Sepertinya, baru di Mesir ini, gue hobi naik angkutan umum. Entah itu dari bis, tuk-tuk ataupun trem. Dan kayaknya, semua mahasiswa di Mesir merasakan hal itu juga sih. Niatnya ingin naik mobil mewah nan gagah, tapi apalah daya. Yang bisa kita lakukan adalah menanti bis di halte pinggir jalan. Udah gitu, bisnya rame. Bau ketiak semua. Nggak tau deh, itu bau ketiak orang lain, atau dari tubuh gue sendiri. Kayaknya sih, bau ketiak mereka. Eh, sebentar… gue kayaknya terakhir mandi hari selasa minggu kemarin deh. Apa jangan-jangan itu badan gue kali ya? Bodo ah. Auk amat.
Tapi, kemarin-kemarin ini gue sempet naik kereta. Kereta Mesir. Asli Mesir. Seriusan deh. Dan rasanya, emm… ada yang aneh tapi nikmat gitu.
Jadi gini, selasa kemarin, iya, tepat terakhir gue mandi itu, gue pergi ke Alexandria untuk mengikuti acara maulid yang ada terletak disalah satu masjid disana. Sebetulnya nggak direncanakan juga sih. Ketika gue masih nikmat tidur, si Afif menarik selimut yang gue gunakan, kemudian berkata,
“Ji. I lop yu. Muaah muaah”
Nggak deng. Nggak sehina itu juga kok.
“Ji, lu nggak kemana-mana kan? Jaga rumah ya”
Sambil mengumpulkan jiwa yang masih melayang-layang, gue menjawab,
 “Elu emangnya mau kemana ha?”
“Alex, mau maulidan. Mau ikutan?”
Sebelum gue menjawab, si Arif datang menghampiri kemudian dengan santainya berkata,
“Nggak. Fauzi jaga rumah dia. Iya kan, ji?”
“Yee, Penyu lu. Siapa bilang gue jaga rumah. Gue ikutan sih. Dih sok asik lu. Joget dulu sana gih dah”
**
Sampainya di stasiun, ternyata banyak teman-teman lainnya yang bertujuan sama seperti kita. Mereka hendak pergi ke Alexandria. Jam menunjukkan pukul 11.10 , tandanya masih ada waktu lima menit lagi sebelum kereta sampai di stasiun. Ternyata yang pergi kesana bukan hanya para teman cowo-cowonya saja, gue menemukkan teman-teman perempuan gue yang juga sedang menunggu kedatangan kereta. Seandainya menanti jodoh sama halnya seperti menunggu kereta, kayaknya enak gitu ya. Ah, seandainya. Emm… kira-kira, gimana kabar jodoh gue yang jauh disana itu ya? Sekarang dia lagi ngapain ya? Apa jangan-jangan dia lagi tanding PES sama temen-temen cowonya ya?
Ketika asik ngbrol-ngobrol sama teman yang lainnya, kereta pun tiba. Kereta yang gue tumpangi ini, sama halnya seperti KRL yang ada di Jakarta.  Kita hanya beli tiket, untuk urusan tempat duduk, itu urusannya sendiri-sendiri. Dan yang nggak kebagian tempat duduk, yaa harus sabar berdiri dulu.
Makanya, ketika kereta masih jalan dan belum berhenti di stasiun, orang-orang berjuang dengan sekuat tenaga. Mereka lari, kemudian masuk di salah satu gerbong, kemudian duduk manis di tempat duduk yang masih kosong. Kayaknya gampang gitu ya? Tapi aslinya, nggak seperti itu kok.
Ketika gue melihat para orang-orang Mesir berlari-larian untuk dapat memasuki kereta, gue dan teman-teman pun juga nggak mau ketinggalan. Kita lari juga dong. Nggak mau kalah. Biar kayak di film-film gitu, yang adegan kejar-kejaran di kereta.
Salah satu temen gue, Avi, dia juga berlari menghampiri kereta. Kemudian memegang besi yang ada disamping pintu gerbong, lalu dengan sekuat tenaga dia mengangkat badannya. Tidak berhasil. Dia tidak berhasil masuk. Percobaannya sampai tiga kali, juga tidak membuahkan hasil. Tragis. Gue pribadi kasian dengan Avi, tapi hati gue juga ingin menendang makhluk itu. Soalnya makin lama, gerbong itu datang kearah gue. Dan Avi, masih saja gelendotan di besi. Naik kaga, jatuh mulu iya. Kalo kayak gitu, gimana gue mau pegangan sama besi itu, wong besinya dipegang sama Avi. Kambing.
Tapi Alhamdulillah, nasib gue sedang mujur. Gue berhasil naik.
“YEEEESSSS!! GUE BISA. MERDEKA!!” teriak gue dalam hati.
Ketika melihat kedalam, ternyata penuh. Iya. Penuh. Semuanya. Nggak ada kursi kosong sama sekali. Dan bau ketiak. Kali ini bukan bau dari badan gue, kan tadi pagi gue udah mandi. Lalu, gue ingat akan suatu hal,
Astagfirullahaladzim. Kan tiket gue sama Afif. Orangnya kaga ada lagi. Kambing. Ntar gue disuruh turun pas ditengah jalan. Nggak lucu ah”
Setelah berdesak-desakkan dengan penumpang lain, akhirnya ketemu juga manusia itu. Meskipun berdiri, tapi setidaknya gue nggak di usir nantinya. Mata gue memandang se-isi gerbong. Penuh. Bahkan ada yang tidur diatas. Iya, ditempat yang biasanya untuk menaruh barang-barang itu. Kereta Mesir memang penuh dengan perjuangan.  Agak bingung sebetulnya, kalo mereka tiduran diatas situ, terus orang-orang akan menaruh barangnya dimana coba? Egois banget ih.
“Ji, itu masih kosong tuh. Mau disitu nggak lu? Ntar keburu diambil orang lain” kata Afif.
“Iya bentar. Inih gue mau loncat”
Haap!!
Voila, ada kingkong tiduran diatas para penumpang-penumpang lain.
Inih kenapa labil banget sih gue LL
Perjalanan dari Kairo-Alexandria adalah sekitar 5 jam. Dan Alhamdulillah, gue tidur diatas situ kurang lebih tiga jam. Enak. Nikmat. Tapi kalo difikir lagi, sepertinya hanya gue yang non-Mesir yang tiduran diatas sana. Dan paling besar kayaknya. Malu sendiri gue, tapi mau lagi. Eheuheuheu.
Mungkin itu perjalanan paling aneh, tapi mengasyikan yang pernah gue alami sejauh ini. Semoga nanti bisa lebih aneh lagi. Bhak.