Bertambah umur seseorang, membuat mereka lebih bisa bersikap dewasa. Terlebih bisa bersikap dewasa dengan kejadian-kejadian masa lalu. Mulai dari galau nggak jelas, kehilangan orang-orang yang di sayang, di bohoongin temen sendiri, dan masih banyak lagi. Dan seiringnya bertambah umur, kita bisa menyikapi semua hal itu. Anak muda galau? udah biasa kok. Abisin aja dulu, masa-masa galau di usia muda. Udah tua masih galau? Malu dong sama jenggot. Nggak cocok aja, muka sangar dan punya kumis sampai nutupin mulut, tapi masih aja garuk-garuk pasir, kalo lagi ngambek.
Hari kamis kemarin, alhamdulillah gue bisa memperbaiki apa yang telah rusak di masa lalu. Yah, hal sepele sebenernya sih. Tapi, gue nggak mau ketika di masa tua nanti harus menyesal karena belum bisa memperbaiki hal yang telah gue rusak ini. Gue ingin bisa lebih fokus dengan masa depan nanti, dan salah satu caranya, adalah harus bisa berdamai dengan masa-masa lalu yang gue alami. Termasuk dengan hal ini. “Persahabatan”. Cerita lengkapnya, bisa dibaca dulu lah, di postingan-postingan gue sebelumnya.

Rusaknya hubungan persahabatan ini, karena dia lebih memilih pacarnya ketimbang gue. Sahabatnya. Kesalahan ini, sebenernya bukan murni kesalahan yang dilakukan oleh Ria,- sahabat gue, dan bukan murni kesalahan gue juga. Bisa dibilang, kita semua yang salah dalam hal ini. Kita terlalu egois dengan pendapat yang kita punya. Gue nggak setuju dengan hubungan dia dengan pacarnya yang sekarang, karena gue tau gimana aslinya sifat cowo itu. Dan di lain sisi, Ria sayang sama cowo itu.
Gue masih kefikiran dengan sebuah artikel yang sempet gue baca beberapa hari yang lalu. Artikel yang membahas tentang sebuah persahabatan. Nggak perlu gue jelasin tentang artikel itu ke kalian, karena gue sendiri lupa juga sama isinya. Tapi, yang masih gue inget dari artikel itu, bahwa nggak ada yang namanya mantan sahabat.
Walaupun gue nggak tau, ke depannya dia masih menganggap gue sebagai sahabatnya atau nggak, tapi gue harus menyelesaikan hal ini. Gue nggak mau kebayang-bayang masa lalu ini di kemudian hari. Lebih baik, aku bayangin kamu aja deh. :* muaach
Gilanii, nyet.
Kamis pagi, gue telpon Ria. Selain untuk memperbaiki masalah ini, sebenernya gue juga kangen sama makhluk satu ini. Dan bersyukur, ternyata rasa kangen ini, juga dirasakan Ria. Mungkin, Rasa kangen ria, lebih dari rasa kangen yang gue punya. Tapi, yaah... namanya juga cewe. Gengsi dong. MUNGKIN.
Ria ngajakin gue ketemuan di kampusnya, hari itu juga. Tanpa banyak komentar, gue langsung mandi dan manasin motor. Maksudnya, gue mandi dulu, baru manasin motor. Bukan mandi, sambil manasin motor di dalem kamar mandi. Yee kali dah muat, kamar mandinya. Baru kali ini gue semangat mandi.
Setelah menunggu beberapa menit, gue ketemu Ria. Nggak ada perubahan yang mencolok dari Ria, ketika gue bertemu dengannya kemarin. Malah katanya, gue yang banyak berubah. Berubah dari gemuk, jadi ENDUT. Yah, untuk kedua kalinya, gue dibilang “ENDUT” sama temen gue. Dan yang bilang, cewe semua. Tersentuh banget gue, karena masih ada yang merhatiin. Ah, mau gue peluk jadinya, temen-temen gue itu.
Err.... mereka punya peliharaan semua. Nggak jai deh.
Setelah dia bilang gue ENDUT, dengan refleks, Ria mulai mukul badan gue. Make kampak. Mungkin, Ria itu mau meluk gue. Tapi atas nama gengsi dia hanya bisa mukul badan gue ini. MUNGKIN.
Sebenernya gue nggak gendut, otot gue berpusat di perut aja, makanya keliatan ber-‘isi’.
Obrolan mengalir begitu aja dari mulut kita berdua. Mulai cerita kegiatan kampusnya Ria, dan cerita kesendirian yang gue rasakan, semuanya mengalir lancar. Pokoknya, cerita gue ngenes semua lah. Gue bener-bener kangen dengan moment-moment ini. Bisa ngobrol apa aja, sampai lupa waktu. Mulai dari yang penting, sampe ngomongin orang.  Kegembiraan gue bertambah, ketika Ria mesenin somay untuk gue. Ah.. dia tau aja, kalo keasyikan ngobrol itu bikin laper.
Sekarang dia harus LDR-an sama pacarnya. Walaupun begitu, gue yakin dia akan tetep setia dengan cowonya yang jauh disana. Gue bisa bilang kayak gini, karena kurang lebih, gue tau gimana Ria.
Ketika diawal-awal Ria dan pacarnya PDKT, gue lah orang yang paling benci akan hal itu. Setiap hari, gue berdoa agar mereka cepet putus. Ee... nggak setiap hari juga sih. Ketika itu, gue memang merasa bener-bener kehilangan temen deket gue. Yah, bisa dibilang kalo Ria adalah sahabat pertama yang gue punya. Tapi, makin ke sini, gue mulia bisa nerima hal itu. Mulai bisa nerima, kalo Ria memang punya kehidupannya sendiri. Gue akan turut seneng, ketika dia bisa bahagia, meskipun bukan dengan gue. Sedappp
Yah, semua orang pasti punya masalah kan? Mungkin kita sering berfikir, ‘Gue salah apa sih, sampai kena masalah berat kayak gini?’. Sebenernya, masih banyak orang di luar sana yang punya masalah jauuh lebih berat dari kita. Dan mungkin aja, orang-orang yang sering bercanda, selalu tersenyum mereka itu lah, yang memiliki masalah lebih berat dari kita. Yakin aja, Allah nggak akan ngasih ujian, di luar kemampuan orang itu. Yang perlu kita lakukan, hanya berusaha sekuatnya agar masalah itu terselesaikan, dan pasrah kepadaNya.

So, kalian udah bisa berdamai dengan masa lalu?