Terkadang, yang gue takutkan untuk kuliah di luar negri itu adalah lingkungan pertemanannya. Salah satunya sih.
Kayaknya tulisan kali ini, bakalan penuh dengan curhatan gue deh.
Kalo jujur sama diri sendiri, gue takut kuliah di luar negri. Takut, apa yang diharapkan oleh orang lain, nggak sesuai dengan kenyatannya. Yang orang lain tau, adalah gue kuliah di Mesir, negri yang memiliki sungai Nil, negri yang memiliki bukit Sinai, tempat nabi Musa menerima wahyu, belajar ilmu agama langsung dengan para ahli-ahlinya, dan sebagainya. Intinya, orang yang belajar di Mesir ataupun negri timur tengah lainnya, ilmu agamanya dahsyat. Padahal sejatinya, nggak segampang itu. Nggak segampang om Tukul arwana, nyuruh penontonnya bilang,
‘EAA.. EAAA... EAA’
‘EAA... EAA.. EAAA’
‘EAAA.. EAAA’
Terus aja ngomong gitu,sampe onta minum kolak.
Disini, gue harus baca tulisan arab lagi, kejar-kejaran sama bis delapan puluh coret untuk bisa sampai kampus, selalu pegang kantong, karena disini banyak copet, belum lagi ngobrol sama orang arab sini yang bikin garuk-garuk idung.
Idung orang lain.
Jarang dari mereka yang berbicara bahasa arab fushah. Padahal yang gue pelajari dari dulu, sampai saat ini adalah bahasa arab fushah. Tapi kenyataannya? Mereka berbicara dengan bahasa gaul.
Kebanyakan sih, setiap gue ngobrol sama orang arab, yang terjadi adalah misunderstanding.
Kaya gini misalnya,
‘Bang, makanan saya, semuanya habis berapa ya?’
‘Itu Budi. Kalo ini idung. Tuh, gede kan?’
Nggak nyambung abiiis.
LO TUH MAU PAMER, ATAU NGAJAK BRANTEM, NJIRRR!!!
Belum lagi, dengan temen-temen disini.
Mungkin karena dulu gue pernah perhatian dan di sia-sia kan, makanya gue nggak mau terbuka lagi. Agak lebay sih, tapi emang gue pernah ngerasain kayak gitu.
Di saat gue berusaha untuk care sama orang lain, ikhlas ngebantu ketika dia lagi kesusahan, ujungnya ditinggal. Disaat ada butuhnya, dia akan singgah di kehidupan gue. Tapi, ketika dia bahagia dengan kehidupannya, dia akan lupa dengan teman-temannya. Kan setan.
Saat ini, ada empat orang yang deket sama gue. Mereka semua, cewe. Tapi sampai saat ini juga, gue masih menganggap mereka kayak cowo semua sih. Ada kalanya, gue beranggapan bahwa mereka adalah sahabat gue. Tapi terkadang juga, gue berfikiran,
‘Emangnya mereka nganggep gue sahabatnya juga?’
Temen gue yang dulu pernah deket sama gue, saat ini juga bersikap biasa-biasa aja. Memang dia duluan sih yang berangkat ke Mesir, dibandingkan gue. Ketika masih di Jakarta, gue selalu berfikir,
‘Di Jakarta, gue deket sama dia. Masa di Mesir berubah? Nggak mungkin lah’
Kenyatannya? Dia beneran berubah.
Setan.
Nggak berubah seratus persen juga sih, tapi tetep aja beda. Nggak bisa dipaksain juga sih. Kehidupan kan, nggak selalu bersama orang-orang lama. Pasti selalu bertemu dengan hal-hal baru, begitu juga dengan orang-orang baru. Gue nya aja yang bego, masih terjebak masa lalu. Terjebak dengan zona nyaman, dan belum bisa beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru.
Semoga kedepannya gue bisa lebih baik.
Dan semoga, empat orang cewe-cewe yang kayak cowo itu, bisa selalu tersenyum setiap harinya. Ada ataupun tanpa kehadiran gue.
Laah, emang gue siapanya mereka, nyeett?!!
 Itu aja sih yang mau gue tulis. Udah jauh lebih lega sih sekarang.

Siniih peluuk...