Yah, semoga semuanya selalu ingat tujuan utama, belajar. Bukan semangat masak, maupun semangat tendang-tendang kaki orang.

Semoga.