Salah satu nikmatnya jadi mahasiswa Mesir, adalah dengan mudahnya kita belajar ilmu langsung dari para ahlinya. Biasa disebut, pengajian bersama syekh. Sebenernya ini nggak diwajibkan untuk para mahasiswa juga sih, hanya bagi yang minat aja. Kalo nggak minat, yaa nggak usah dateng. Tapi apa gunanya mahasiswa yang rela jauh pergi ke negara orang lain, kalo pada akhirnya tidur-tiduran, main PES, main hape? Apa? Hah? Apa? Begal? Goyang dumang? Hah? Goyang basket? Hah? Hah? Apa? JAWAB?!!
Ini kenapa ngaco gini, nyet.
Okeh, fokus.
Sebenernya gue neubie juga sih, tentang ngaji-ngaji sama syekh.
Gue pribadi, baru-baru ini sadarnya untuk mengikuti pengajian bersama syekh. Dulunya paling rajin nonton film, main PES, terakhir ini download DOTA2. Walaupun pada akhirnya, gue nggak mainin juga gamenya. Tapi karena sekarang gue bersama dengan orang-orang  yang mempunyai jiwa semangat untuk mengikuti pengajian, makanya gue terbawa aura positif mereka. Bahkan terkadang, karena mereka selalu bersemangat untuk mengaji, gue sering memberikan mereka aura negatif.
“Rahmat, Ashrof, Zaki coba dengerin gue. Kalian jangan kebanyakan belajar ya, nanti masuk neraka loh”
“Kalo keseringan belajar, nanti bikin kalian dapet nilai besar. Terus nanti jadi sombong deh. Ujungnya bakalan masuk neraka. Tuh, serem kan?”
Tiap kali gue berkata itu, yang mereka lakukan hanya berdzikir, agar gue selalu diberi petunjuk. Terkadang sampe mau nge-ruqyahin gue berjamaah. Dan alhamdulillah, gue bisa menghindar.
Tapi, di pengajian waktu itu, terdengar suara orang bernyanyi di tengah penjelasan syekh.
Jadi, sabtu sore itu, jadwal gue mengaji pelajaran Fiqih. Tentang sholat. Walaupun kedengarannya pelajaran gampang, sebenernya nggak segampang apa yang difikirkan. Mulai dari tata cara sholat yang benar itu gimana, yang imam itu sebenernya cowo atau cewe, kenapa cowo itu selalu salah, sedangkan cewe selalu benar. Yang terakhir itu boong deng.
Setiap ada pengajian seperti ini, pasti banyak ditemukan banyak hape yang tergeletak diatas meja syekh. Bukan karena disita oleh syekhnya, akan tetapi semua itu karena mahasiswa-mahasiswa sini merekam apa yang dibicarakan oleh syekh dengan hapenya. Rajin banget ya mereka? Emang aura yang gue dan mereka miliki, berbeda jauh. Gue pribadi sih, lebih suka nulis apa yang dibicarakan oleh syekh, ketimbang ngerekam suara beliau. Toh, sekalipun gue masih belum paham, gue bisa bertanya sama Rahmat, temen se-flat gue yang rajin ngaji, ataupun gue nonton ulang pengajian syekhnya di Youtube. Biasanya sih diupload.
Begitu juga dengan salah satu temen gue, Asraf. Dia sibuk memperhatikan bukunya dan terkadang mencatat. Padahal ketika itu, syekhnya belum menerangkan suatu persoalan. Rajin sama sotoy, terkadang memang beda tipis. Sama halnya temen-temen gue yang lainnya, dia juga merekam perkataan syekh menggunakan hapenya.
“Srof, ini lagi ngerekam suaranya syekh?”
“Iya”
“Oh”
Kau harus bisa... bisaa... berlapang dada. Karena semua tak lagi sama. Nanana, gue lupa liriknya. Yang penting nyanyi, nanana.... kok gue ganteng amat... aa.. aa...
“.....”
“Suara gue merdu ya, srof? Sampe diem gitu lo. Aaah, jadi maluu gue” kata gue, sambil menepuk bahu Asrof.
“Ji”
“Iya, apaan?”
“LO NYANYI LAGI DIDEPAN REKAMAN GUE, GUE GAMPAR MUKA LO. ITU NAFAS BAUNYA KAYAK NAGA. JANGAN NYANYI LAGI LO!!”
“Lah, nafas gue wangi kali. Wangi lemon. Dih sotoy. Jadi cowo sensian. PMS ye lo?” kata gue. Dalam hati.

Walaupun di tengah pengajian ada hal nista semacam itu, tapi nggak sampai kedengaran syekhnya kok. Percuma aja dulu ketika gue di pondok nakal, kalo nggak punya akal untuk mengatasi hal kayak gini. Semoga ketika pengajian di minggu depan gue nggak nyanyi lagi. Amin.