Sifat manusia itu memang beraneka ragam. Ada yang pemarah, penyayang, penyabar, dan pengertian. Allah menciptakan ke aneka ragaman itu pasti ada maksudnya. Agar hidup manusia bisa berwarna, dan tentunya agar manusia bisa bersoasialisasi dengan yang lainnya. Karena manusia nggak ada yang bisa hidup sendirian.
Di umur gue yang 19 tahun, udah banyak banget gue menemui orang dengan sifat yang bermacam-macam bentuknya. Terlebih lagi gue anak pondok, yang santrinya dateng dari berbagai daerah. Di pondok gue nggak diajari untuk mempelajari sifat-sifat orang berdasarkan daerah. Kita sebagai santri, paham akan keanekaragaman setiap orang, karena kita langsung berinteraksi dengan mereka.
*keren yak gambarnya. sumber.
Dari temen gue yang pemarah, penyabar, asyik buat diajak ngobrol ada semua. Gue mencoba memahami sifat-sifat mereka dan well, menurut gue ini asyik untuk diketahui. Gue pernah baca status orang yang bunyinya kira-kira seperti ini ‘Ketika lo punya seorang temen, dan sifatnya selalu membuat lo kesel. Jangan pernah menyuruhnya untuk berubah. Karena setiap manusia dianugrahi kelebihan dan kekurangan yang berbeda’. Dan saat ini, gue sedang berusaha untuk menjalankannya.
Walaupun umur gue udah hampir mencapai kepala dua,
sampai saat ini gue belum punya seorang yang bener-bener bisa dianggep ‘sahabat’. Lebih banyak, gue yang menganggap mereka sahabat, tapi mereka nggak melakukan sebaliknya terhadap diri gue. Makanya, ketika gue baca tulisan seseorang yang menceritakan pengalamannya bersama sahabatnya, gue bener-bener iri sama mereka. Kenapa mereka bisa punya seorang sahabat, yang care, yang selalu ada untuknya kapanpun dia membutuhkannya. Dan kenapa gue nggak punya?
Gue pikir, seorang sahabat itu hanya ada di film-film. Tapi setelah gue baca-baca blog orang, ternyata dugaan gue itu salah. Ternyata sahabat itu beneran ada, dan sampai saat ini gue nggak pernah merasakannya. Huffftt-
Ada seseorang yang udah gue anggap sahabat sendiri. Semua masalah pasti gue ceritain sama dia, mula dari masalah sepele sampai masalah yang sekiranya berat untuk diri gue, udah gue ceritain semua sama dia. Tapi, dia nggak pernah sekalipun cerita ke gue. Gue tau kabar dia juga bukan dari mulutnya langsung, gue tau hal itu dari orang lain.
Begitu juga dengan temen-temen yang gue punya. Gue ajak temen gue ini, untuk ketemuan sama temen-temen perempuan gue, walaupun gue tau ini bukan hal penting untuk dirinya, tapi apa salahnya kalo kita menjalin silaturrahmi. Pikir gue. But everything was change......
Temen-temen cewe gue lebih suka sama temen gue ini. Yah, gue sadar kalo gue itu orangnya terlalu ingin ikut campur urusan orang lain. Beginalah gue, ketika gue menemukan seseorang dan gue udah merasa nyaman sama orang tersebut. Gue ingin selalu ada untuk dirinya. Dan itulah alasan temen-temen perempuan gue nggak suka dengan diri gue, tetapi lebih suka terhadap temen gue yang satu ini.
Menurut gue, temen gue ini cuek, dan nggak mau terlalu peduli sama urusan orang lain. Tapi kenapa para pempuan lebih suka sama orang ini? Gue bisa maklumi kalo temen-temen perempuan gue risih dengan sifat gue. Tapi kenapa harus temen gue yang satu ini? Terlebih lagi, ketika temen perempuan gue cerita ke temen gue yang satu ini, tentang keburukan yang gue miliki. Gue benci banget dengan hal itu, kenapa mereka nggak bilang langsung sama gue?? Gue tau, gue pasti bakalan nyesek ketika denger hal itu pertama kali, tapi setelah itu gue akan jauh lebih plong, karena gue bisa deket lagi sama mereka But the real is?
Temen-temen gue satu-satu mulai meninggalkan gue. Malah ada seorang temen cewe gue yang nyuruh gue untuk nggak pernah nelpon, sms, unfriend dia di fb, unfollow twitternya. Padahal sebelumnya, gue sering cerita sama dia. begitu juga dengannya. Gue nggak bisa nyalahin temen cowo gue yang gue kenalin sama temen cewe gue ini. Kalo temen cewe gue lebih nyaman sama temen cowo gue, nggak mungkin gue maksa dia untuk tetep bersama gue.
Yah, mungkin saat ini gue harus merubah sifat gue. Dari seorang yang perhatian, menjadi orang yang cuek. Jujur, gue muak dengan keadaan gue yang seperti ini. Ketika gue bener-bener tulus untuk berteman, dan mencoba perhatian dengan temen-temen gue, pasti ujungnya bakalan seperti ini. Gue menjadi orang yang dibenci, dan akhirnya ditinggalkan oleh mereka.
Sekarang gue harus lebih jadi orang yang pendiam, yang ketika punya masalah lebih baik gue pendem sendiri, atau mungkin gue tulis di blog. Karena belom tentu, ketika gue cerita masalah gue terhadap temen gue, mereka seneng akan cerita gue?
Dan kalo ada dari temen-temen gue bilang mereka kangen sama gue, itu semua hanya bullshit. Ada nggaknya gue, nggak mungkin ada yang mencari gue. Pernah gue mikir, ingin menjadi seorang yang ditunggu kehadirannya, menjadi orang yang ketika nggak hadir disuatu acara dicari orang lain. Tapi sekarang saatnya gue untuk membuka mata. Karena nggak ada satu pun orang yang peduli sama gue.

Pernah nggak lo merasakan apa yang gue alami saat ini? Kalo ada, tulis di kotak komentar ya....